by Aditya Eka Prawira

Detoks Tubuh? Tak Ada Gunanya, Lho!

  • Fit
  • 0
  • 07 Okt 2013 14:49
Bagi kebanyakan orang, detoks sering dianggap sebagai sebuah tindakan mengeluarkan `racun` dari dalam tubuh. Sebenarnya, istilah detoks sendiri pada ilmu kedokteran jarang sekali digunakan. [Baca juga: `Green Smoothie` atau Jus Sayur Bukan Pengganti Makan, Ya!]

Dokter Spesialis Penyakit Dalam General Internist Rumah Sakit Siloam TB Simatupang Jakarta, dr. Jimmy Tandradynata, SpPD menuturkan, salah kaprah ini terjadi karena orang sering menganggap tubuh memproduksi racun setiap hari, atau mendapatkan racun itu dari makanan, asap rokok, dan lain-lain, sehingga perlu dilakukan dilakukan detoks.

[Baca juga: Buang Racun di Lever dengan Terapi Puasa Jus 7 Hari]

"Sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Setiap detik metabolisme tubuh akan menghasilkan zat sisa metabolisme, yang tidak lagi digunakan dan perlu diekskresikan (dibuang) ke luar tubuh. Jika zat sisa berlebih dan menumpuk, tentu akan menimbulkan penyakit. Untung, pada individu yang sehat, zat-zat tersebut akan dikeluarkan dengan mudah oleh hati, ginjal, paru, bahkan kulit. Bahkan tanpa bantuan detoks tersebut," kata dr. Jimmy Tandradynata, SpPD, saat diwawancarai tim Health Liputan6.com, ditulis Senin (7/10/2013)

Menurut Jimmy Tandradynata, memang ada kalanya tubuh memerlukan bantuan medis untuk mengeluarkan racun tersebut. [Baca juga: Cuci Usus, Bikin Langsing Sekaligus Cegah Kanker Usus]

Contohnya, dalam kasus keracunan makanan. Bila ini terjadi, maka dapat dilakukan pemasangan nasogastric tube (selang makan yang dimasukkan melalui hidung ke lambung) pada pasien untuk mengeluarkan racun dari lambung. Atau, pasien dapat diberi obat yang dapat mengikat racun tersebut di saluran cerna. [Baca juga: Cara Gampang Detoks Sendiri di Rumah]

"Pada kondisi pasien gagal ginjal, sisa metabolisme tidak dapat diekskresikan oleh ginjal, sehingga perlu bantuan mesin hemodialisis (cuci darah)," tambah pria berkulit cerah ini.

[Baca juga: 5 Peluruh Racun Tubuh]

Lebih lanjut Jimmy mengatakan, pada kasus pasien yang terkena gigitan ular, dapat diberi antidot untuk mengikat racun bisa pada ular. Kondisi seperti ini, disebut Jimmy sebagai kondisi patologis sehingga tubuh memerlukan bantuan untuk mengeluarkan racunnya.

"Pada kondisi normal, tentu tindakan detoks tidak ada gunanya. Bahkan tindakan detoks yang beredar di masyarakat tidak didasarkan pada bukti ilmiah, sehingga manfaat dan bahkan risikonya tidak diketahui," pungkas dia.

(Adt/Abd)


Related Articles
Comments
Sign in to post a comment