Sukses

Garam Akan Diganti Vetsin di Rumah Sakit

Pemerintah saat ini sedang mengupayakan agar masyarakat membatasi konsumsi gula, gram, dan lemak untuk mengurangi kasus penyakit tidak menular. Tak terkecuali untuk para pasien di rumah sakit. Sebagai gantinya, digunakan bumbu penyedap atau vetsin.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (26/6/2013), menjelaskan, garam dan monosodium glutamat (MSG) pada vetsin, memiliki kandungan sama yaitu natrium.

Natrium sering dikaitan dengan masalah hipertensi dan sebagainya. Sehingga mungkin untuk tetap memberikan rasa pada makanan, vetsin digunakan sebagai pengganti garam di rumah sakit.

"Saya rasa selama MSG itu dibatasi, itu aman. Kita tidak perlu khawatir dengan isu efek buruk dari MSG. Dan ini tidak mengganggu keseimbangan gizi. Jika hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kelebihan garam, tidak jadi masalah" jelasnya.

Prof Ali menjelaskan, dulu pernah ada istilah Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Mengapa demikan? karena ketika itu, peneliti mengamati ada gejala yang dialami orang-orang yang kelebihan MSG setelah makan di restoran China seperti pusing, pegal dan sebagainya.

"Saat ini WHO dan kementerian kesehatan juga sudah membolehkan penggunaan bahan makanan ini asal tidak berlebihan," ungkapnya.

Prof Ali menjelaskan batas maksimal konsumsi MSG menurut WHO adalah 6 gram per hari sedangkan menurut peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88, penggunaan MSG maksimal 5 gram per hari. Tapi Prof. Ali menyarankan untuk mengonsumsi tidak lebih dari 2 - 4 gram per hari. "Ini cukup untuk batas konsumsi msg per hari".

Terkait dengan kasus alergi akibat MSG, Prof Ali menyebutkan, tidak ada kaitan antara alergi dan MSG. "Saya tidak melihat aspek mengarah ke sana. Namun ada beberapa pasien yang harus diawasi. Misal ada pasien dengan penyakit tertentu yang harus makan rendah garam, berarti ia juga harus rendah MSG".

(Fit/Abd)