by

Benjolan di Leher Anna Marlina Akibat Tiroid Berujung Maut

  • Info Sehat
  • 0
  • 23 Apr 2013 13:46
Seorang pasien Anna Marlina Simanungkalit (38) didiagnosis menderita pembengkakan kelenjar tiroid hingga harus menjalani operasi sebanyak dua kali. Namun, sebulan usai menjalani perawatan Anna mengembuskan napas terakhir.

Sebenarnya, di leher Anna ada benjolan dalam tiga tahun belakangan. Namun, Anna baru datang ke rumah sakit pada Rabu 20 Februari 2013. Menurut suami Anna, Pandapotan Manurung, usai mendaftarkan diri ke loket di sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Timur, keduanya diarahkan ke poli bedah untuk menemui dokter bedah. Sampai di ruangan, dokter memeriksa dengan hanya meletakkan tangannya ke arah benjolan di leher istrinya.

"Istri saya diminta menelan ludah agar diketahui apakah sakit saat menelan. Setelah itu dokter langsung mendiagnosis, istri saya menderita gangguan pada kelenjar tiroidnya", ujar Pandapotan, saat ditemui  di kediaman orangtuanya di Jalan Pancawardi, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa(22/ 4/13).

Setelah itu, kata Pandapotan, dokter menyarankan operasi pengangkatan benjolan. Dan Pandapotan menanyakan risiko pascaoperasi yang bisa muncul. Menurut dokter pasien hanya perlu meminum obat seumur hidup. Tapi jika tidak dioperasi, risiko lebih tinggi.

Saat itu dokter mengatakan, tiroid akan berkembang menjadi kanker dan dapat menjalar ke bagian tubuh lain. Selain itu, tubuh bakal melemah jika melahirkan dan anak yang dilahirkan akan cebol. "Karena itu, saya dan istri saya akhirnya setuju operasi", ungkapnya.

Sebelum menjalani operasi, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan dan menyatakan istrinya siap dioperasi. Namun, operasi yang dilakukan pada (11/3/2013) itu tanpa didampingi dirinya karena sedang mengurus KJS (Kartu Jakarta Sehat).

"Saya datang saat operasi sudah selesai. Saya hanya bertemu petugas kamar di IBS dan memberikan botol kecil yang berisi seperti gumpalan daging untuk diserahkan ke laboratorium yang ada di rumah sakit. Petugas juga memberitahu, istri saya sudah dipindahkan ke ruang rawat dan kondisinya tak sadarkan diri," katanya.

Pandapotan mulai bingung karena sejak selesai operasi hingga istrinya siuman, dia tidak mendapatkan penjelasan apa pun dari dokter. Sampai akhirnya, Anna mengeluhkan sakit di sekitar leher hingga tak bisa makan atau minum.

"Itu sampai 3 hari. Dokter jaga dan suster bilang itu efek dari operasi," ungkapnya.

Bukannya sembuh, rasa sakit yang dirasakan istrinya malah makin parah. Pandapotan akhirnya memaksa bertemu dokter yang menangani istrinya untuk meminta penjelasan tentang kondisi istrinya. Saat bertemu, dokter bilang harus dilakukan operasi kedua karena yang pertama gagal akibat bekuan darah yang menutup saluran tiroid.

"Selesai operasi kedua, dokter bilang pascaoperasi pertama pengangkatan tiroid saluran makan dan pernapasan menjadi tipis. Jadi saat memberikan makan setelah operasi leher jadi sakit dan akhirnya saluran makan putus," jelasnya.

Ia mengatakan, dokter juga memberitahu kalau tiroid yang diderita istrinya sudah menjadi kanker ganas dan telah melekat pada saluran makan dan pernapasan.

Kondisi Anna pun semakin menurun. Pandapotan mengirim surat ke pihak rimah sakit. Dokter akhirnya mengadakan pertemuan dengan keluarga dan pihak rumah sakir berjanji akan mendatangkan dokter RSCM untuk merawat Anna.

"Saya sempat minta istri saya dipindahkan saja karena fasilitas di rumah sakit tidak memadai. Tapi, tidak diizinkan dan tetap meyakinkan kami akan ada dokter RSCM yang datang," lanjutnya.

Namun, dokter itu tak kunjung datang dan kondisi Anna semakin memburuk serta koma. Sampai akhinya, Anna meninggal pada Rabu (23/3/2013).

"Sampai kondisi istri saya koma dan semakin kritis hingga akhirnya meninggal pihak RS tak juga menepati omongannya", tandasnya. (Ahm/Mel)
Comments
Sign in to post a comment