by Aditya Eka Prawira

Maddie, Kisah Penculikan Anak Paling Fenomenal

  • Info Sehat
  • 0
  • 06 Feb 2013 12:14
Kasus penculikan anak terjadi hampir di seluruh dunia. Anak-anak korban penculikan ada yang bisa ditemukan dan banyak juga yang tak ditemukan sampai saat ini hingga membuat orangtua si anak mengalami pukulan yang sangat berat.

Salah satu kisah penculikan anak yang paling fenomenal adalah Madeleine McCann. Kisah Maddie menjadi cerita menakutkan buat para orangtua di dunia.

Gadis cilik kelahiran Inggris, 13 Mei 2003 ini tiba-tiba saja menghilang pada tanggal 3 Mei 2007. Kala itu Maddie (sapaan Madeleine McCann) bersama kedua orangtuanya tengah berlibur di Portugal, Spanyol.

Maddie adalah anak pasangan Gerald Patrick McCann (Gerry) dan Kate Marie, yang mana keduanya berprofesi sebagai dokter.

Menurut berbagai sumber, Kate dan Gerry mengatakan kalau keduanya sempat meninggalkan Madeleine bersama kedua saudara kembar yaitu Sean dan Amelie di kamar tidur penginapan. Waktu itu Kate dan suami hendak pergi sejenak untuk membeli makanan di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari penginapan tersebut. Begitu kembali Maddie sudah hilang.

Sampai hari ini, terhitung sudah 5 tahun lebih Maddie menghilang dan belum ditemukan juga keberadaannya.

Pihak kepolisian terus berusaha mencari di mana keberadaan Madeleine McCann dan menyelesaikan kasus ini sampai tuntas. Foto-foto Maddie dengan perkiraan usia saat ini terus disebar.

Kisah penculikan Maddie diulas begitu global karena terjadi di antara 2 negara dan diduga menjadi korban perdagangan anak. Orangtuanya hingga kini terus mencari dan mendirikan website FindMadeleine.

Menurut Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) M Ishan ketika dihubungi Liputan6.com, Rabu (6/2/2013), di luar negeri banyak anak-anak yang jadi korban penculikan dijual dengan harga mahal untuk pengasuhan, eksploitasi ekonomi, seksual, pornografi, sampai penjualan organ tubuh yang bernilai ratusan juta rupiah.

Kasus di China Bayi yang Sengaja Dijual

Baru-baru pihak kepolisian China berhasil menyelamatkan 15 orang bayi dari para sindikat perdagangan manusia yang telah membeli bayi-bayi tersebut dari para orangtua bayi-bayi tersebut.

Seperti dilansir ShanghaiDaily.com, Rabu (6/2/2013), para orangtua tersebut menjual bayi-bayinya dengan harga berbeda tiap bayinya.

Menurut pihak kepolisian, untuk bayi perempuan para orangtua menjualnya dengan harga 10.000 yuan atau Rp 15,5 juta dan untuk bayi laki-laki dijual dengan harga 30.000 yuan atau Rp 46,5 juta.

Dalam penangkapan kasus penculikan di provinsi Guangdong pada 5 Februari 2013 itu, salah satu bayi ditemukan tewas dan sebanyak 27 orang tersangka ditangkap pihak kepolisian. Dari hasil yang didapat, bahwa bayi-bayi itu berusia di bawah 1 tahun. Bayi yang paling muda berusia 10 hari.

Setelah berhasil menyelamatkan bayi-bayi tersebut, pihak kepolisian masih mengejar para orangtua dari bayi-bayi itu yang rata-rata melarikan diri dan meninggalkan rumah untuk mencari pekerjaan baru.

Tapi, pihak kepolisian sudah berhasil menangkap dan menahan tiga orang ayah dari bayi tersebut.

Modus penculikan bayi di Indonesia

Menurut KPAI, angka penculikan bayi menurun 3 tahun terakhir karena modus penculikan bergeser pada upaya meminta bayi secara baik-baik dari orang tuanya dengan janji palsu akan mengasuh dan membesarkan dengan baik.

"Pergeseran modus ini terjadi karena penculikan beresiko tinggi berhadapan dengan kepolisian. Sedangkan dengan meminta baik-baik, orang tua tidak akan melapor ke polisi kehilangan bayi, sehingga data perdagangan bayi dengan modus seperti ini tidak tercatat di kepolisian atau lembaga terkait," terang Sekretaris KPAI, M Ishan, kepada Liputan6.com, Rabu (6/2/2013).

Beberapa modus baru untuk menculik bayi, versi KPAI :

1. Trafiker (sindikat perdagangan bayi) keliling mengamati klinik dan mengindefikasi ibu miskin yang sedang hamil, didekati hampir seperti saudara, diberi bantuan, dan setelah melahirkan minta agar anaknya diasuh olehnya.

2. Trafiker (sindikat perdagangan bayi) keliling ke panti asuhan untuk berpura-pura mencari anak yang bisa diasuh.

3. Mendatangi daerah 'pakumis' (padat, kumuh, dan miskin) untuk membujuk orang tua agar anak-anaknya diasuh oleh mereka.

"Setelah anak didapatkan, trafiker kerjasama dengan bidan atau calo yang bisa membuat surat keterangan lahir dengan mencantumkan nama yang ditunjuk sebagai orang tua bayi untuk mengurus akte kelahiran dan paspor anak," papar Ihsan. (Adt/Igw)
Comments
Sign in to post a comment