Suami Suka Seks Anal, Istri Bisa Kena Kanker Anus

  • Seks
  • 0
  • 04 Feb 2013 11:21

sex121217c.jpg
Seorang wanita umur 35 tahun dirawat karena terjadi perdarahan melalui saluran cerna yang bertambah berat sejak 1 minggu terakhir. Pasien ini menyampaikan bahwa sejak 3 bulan terakhir sering mengalami BAB darah menetes.

Pasien menyangka bahwa keluhan BAB darah itu berasal dari gangguan ambiennya saja. Pasien juga  mengeluh berat badannya turun dalam 1 bulan terakhir.

Pada pemeriksaan fisik  dilakukan colok dubur dan ternyata teraba adanya benjolan pada perbatasan antara dubur dan rektum (poros usus). Pada pasien ini dilakukan peneropongan saluran cerna bawah (kolonoskopi) dan ternyata ditemukan adanya tumor pada  perbatasan anus dan rektumnya. Tumor  ini  berbenjol-benjol dan  mudah berdarah.

Hasil biopsi mendapatkan sel-sel kanker pada benjolan tersebut. Pada wawancara selanjutnya ternyata terungkap bahwa pasien ini sering melakukan anal sex dengan suaminya atas permintaan suaminya dan ini berlangsung sejak sejak 10 tahun terakhir.
 
Kanker usus besar  merupakan penyakit kanker yang paling banyak ditemukan di tengah masyarakat dan juga salah satu penyebab kematian terbanyak karena kanker. Kanker anus berbeda dengan kanker usus besar karena lebih jarang ditemukan. Kanker anus sendiri terjadi pada 1,5 % kanker saluran cerna.  

Di Amerika kanker anus ini meningkat seiring dengan perilaku seksual yang terjadi di tengah masyarakat baik pada laki-laki maupun perempuan.

Gejala utama pasien dengan kanker anus adalah:

- BAB berdarah
- Nyeri di dubur atau anus saat BAB
- Keluar lendir atau seperti jelly pada anus atau rasa gatal pada anus.

Sedang gejala kanker usus besar adalah:

- Adanya Buang Air Besar (BAB) ada darah
- Gangguan pola BAB, bisa berupa diare kronik atau susah BAB atau
- Adanya perubahan pola BAB yaitu kadang diare kadang –kadang malah susah BAB.

Pasien dengan kanker usus besar  bisa saja datang dengan adanya benjolan. Kadang-kadang pasien tidak mengeluhkan adanya benjolan tetapi benjolan ditemukan saat dilakukan pemeriksaan. Pasien bisa saja datang ke rumah sakit karena pucat tanpa keluhan perdarahan. Pada kanker anus pasien merasakan sakit saat buang air besar atau terasa gatal  disekitar dubur.
 
Melalui pemeriksaan colok dubur dokter  dapat mengetahui apakah memang terdapat massa atau benjolan pada rektum atau sekitar anus  atau apakah saat itu pasien masih mengalami BAB darah dengan ditandai adanya sarung tangan dengan sisa darah setelah dilakukan colok dubur tersebut. Sebenarnya kejadian tumor pada anorektal dan dialami wanita usia 35 tahun termasuk jarang.
 
Faktor risiko kanker anus termasuk juga kanker anorektal adalah iritasi kronis pada dubur, infeksi kronis dengan virus human pappiloma (HPV). Infeksi HPV ini berhubungan dengan penyakit infeksi tertular melalui hubungan seks, riwayat tukar menukar pasangan hubungan seks, riwayat kanker serviks atau vagina, penggunaan obat-obat penekan daya tahan tubuh (imunosupresi) dan perokok.

Wanita juga lebih berisiko untuk terjadinya kanker anus dibandingkan pria, penyakit ini juga berisiko pada laki-laki dengan perilaku anal sex.
 
Kembali lagi pada pasien di atas, jenis kelamin wanita dan kebiasaan anal sex merupakan risiko terjadinya kanker anus pada pasien tersebut.

Anal sex  akan menyebabkan iritasi kronis pada dubur akibat perilaku seksual tersebut . Secara fungsi memang dubur hanya untuk mengeluarkan kotoran sehingga tidak siap jika sebagai tempat untuk melakukan hubungan seksual.
 
Kasus ini mengingatkan kita semua bahwa perilaku seksual anal sex bukan merupakan perilaku seksual yang aman. Anal sex akan menyebabkan gangguan kesehatan yang ringan sampai berat berupa terjadinya kanker anus. Kasus ini telah mengingatkan kita bahwa anal sex merupakan perilaku seks yang berisiko tinggi.

Penulis
dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, KGEH,
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM

Terpopuler