Sukses

Sering Dengar Bisikan Gaib di Telinga Bisa Pertanda Gangguan Jiwa

Bisikan-bisikan gaib yang kerap terdengar di telinga membuat orang berpikir macam-macam dan berbau mistis. Sama halnya jika seseorang kesurupan. Jika mendengar suara-suara aneh itu jangan diabaikan.

dr Dinda Meraih Gelar Medical Bachelor, Bachelor of Surgery (M.B.B.S) dan Merampungkan Program Post Graduate Obstetric and Gynecology di Suzhou University, Suzhou, China pada 2014. Lalu Menjadi Dokter Adaptasi di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.

Liputan6.com - Jakarta Bisikan-bisikan gaib yang kerap terdengar di telinga membuat orang berpikir macam-macam dan berbau mistis. Sama halnya jika seseorang kesurupan. Jika mendengar suara-suara aneh itu jangan diabaikan begitu saja. Soalnya, kondisi abnormal seperti itu bisa menjadi gejala gangguan jiwa.Contohnya saja yang dialami Dedi Bukhori (19) yang meninggalkan keluarganya sejak Agustus 2012. Pria yang didiagnosa mengalami gangguan jiwa itu mempunyai riwayat mengalami gangguan dengan mendengar bisikan-bisikan aneh di telinganya pada saat duduk di kelas 2 SMP. Hilangnya Dedi membuat keluarganya yang di Sumedang kelimpungan. Ternyata Dedi ditemukan Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa I, di Kalideres, Jakarta. Saat ditemukan Dedi mengalami gangguan jiwa. Ia mengaku sebagai Ariel Peterpan kekasih Luna Maya. Pria yang aslinya dari Sumedang itu juga mengatakan kalau dirinya dari Bandung. Sebelum dipindahkan di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa, Dedi sempat dititipkan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya III Jakarta Barat. Kini, kondisi Dedi sudah membaik meski harus rutin mengonsumis obat.Psikolog Baharudin Tantoso SPsi, MM, mengatakan seseorang yang mengalami halusinasi patut diwaspadai. Soalnya, halusinasi menjadi salah satu gejala gangguan jiwa yang bisa dideteksi."Sebenarnya sebelum seseorang mengalami hal yang bersifat psikotik (gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yang terjadi) seperti halusinasi atau waham, ada beberapa gejala yang dapat dideteksi," kata pria yang juga sebagai konselor di Panti Sosial kepada Liputan6.com, Kamis (19/12/2012).Baharudin membaginya menjadi dua gejala:1. Perubahan perilaku yang biasanya periang dan suka bergaul tiba-tiba berubah menjadi penyendiri2. Sering mengalami kondisi abnormal seperti mendengar suara-suara yang orang lain tidak mendengar (kesurupan).Sementara untuk anak-anak, lanjut Baharudin, bila orangtua menemukan perilaku yang menunjukkan gejala yang tidak normal seperti tingkah pola hiperaktif, kenakalan yang berlebihan, mudah marah bahkan suka memukul, gejala tersebut jangan dianggap remeh. "Jika kondisi ini masih dapat ditangani, misalnya dengan menasihati anak dan kemudian ada perubahan sikap maka cara pengasuhan tersebut dapat dilanjutkan," katanya.Baharudin mengimbau, jika hal ini terus terjadi maka patut dicurigai sebagai gejala awal gangguan mental. Selain itu, orang yang mengalami gangguan jiwa perlu penanganan khusus seperti terapi ke psikolog atau penanganan oleh dokter ahli jiwa.PengobatanDr. Kartika Muchtar SpKJ menjelaskan, untuk penanganan masalah gangguan mental dilakukan dengan pengobatan secara teratur dan berkelanjutan. Penyakit gangguan mental merupakan salah satu penyakit yang mudah kambuh."Proses perawatan penyakit gangguan mental ini tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, bahkan butuh waktu bertahun tahun untuk memulihkan kondisi penderita. Selain itu, kebanyakan orang berpikir penderita gangguan mental yang sudah berangsur membaik bisa menghentikan proses pengobatan. Padahal anggapan itu salah. Alasannya, sistem kerja otak pada orang dengan gangguan mental itu sudah tidak lagi dapat mengatur bagaimana cara berpikir yang benar".Kartika mengatakan, perawatan bagi penderita gangguan mental juga bisa dengan terapi yang merangsang sensorik serta motorik penderita. "Misalnya terapi aktivitas kelompok seperti terapi mengenal diri, rehabilitasi mental misalnya dengan melukis, menjahit, bermusik dan membuat kerajinan tangan".(MEL/IGW)

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini