by

Australia Karantina Peternakan yang Terindikasi Flu Burung H7

  • Info Sehat
  • 0
  • 16 Nov 2012 16:50
Liputan6.com, Sydney: Wabah flu burung yang paling mematikan (patogenik) menyerang Australia dalam 15 tahun. Ini membuat Australia harus memusnahkan 50 ribu ayam, meskipun mereka tidak tahu apa yang menyebabkan kasus pada peternakan telur di New South Wales.

Departemen Industri Pokok Australia atau The Department of Primary Industries (DPI) mengatakan, seluruh ayam di Maitland, 160 kilometer utara Sydney, akan dihancurkan karena terdeteksi virus H7.

Subtipe H7 diketahui sangat patogen untuk burung, namun tidak terkait dengan galur H5N1, yang terdeteksi pertama kali pada 1997 di Hong Kong dan menyebabkan ratusan orang meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Hewan DPU Ian Roth mengatakan serangan virus H7 tidak berisiko terhadap keamanan makanan dari unggas dan telur. Pemilik perternakan yang terinfeksi telah dikarantina para ahli untuk menemukan sumber virus, yang sering terjadi pada burung-burung liar.

"Ini biasanya menyebar dengan pergerakan burung dari peternakan dan belum tentu dari mereka," kata Roth seperti dikutip dari Reuters, Jumat (16/11/2012).

"Kami sedang dalam proses dengan pelacakan dan juga pengawasan di daerah, dan sejauh ini pelacakan terlihat baik. Belum banyak potensi penyebarannya," ujar Roth.

Kementerian Pertanian Australia melaporkan wabah tersebut kepada Badan Kesehatan Hewan Dunia atau Office Internationale Epizootic (OIE) di Paris. Federasi Daging Ayam Australia mengatakan, industri menghasilkan 1,12 juta ton per tahun, senilai 1,9 miliar dolar Australia, sebagian besar digunakan untuk dalam negeri, dan lima persen lainnya diekspor.

"Jepang melarang impor unggas dan telur dari Australia setelah terjadinya wabah," kata Kementerian Pertanian Australia dalam sebuah pernyataan, Kamis malam.

Dalam pernyataan tersebut dijelaskan, Jepang mengimpor 0.9 ton daging pada 2011 dan 1,9 ton pada 2009. Impor telur mencapai 2,1 ton selama tiga tahun sebelum tahun lalu. Jepang meminta otoritas Australia untuk memberikan penjelasan terperinci tentang wabah tersebut.
  
Direktur Eksekutif Federasi Daging Ayam Andreas Dubs mengatakan sebagian besar ekspor yang dilakukan adalah untuk makanan hewan peliharaan, sementara ceker ayam diekspor ke beberapa negara dan dimakan oleh manusia. Perkiraan Pemerintah Resmi Australia menyebutkan, sekitar 41 ribu ton ayam akan di ekspor sampai 30 Juni 2013.

Tujuan ekspor utama adalah Hong Kong, Papua Nugini, Filipina, Vietnam, dan Afrika Selatan. Produsen biasanya mengeluarkan 1 dolar Australia per kilogram untuk produk ayam.

Banyak negara termasuk Jepang, memiliki langkah-langkah otomatis untuk menghentikan impor ketika terjadi wabah flu burung dan mereka akan mendiskusikannya dengan otoritas Australia untuk memeriksa apakah wabah terkandung dalam barang dan ekspor dapat dikembalikan.

"Ini adalah hal yang normal bagi setiap negara, bila terbukti terserang wabah, sejumlah negara memiliki persyaratan yang bebas. Ini adalah reaksi jangka pendek saat ini, tidak benar-benar menjadi perhatian jangka panjang bagi kami," kata Dubs.

Seorang pejabat mengatakan, Korea Selatan yang mengimpor 5,2 ton unggas Australia tahun lalu, sedang melakukan pengkajian.

"Kementerian sedang mendiskusikan apakah akan melarang impor unggas dari Australia, meskipun jumlahnya kecil. Setelah meninjau masalah ini, kami akan mengambil tindakan keamanan dan kebersihan," kata seorang pejabat dari divisi kebijakan karantina Kementerian Pertanian di Korea Selatan Chang Jae hong.

Hong Kong belum mengeluarkan larangan impor. Biro karantina Cina juga belum mengeluarkan larangan, tetapi para analis mengatakan Cina bukan importir utama Australia.

Australia menghadapi wabah flu burung pada Februari, yang menyebabkan larangan ekspor produk unggas Australia ke Jepang, namun saat itu bukan virus yang patogen.

Kebanyakan virus flu burung tidak menyebabkan penyakit pada manusia. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan, setidaknya satu jenis H7 strain, subtipe H7N7 dapat menginfeksi manusia bahkan membunuhnya, tetapi dampak pada manusia cenderung ringan.(ANT/MEL)
Comments
Sign in to post a comment