Sukses

Mengenal Selfitis, Kebiasaan Selfie yang Termasuk Gangguan Mental

Liputan6.com, Jakarta Beberapa tahun lalu, heboh diberitakan bahwa kecenderungan seseorang berswafoto atau selfie akan diklasifikasikan ke dalam gangguan mental oleh American Psychiatric Association. Klaim tersebut hanyalah berita hoax semata.

Tapi rupanya perilaku obesesif berswafoto tetap menggelitik ilmuwan untuk meneliti hal itu. Peneliti dari Nottingham Trent University bekerja sama dengan Thiagarajar School of Management melakukan riset terhadap selfitis dan faktor-faktor pemicunya.

Menurut para psikolog, selfitis adalah kondisi mental yang membuat seseorang merasa perlu terus-menerus melakukan swafoto atau selfie dan mengunggahnya di media sosial.

Tak hanya meneliti, para ahli pun telah mengembangkan Skala Perilaku Selfitis (Selfitis Behaviour Scale) untuk mengetahui seberapa parah kondisi pelaku, melansir laman New York Post, Senin (18/12/2017).

Mereka yang yang mengalami selfitis umumnya melakukan itu guna mendongkrak rasa percaya diri, untuk mendapat perhatian, memperbaiki mood, menyimpan kenangan, menunjukkan grup sosial, serta menjadi kompetitif secara sosial. Skala tersebut memuat ukuran satu hingga 100 dan dibuat berdasarkan penelitian terhadap kebiasaan selfie 200 orang dari India.  

 

Saksikan juga video berikut ini: 

 

 

 

1 dari 2 halaman

Kenapa India?

India dipilih sebagai negara untuk penelitian kebiasaan selfie atau selfitis karena di sana memiliki pengguna Facebook terbesar serta angka kematian tinggi akibat swafoto di lokasi berbahaya.

"Meski dulu kabar bahwa selfitis akan diklasifikasikan dalam gangguan mental hanyalah hoax semata, bukan berarti kondisi tersebut tak nyata. Kini kami mengonfirmasi keberadaannya dan mengembangkan skala kebiasaan selfitis untuk mengukurnya," ujar Dr Mark Griffiths, profesor perilaku adiksi di Nottingham Trent University.

Menurut Dr Janarthanan Balakrishnan, rekan Dr Griffiths, pelaku selfitis umumnya memiliki rasa percaya diri yang rendah dan berusaha mencari cara agar diterima oleh lingkungan. Gejala yang ditimbulkan pun kemungkinan serupa dengan perilaku adiktif.

"Kami berharap penelitian lanjutan bisa dilakukan untuk lebih memahami bagaimana dan kenapa individu sampai mengembangkan kecenderungan obsesif ini dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu mereka," ujar Dr Balakrishnan.

Artikel Selanjutnya
Waspada Kebaikan Palsu Predator Seks di Depan Anda dan Anak
Artikel Selanjutnya
Melawan Aturan dan Menyakiti Hewan, Tanda Anak Psikopat?