Sukses

Tak Punya Kaki, Ni Made Ratni Kini Sukses Jadi Atlet Rugby

Liputan6.com, Jakarta Terlahir dengan kondisi kelainan tulang pada kedua kaki, Ni Made Ratni, 24, kini sukses jadi atlet rugby, yang mewakili Indonesia di kancah internasional.

Tahun 2018 mendatang, ia akan bergabung dengan Tim Rugby Kursi Roda New South Wales, Australia. Nama Ratni pun semakin berkibar di antara jejeran atlet rugby disabilitas. 

Wanita muda kelahiran Gianyar, 20 Desember 1993 ini awalnya tidak tahu soal rugby. Pada 2014 silam, tawaran ikut seleksi masuk tim rugby disabilitas kursi roda datang dari temannya, yang bekerja di Bali Sports Foundation.

Walaupun tidak tahu soal rugby, Ratni mencoba ikut seleksi masuk tim rugby. Ia tertarik ikut seleksi karena seleksi tersebut akan menerbangkan atlet yang lolos seleksi untuk tanding di Korea Selatan.

"Saya coba ikut seleksi saja. Soalnya yang lolos bakal ikut tanding ke Korea Selatan. Saya ini penggemar Korea. Poster-poster soal Korea banyak saya tempel di dinding di rumah. Akhirnya saya lolos seleksi. Dan sejak saat itu, saya terjun di olahraga rugby," ucap Ratni sambil tersenyum saat ditemui di Kedutaan Besar Australia, ditulis Sabtu (16/12/2017).

Debut awal di Korea Selatan tersebut membuat Ratni semakin menikmati dunia rugby. Baginya, rugby termasuk olahraga yang sangat menantang karena selalu bertabrakan dengan pemain lawan.

Sensasi "tabrakan" inilah yang membuat Ratni jatuh cinta dengan rugby. Berkat kegigihan dan prestasi dalam rugby, ia pun terpilih menjadi kapten Tim Rugby Kursi Roda Indonesia.

Selain sebagai atlet rugby, Ratni ternyata pernah ikut tanding sebagai anggota Tim Basket Kursi Roda pada Juli 2017. Yang paling mengejutkan, hanya tiga hari latihan, ia bersama temannya langsung terpilih menjadi anggota Tim Basket Kursi Roda.

 

 

Simak video menarik berikut ini:

1 dari 3 halaman

Kaki diamputasi

Sebelum diamputasi, Ratni sangat sulit bergerak. Ia harus dibantu dengan orang lain. Kedua kakinya sudah memburuk sejak ia berusia 13 tahun.

"Jadi kaki saya menekuk ke depan. Normalnya, kan kaki menekuk ke belakang. Kalau saya justru menekuk ke depan. Pas usia 13 tahun sempat diterapi dan dibawa ke dokter. Tapi kata dokter sudah telat, enggak bisa diapa-apain lagi (disembuhkan)," kenang Ratni dengan nada sedih.

Kala itu, Ratni berada di antara dua pilihan. Kembali menjalani operasi atau amputasi kedua kakinya. "Kalau operasi, kaki saya hanya akan lurus terus, nanti kayak robot. Kalau potong kaki (amputasi), saya kehilangan kedua kaki."

Sebenarnya, Ratni sudah menjalani operasi untuk menyembuhkan kelainan tulang pada kakinya pada 2009. Namun kondisinya semakin memburuk.

Selama satu bulan berpikir, Ratni pun memutuskan untuk amputasi. Dia melakuan operasi pada 2010 di Singapura. 

Keputusan untuk amputasi juga tidak mudah. Orangtua sempat tidak setuju.

"Akhirnya, ada donatur sponsor dari Prancis. Dia angkat saya jadi anak dan mengajak saya amputasi ke Singapura. Setelah potong kaki itu saya sempat tinggal beberapa bulan untuk memulihkan tubuh dengan donatur dari Prancis itu. Dia tinggalnya juga di Bali. Sekarang, setelah saya sembuh, kembali tinggal sama orangtua kandung," cerita Ratni.

Aksi Ni Made Ratni saat tanding rugby. (Ni Made Ratni)

Atas kebaikan donatur dari Prancis, Ratni masih menjalin komunikasi dengan sang donatur.

Kedua kaki Ratni yang diamputasi, kini justru membuat dirinya bebas bergerak menggunakan kursi roda atau kruk. Ia pun mulai bangkit menata hidup dan percaya diri. Bagi Ratna, ia tidak mau berlama-lama merepotkan orangtua. Ia bisa berpindah ke manapun dengan sendiri.

2 dari 3 halaman

Cedera pinggang

Selama tanding rugby, Ratni pernah beberapa kali cedera. Waktu bertanding di Bali, ia mengalami cedera pinggang. Tabrakan yang terjadi membuat pinggangnya tertarik. Ia pun harus beristirahat selama beberapa minggu. Tak hanya dirinya saja yang cedera. Teman Ratni juga mengalami cedera parah.

"Ada teman saya yang tulangnya sampai patah. Dia harus istirahat selama enam bulan. Yang pasti lamanya istirahat karena cedera tergantung cederanya juga. Kalau parah, ya bisa berbulan-bulan," ujar Ratni.

Ratni juga pernah mengalami cedera punggung saat tanding rugby. (Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

Cedera memang tak lepas dari kehidupan atlet. Meskipun begitu, Ratni tetap mempertahankan hidup sehat. Ia punya latihan khusus sendiri tiap pagi agar otot lengan tidak kaku.

Posisi Ratni di lapangan sebagai high pointer, yang bawa-bawa bola termasuk menantang. Ia harus siap ditabrak. Jadi, latihan khusus sendiri tiap pagi rutin ia lakukan.

Artikel Selanjutnya
Sunoto Vs Rin: Sang Terminator Optimistis Menang
Artikel Selanjutnya
137 Atlet Indonesia Resmi Jadi PNS