Sukses

Dua Pasien Difteri Dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung

Liputan6.com, Bandung Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung merawat dua pasien difteri. Pasien berusia 13 tahun asal Kabupaten Bandung Barat telah dirawat selama tiga hari, sedangkan pasien berusia 12 tahun asal Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, telah dirawat selama tiga minggu. Keduanya dinyatakan positif terjangkit difteri usai dilakukan pemeriksaan intensif di ruang isolasi infeksi tropis.

Sebelumnya, pasien difteri asal Kabupaten Bandung Barat datang sudah dalam keadaan sesak napas, sehingga harus dibuat lubang napas (trakeostomi) buatan di tenggorokan. Lubang napas buatan itu berguna juga untuk mengeluarkan selaput kuman difteri yang menyumbat pernapasan, berakibat pembengkakan di leher (bull neck).

Menurut Kepala Divisi Infeksi Tropis Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Djatnika Setiabudi, sementara pasien asal Kabupaten Purwakarta datang tidak dalam gejala awal difteri, seperti sakit tenggorokan, sakit saat menelan, demam tidak lebih dari 38 derajat, suara parau, sesak napas, serta leher bengkak. Namun, terdapat riwayat dugaan penyakit difteri dalam keluarganya.

"Tetapi yang menunjukkan kemungkinan difteri itu sebelumnya adiknya meninggal karena gejala-gejalanya sangat mirip dengan penyakit difteri. Jadi, itu lebih menduga lagi seperti tadi saya katakan, kalau ada gejala-gejala seperti tadi dan di sekitar rumah atau teman sekolahnya ada gejala-gejala yang mirip, itu lebih waspada lagi jangan-jangan itu pasti difteri," kata Djatnika Setiabudi di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Jalan Pasteur, Bandung, Kamis (7/12/2017).

Djatnika Setiabudi mengatakan, kemungkinan besar dalam dua hari mendatang, pasien asal Kabupaten Purwakarta akan diperbolehkan pulang dari ruangan isolasi infeksi tropis. Hal itu disebabkan, kata Djatnika, hasil dua kali pemeriksaan laboratorium menyatakan sudah negatif terjangkit difteri.

Djatnika menjelaskan, pasien asal Kabupaten Bandung Barat masih harus dilakukan perawatan medis lanjutan, seperti menambal lubang buatan di tenggorokan untuk melancarkan napas serta mengambil selaput kuman bakteri difteri.

Saksikan juga video menarik berikut:

 

1 dari 2 halaman

Ruangan isolasi

Dia menyebutkan, perawatan yang diberikan untuk kedua pasien difteri itu ialah dengan diisolasi di tempat khusus agar tidak menular, pemberian antidifteri serum agar kuman yang menghasilkan racun mati, serta obat antibiotik agar bakteri difteri tidak menyebar dalam tubuh.

"Kalau sangat sesak diberikan treostomi kalau sudah ada kelainan ke jantung, itu ada obat khusus untuk mengurangi komplikasi ke arah situ," ujar Djatnika.

Rumah Sakit Hasan Sadikin menyatakan peningkatan jumlah pasien difteri sejak 2015 sampai 2017. Pada 2015 tercatat lima pasien difteri dirawat, 2016 sebanyak 6 pasien, dan 2017 baru mencapai 11 pasien. Mayoritas pasien difteri yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin berasal dari Kabupaten Purwakarta.