Sukses

Menelisik Reaksi Masyarakat Atas Kasus Setya Novanto

Liputan6.com, Jakarta Kecelakaan yang dialami Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto menuai reaksi dari netizen dan masyarakat. Sayangnya, tidak banyak respons yang menunjukkan simpati atas kejadian ini.

Dosen di Swiss German University yang juga psikolog Elizabeth Santosa menyebutkan reaksi masyarakat kerap kali mengerikan. 

"Fokus saya dalam menilai Setya Novanto ini, bukan lagi soal benar atau tidak dia kecelakaan. Melainkan reaksi dari masyarakat yang cukup ngeri, dan kepercayaan yang begitu rendah. Sehingga orang yang sering ketahuan bohong, ketahuan curang, akan sulit mendapatkan kepercayaan dari masyarakat di kemudian hari," kata psikolog Elizabeth Santosa saat dihubungi Health Liputan6.com pada Jumat, 17 November 2017.

Ketika masyarakat percaya pada pemimpinnya, bukan celaan atau risakan yang diterima pemimpin tersebut ketika dia jatuh sakit. Orang-orang akan mendoakan dengan sepenuh hati, dan tidak akan membuat sesuatu yang kalau dilihat-lihat tentu saja sangat menyakitkan.

 

1 dari 3 halaman

Mudah keluarkan unek-unek

"Masyarakat kita kalau tidak suka sama orang, dengan mudah mengeluarkan unek-uneknya. Bagaimana kalau ternyata yang menimpa Setya Novanto itu beneran? Atau beliau ngomong apa saja, kayaknya sudah tidak dianggap," kata Elizabeth.

Elizabeth menilai, secara psikologis, kepemimpinan Setya Novanto sangat buruk. Sebab, kepercayaan masyarakat terhadapnya sudah sangat rendah. "Reputasi beliau sudah sangat buruk," kata dia menekankan.

Kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan pemerintahan selama ini sudah terlalu besar. Namun, gara-gara kasus Setya Novanto ini, masyarakat Indonesia mudah sekali mengambil satu kesimpulan yang disebut dengan generalisasi tergesa-gesa.

 

2 dari 3 halaman

Tidak Semua

Tidak semua elite politik seperti Setya Novanto. Tidak semua anggota dewan adalah koruptor. Akan tetapi, karena yang sering muncul di permukaan adalah orang-orang seperti Novanto ini, orang jadi memukul rata, kata Elizabeth.

"Sehingga merusak seluruh nama pejabat pemerintahan. Dari ilmu logika, masyarakat sudah punya kesimpulan yang sama," kata Elizabeth Santosa.

Menurut Elizabeth Santosa, tingkat kepercayaan itu masih ada kalau saja orang-orang (pejabat) yang bersalah berani mengaku kesalahan dan siap menerima sanksi yang diberikan.

"Katakan yang sebenarnya. Kalau A ya A, kalau B ya B. Konsisten. Jika dia konsisten, masyarakat kita tidak akan seagresif ini, dan tidak akan diolok-olok lagi," kata Elizabeth.