Sukses

Upaya Pemkab Batang Cegah HIV/AIDS yang Mencapai 900 Orang

Liputan6.com, Batang-Jawa Tengah Tingginya penderita HIV/AIDS di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang mencapai 917 orang menjadi keprihatinan Pemkab Batang. Hal ini membuat pemkab menganggarkan Rp 600 juta melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Batang.

“Tiap tahun kita selalu ada peningkatan anggaran untuk penanggulangan AIDS, di tahun 2017 kita anggarkan Rp 500 juta dan tahun 2018 dianggarkan Rp 600 juta. Hal ini sebagai bentuk komitmen pemkab untuk memerangi dan menaggulangi bahaya penyakit masyarakat, yaitu HIV/AIDS," ucap Wakil Bupati Suyono, Senin, 13 November 2017.

Menurut dia, tingginya angka penderita HIV/AIDS di Kabupaten Batang tidak bisa di tanggulangi sendiri oleh Pemkab, tapi harus ada peran yang sama dari pihak LSM atau kelompok-kelompok masyarakat yang peduli dengan penanggulangan HIV/AIDS.

“Kita akan tingkatkan sosialisasi untuk memproteksi warga masyarakat agar jangan sampai melakukan seks bebas, sehingga kita akan terjamin kesehatan dan penyakit HIV/AIDS dan masyarakat Batang bisa hidup sehat tanpa HIV/AIDS,” dia menambahkan.

Di sisi lain, pemkab juga menutup lokalisasi dan membangun yang lebih bermanfaat untuk mengurangi penyakit, serta menggencarkan sosialisasi.

“Lokalisasi di Banyuputih kita sudah tutup dan di area itu juga akan digunakan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat, kita juga akan gencar melakukan sosialisasi kepada warung remang-remang untuk beralih profesi dalam mencari ekonomi," jelasnya.

 

Simak video menarik berikut:

 

1 dari 2 halaman

Komitemen Pemkab lebih ditingkatkan lagi

Sementara itu, Sekertaris KPA Provinsi Jawa Tengah Zaenal Arifin mengatakan, kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es, sehingga kami harapkan kepada Pemerintah Kabupaten Batang untuk menguatkan kembali komitmen terhadap pencegahan penanggulangannya.

“Kami inginkan komitmen pemkab lebih ditingkatkan lagi, mengingat HIV/AIDS di Batang sudah 917 orang, ini hanya bisa di lakukan oleh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seluruh ormas dan komunitas supaya bergerak bersama dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS," ucap Zaenal Arifin.

Ia menegaskan, jika pencegahan dan penanggulangan merupakan sebuah gerakan dari semua elemen masyarakat, hal ini agar penjangkauan kasus yang belum terbongkar bisa dibongkar.

“Gerakan ini supaya epidemik HIV/AIDS bisa lebih cepat kita setop, bukan tahun 2030 tapi maksimal 2025 sudah kita setop," ungkapnya.

Dalam penanggulangannya, KPA provinsi juga sudah melakukan koordinasi dengan lintas sektor, seperti Pelabuhan Tanjung Emas, dan Pelabuhan Cilacap yang merupakan pintu-pintu masuknya orang yang sedikit banyak membawa penyakit kita sudah berikan sosialisasi.

“Kepada TKI yang pra dan pasca-penempatan, tempat karaoke kita lakukan sosialisasi dan tes HIV/AIDS supaya tidak menyebar," kata dia.

Ia juga menyatakan, Kabupaten Batang masuk dalam urutan ketiga kasus HIV/AIDS setelah Semarang dan Kabupaten Grobogan. 

Menurut Sekretaris KPA Kabupaten Batang Mudhofir, selama ini KPA telah memberdayakan masyarakat untuk bisa memahami dalam memberikan informasi yang benar soal HIV/AIDS.

“Kita terus melakukan sosialisasi dan sekaligus kita tes darah agar diketahui status mereka kena apa tidak, kalau ditemukan akan kita obati dan kita beri konselor dan bagi yang negatif untuk dapat mempertahankan agar tidak menularkan karena ketidaktahuannya," Mudhofir memungkasi.

Artikel Selanjutnya
Jumlah Korban Gigitan Anjing Rabies di Bengkulu Berkurang
Artikel Selanjutnya
Berkat Tanaman Anti Nyamuk, Kemenkes Raih Rekor MURI