Sukses

Agus C Anab Belajar Bedah Tumor Otak Lewat Alis Mata dari Penemu

Liputan6.com, Jakarta Untuk menguasai metode operasi keyhole (operasi lubang kunci) melalui alis mata pada pasien tumor otak, dr Agus Chairul Anab (50) belajar langsung dari sang penemu (pioneer), Axel Perneczky. dr Aca, sapaan akrabnya yang kini tergabung dalam Comprehensive Brain and Spine Centre National Hospital belajar teknik tersebut di Jerman selama tiga bulan.

Awal mula dr Aca tertarik mendalami metode keyhole saat menghadiri workshop Axel di Singapura pada 2008. Seketika itu, dr Aca, yang pada tahun tersebut masih bertugas di RSUD Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur sangat tertarik terhadap operasi tumor otak menggunakan metode keyhole.

“Soalnya belum banyak yang belajar tentang metode keyhole. Bahkan di Asia saja belum banyak dokter bedah saraf yang mengetahui teknik ini. Metode keyhole justru banyak dikembangkan di Eropa, seperti Jerman dan Prancis. Di sana masyarakatnya lebih memperhatikan kecantikan. Apalagi bekas operasi akan tersamarkan dengan alis mata,” kata dokter spesialis bedah saraf ini saat berbincang dengan Health Liputan6.com di redaksi Liputan6.com, SCTV Tower, Senayan, Jakarta, Jumat (13/10/2017).

Penggunaan metode keyhole awalnya terlihat agak sulit, tapi hal tersebut bisa dipelajari. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada 2012, workshop metode keyhole digelar di Indonesia. Yang menjadi narasumber adalah Nicolay Hofp, murid didikan Axel.

Workshop yang digelar di Bandung, Jawa Barat, membuka peluang besar bagi dr Aca. Ia segera mengajukan permintaan magang di Stuttgart, Jerman, untuk mempelajari lebih dalam operasi tumor otak melalui alis mata. Pada Maret-Juni 2012, dr Aca terbang ke Jerman.

“Di sana saya belajar metode keyhole dari penemunya langsung, Profesor Axel. Istilahnya pionirnyalah,” ucap dr Aca sambil tersenyum.

 

 

 

Simak video menarik berikut ini:

 

1 dari 8 halaman

Kendala bahasa

Selama tiga bulan di Jerman, dr Aca mengakui, kendala bahasa menjadi hal yang dialami. Ini karena lebih banyak masyarakat yang menggunakan bahasa Jerman daripada bahasa Inggris.

“Staf di sana lebih banyak pakai bahasa Jerman. Yang pakai bahasa Inggris tidaklah banyak. (Hanya) Profesor Axel dan perawat yang bisa bahasa Inggris,” tutur dr Aca sambil terkenang masa-masa magang di Jerman.

Dokter Aca, panggilan akrabnya belajar Ooperasi tumor otak menggunakan metode keyhole hingga ke Jerman. (Liputan6.com/Helmi Affandi Abdullah)

Walaupun terkendala bahasa, dr Aca menjalani hari-hari dengan baik. Ia bergaul dengan teman-teman dari Indonesia yang tengah belajar di Jerman.

“Ada beberapa teman juga orang Indonesia yang saya kenal. Teman-teman saya ada yang menempuh S2 atau S3 di sana. Saya juga ikut komunitas orang Indonesia. Jadi, tidak merasa kesepian banget pas weekend,” ucap dokter, yang tinggal di Surabaya itu.

2 dari 8 halaman

Penerapan keyhole pertama kali

Ilmu yang dipelajari dr Aca selama di Jerman membuahkan hasil. Sepulang dari Jerman, dr Aca langsung mempraktikkan metode keyhole pada pasien-pasiennya di RSUD Saiful Anwar.

Operasi tumor otak menggunakan metode keyhole cukup dengan sayatan pada alis mata. Melalui sayatan sebesar 1 sampai 2 cm ini tumor yang berada di dasar atau tepi otak, dekat dengan saraf mata diangkat.

“Sepulang dari Jerman, saya praktik langsung metode keyhole di RS Saiful Anwar. Pertama kali melakukan operasi metode keyhole, hasilnya ya Alhamdulillah baik. Tapi pada awal-awal operasi butuh waktu lama sampai 10 jam operasi. Tidak bisa langsung cepat 4 atau 5 jam saja,” ujar dokter kelahiran Surabaya, 23 Juli 1967.

Ketika pertama kali melakukan operasi tumor otak dengan metode keyhole ini ada ketakutan tersendiri terkait keberhasilan operasi. Namun, persiapan diri dr Aca sebelum operasi bisa mengatasi rasa ketakutan tersebut.

“Yang penting itu, mental sudah siap. Sebenarnya, sebelum saya operasi menggunakan metode keyhole. Saya juga melakukan operasi dengan buka kepala. Intinya sudah familiar dengan area otak. Jadi, teknik operasi keyhole ini saya membutuhkan penyesuaian ke tekniknya,” ucap dr Aca.

Sebelum dipraktikkan kepada pasien, dr Aca berlatih metode keyhole pakai cadaver (mayat yang digunakan untuk medis). Latihan menggunakan cadaver ini membuat dr Aca lebih berani dalam menangani pasien.

“Saya latihan keyhole pakai cadaver. Tanpa cadaver, ya tidak berani (operasi ke pasien),” kata dr Aca sambil tersenyum.

3 dari 8 halaman

Pasien paling berkesan

Bagi dr Aca, kesembuhan pasien yang mengidap tumor otak termasuk hal yang membahagiakan. Lina Hariani (56) asal Sidorjo adalah salah satu pasien yang ditangani dr Aca. Ia melakukan operasi tumor otak pada 2014.

“Sebelum operasi, Bu Lina tidak bisa lihat uang dari nominal angka. Hanya uang kertas senilai Rp 100.000 dan Rp 50.000 yang bisa  dilihatnya. Gangguan saraf mata ternyata dari tumor otak. Setelah dioperasi Bu Lina membaik. Dia bisa melihat semua uang lagi. Ini suatu kebahagiaan buat saya kalau pasien sudah sembuh,” ungkap dr Aca dengan wajah terharu.

Pasien tumor otak yang ditangani dokter Aca pun pulih kembali. (Liputan6.com/Helmi Affandi Abdullah)

Pulihnya pasien adalah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Tumor otak termasuk penyakit, yang ditakuti orang. Diagnosis sangat mudah karena keberadaan tumor terdeteksi dengan CT scan dan MRI (Magnetic resonance imaging), lanjut dr Aca.

Namun, teknik operasi akan susah. Kalau saraf mata sudah pucat, penglihatan tidak bisa pulih. Jika pasien memeriksakan dari awal, penglihatan akan jauh lebih baik setelah oeprasi.

Untuk itu, dr Aca menyarankan, gejala pusing dan nyeri kepala segera cek. Ini bisa menjadi pertanda adanya tumor otak.

4 dari 8 halaman

Geluti bidang bedah saraf

Keberhasilan dr Aca belajar menggunakan metode keyhole melalui alis mata dalam operasi tumor otak tak lepas dari motivasi dan ketertarikan di dunia bedah saraf. Sebelum praktik sebagai dokter bedah saraf, dr Aca pernah bekerja sebagai dokter umum di puskesmas keperawatan selama dua tahun (puskesmas tempat rawat jalan dan rawat inap) di Surabaya pada 1994.

Dokter yang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya ini juga pernah ditugaskan ke Gresik bagian utara tahun 1996. Waktu itu, dr Aca melihat, ahli bedah saraf di Gresik bagian utara masih sangat jarang.

Pasien yang mengalami gangguan saraf harus dirujuk ke rumah sakit di Surabaya.

“Itu kan sangat jauh dari Surabaya. Kalau tidak ditangani dengan baik, pasien bisa cepat meninggal. Itulah alasan kenapa saya memilih bedah saraf,” ucap dr Aca, yang menghabiskan waktu enam tahun menempuh spesialis bedah saraf.

Kekurangan jumlah dokter bedah saraf menjadi alasan dr Aca menekuni spesialisasi bedah saraf. Dr Aca termasuk urutan 115.

“Di Indonesia, dokter bedah saraf ada 300 orang. Beda dengan Jepang, ada 7.000 bedah saraf. Di Papua, tidak ada dokter bedah saraf. Ada 12 provinsi di Indonesia yang tidak ada dokter bedah saraf,” ucapnya.

Setelah lulus sebagai dokter bedah saraf. dr Aca mulai bekerja di RSUD Saiful Anwar di Malang pada awal 2006. Ia bekerja selama tahun tahun. Setelah itu dr Aca baru pindah bertugas ke Comprehensive Brain and Spine Centre National Hospital hingga sekarang.

5 dari 8 halaman

Tetap fit berolahraga

Di sela-ela kesibukan dr Aca menangani pasien, ia tetap rajin berolahraga. Sebagai dokter bedah saraf, dr Aca menilai, badan harus fit. Tenis, pingpong, dan gol rutin selama dua kali seminggu.

“Kalau tidak sempat melakukan itu (tenis, golf), ya jalan kaki. Pokoknya harus olahraga. Badan saya jadi lebih sehat. Hasil pemeriksaan kesehatan tiap tahun juga sehat. Jantung, hati, ginjal, paru-paru sehat semua,” ucap dr Aca.

Meski sibuk, dokter Aca juga punya aktivitas yang dilakukan di waktu luang. (Liputan6.com/Helmi Affandi Abdullah)

Tidak ada pantangan makanan untuk dr Aca. Ia mengakui, ia sangat suka makan. Namun, ia menghindari makanan yang manis—walaupun tidak ada riwayat diabetes dan kolesterol.

6 dari 8 halaman

Aktivitas waktu luang

Ketika punya waktu luang dan sedang libur bertugas, dr Aca punya aktivitas yang disukainya. Ia lebih banyak bergelut di organisasi dan kegiatan sosial.

“Kalau weekend, saya suka kasih edukasi di acara-acara seminar soal saraf dan tumor otak. Misalnya, seminar soal hal tersebut untuk 200 orang awam. Saya juga aktif berkegiatan sosial di yayasan dan beberapa lembaga, lembaga pendidikan, SD, SMP, dan SMA,” tambah bapak dari 5 anak ini.

Selain itu, ia juga meluangkan waktu dengan keluarga dan anak-anak. Anak-anak cukup paham saat bapaknya sibuk.

“Saya pikir, memang harus ada waktu prime time (khusus) buat keluarga. Kalau dibilang sibuk ya benar, saya ini termasuk sibuk,” tawa dr Aca.

7 dari 8 halaman

Dorongan orangtua

Kesuksesan dr Aca berkat dorongan orangtua. Lahir dari ibu, yang berprofesi guru SD dan bapak, yang menggeluti dunia angkatan laut, dr Aca sudah bercita-cita menjadi dokter sejak kecil.

“Yang mendorong saya untuk sekolah tinggi itu ibu. Ini motivasi dari orangtua. Saya juga berpikir,  kalau jadi dokter itu bisa mengobati banyak orang,” kenang dr Aca.

Dokter Aca tertarik menggunakan metode keyhole karena teknik ini masih jarang dilakukan di Indonesia. (Liputan6.com/Helmi Affandi Abdullah)

Dari perjalanan hidupnya, dr Aca juga menyarankan agar generasi muda, jangan lupa belajar setinggi-tingginya. Punya visi ke depan dan tidak boleh gampang menyerah.

Artikel Selanjutnya
Virus Zika Berpotensi Bunuh Sel Kanker Otak Ganas
Artikel Selanjutnya
Idap Demensia Langka, Pelatih Ski Ini Butuh Perawatan 24 Jam