Sukses

Antara Hidup dan Mati, Curhat Trigel Saat Vespanya Diseruduk Truk

Liputan6.com, Jakarta Trigel, si penjelajah Papua dengan Vespa tua, masih melanjutkan petualangannya. Dari kabar yang diterima Health-Liputan6.com, Kamis (19/10/2017), wanita yang memiliki nama lengkap Trigel Astari Trianida ini bakal melanjutkan solo riding ke suku Asmat yang berlokasi di kabupaten Agats, perbatasan antara Timika dan Merauke.

Perjalanan Trigel bersama 'Melty', skuter merah kesayangannya, bukan hal yang baru ia lakukan. Sebelum ngider-ngider ke ujung timur Indonesia, tahun lalu Trigel juga berhasil menjejakkan dua roda Vespa super keluaran tahun 1973 itu di ujung barat Indonesia. Ia menghabiskan waktu sekitar 2 tahun untuk menempuh perjalanan Jakarta-Sabang-Jakarta.

Banyak manfaat yang dirasakan ketika ia naik motor skuter sendirian ke berbagai kota di Indonesia. Menurut Trigel, ia bisa mengenal lebih dekat siapa dirinya. Lalu, ia mampu melawan emosinya sendiri. Terakhir, ia juga bisa menaklukkan dan melawan takut. Saat ke Sabang, wanita berhijab ini menceritakan hanya membawa uang Rp1 juta. 

"Jadi ada dua pilihan orang riding, mau ke barat atau ke timur? Kalau ke timur, rutenya bagus untuk refreshing. Seluruh jalan yang kita lalui itu akan menawarkan keindahan yang tak pernah saya temui sebelumnya. Kalau ke barat, Sumatera dan sekitarnya, rute dan medannya jauh lebih sulit. Banyak orang menyebut rute ini sebagai track uji nyali dan menguatkan mental," beber Trigel, saat dihubungi pada Senin (16/10/2017).

Uji nyali yang ia maksud adalah, rute lintas Sumatera adalah jalur yang sangat berat. Jalannya curam, medan tanjakannya sangat banyak, dan kiri-kanan dikepung hutan. Belum lagi ia harus meningkatkan kewaspadaan agar tidak dicegat oleh para begal dan kawanan bajing loncat.

"Jakarta-Papua kurang lebih 5500 kilometer. Itupun kebanyakan menyeberangi laut. Sementara Jakarta-Sabang hanya 3.375 kilometer. Tapi, saya full di aspal, (melewati) hutan lindung, hutan sawit, dan lainnya. Pernah ya selama lebih dari delapan jam perjalanan, masih belum beranjak dari hutan," lontar Trigel.

 

Saksikan juga video berikut ini: 

1 dari 4 halaman

Menuju 0 Kilometer

Perjalanan menuju 0 kilometer spontan ia lakukan. Ceritanya, waktu itu ia dan anggota Ladiescoot Veronicaa, mengunjungi sebuah event KBSS (Kumpul Bareng Skuteris Sumatera).

"Berhubung sudah sampai Palembang dan melewati Lampung, saya pikir kenapa tidak sekalian saja diteruskan sampai Sabang? Lagipula saya sudah menempuh 900 km perjalanan. Tanggung kan kalau harus balik lagi ke Jakarta? Waktu itu saya izin ke ibu, hanya pergi selama 5 bulan," ceplosnya.

Izin pun turun. Trigel dengan senang hati melanjutkan perjalanannya. Ia melewati jalur Palembang-Riau-Medan-melewati lintas timur-Aceh.

"Lama perjalanan aku naik motor dari Jakarta ke Aceh, kurang lebih sebulan. Sekalian deh saya mengetes kekuatan mesin motor, pengetahuan di jalanan, cara bertahan hidup, silaturahmi dengan komunitas (pecinta) Vespa di sepanjang rute Sumatera. Sekaligus memantau seberapa irit Vespa ini di jalanan. Alhamdulillah, lumayan irit. Isi full, 30 ribu," papar wanita yang pandai mereparasi Vespa yang ingin terjun balapan profesional di Sentul ini. 

Trigel bahkan sempat singgah ke Danau Toba sebelum melanjutkan jalan menuju Titik Nol Kilometer. 

 

 

2 dari 4 halaman

Diseruduk Truk, Trigel dan Vespa miliknya tak berbentuk

Sebelum berkendara jauh, Trigel pasti mengecek keadaan 'Melty'. Mulai cek kelayakan kendaraan, servis besar, ganti oli, dan lainnya. Selama di perjalanan, Trigel mengisi full tangki bensin Vespa-nya empat jam sekali. Safety riding jelas ia utamakan. Tidak ada yang pernah tahu bagaimana kondisi di jalan raya. Selain berusaha menjaga keamanan diri dan kendaraan, Trigel pun mewaspadai opsi apes lain yang bisa terjadi: menabrak dan ditabrak.

Trigel tak pernah memaksakan skuter tuanya terus melaju, terutama ketika kondisi badannya letih dan matanya mengantuk. Sampai di suatu pagi, ada peristiwa yang tak akan ia lupakan sepanjang sejarah hidupnya.

"Ceritanya saya lagi dalam perjalanan pulang, dari Sabang menuju Jakarta. Saya ingat betul, saya melewati Riau pukul 07.30 pagi. Tiba-tiba saya diseruduk oleh truk fuso besar. Saya dan 'Melty' jatuh terseret beberapa meter. Saat jatuh, saya bertanya di dalam hati, 'Apakah petualangan saya berakhir di sini?'. Yang jelas punggung saya terluka parah dan saya lalu pingsan," ungkapnya.

Sekadar ilustrasi, rute lintas Sumatera memang rute yang dlintasi oleh bus-bus antarkota, truk besar, sampai truk gandeng. Jalanan yang lengang membuat para pengendaranya tergoda untuk memacu kencang kendaraan. Bahkan dari obrolan yang Trigel dengar, ada semacam pameo yang beken di kalangan supir truk. Trigel melanjutkan, mereka lebih baik nabrak sampai meninggal, ketimbang nabrak namun berakhir cacat.

"Bukan sekali dua kali saya jatuh dari Vespa. Namun saya merasa banyak hoki setelah mengendarai Melty. Saat saya jatuh ke kiri, badan enggak bisa bergerak. Kaki saya patah. Menurut warga yang menolong, saya sempat pingsan dari setelah kecelakaan sampai jam 17.00 sore," paparnya.

 

3 dari 4 halaman

Motor ringsek dan nyaris batal Lebaran bersama Ibu

Ketika mengalami kecelakaan itu Trigel ditolong oleh warga setempat. Namun yang membuatnya terkejut, tidak terlihat ada dokter dan suster ketika ia siuman. Ia bahkan tak berada di rumah sakit. 

"Begitu saya bangun, ternyata ada di rumah seorang warga. Seorang bapak yang berbaik hati, menolong saya. Hal yang membuat saya takjub adalah bapak tersebut bisa meluruskan kembali kaki saya yang patah. Bapak itu juga bisa menyembuhkan luka parah yang menyobek sepanjang bagian punggung saya," Trigel menceritakan pengalamannya.

Tak berhenti sampai di situ keajaiban yang dirasakan Trigel. Jika biasanya korban kecelakan menghabiskan waktu berminggu-minggu, Trigel hanya perlu tiga hari untuk pulih.

"Luar biasa, hanya 3 hari seluruh luka saya sudah kering," jelas Trigel masih setengah tidak percaya bahwa ia masih bisa menikmati matahari pagi.

Beberapa teman komunitas Vespa yang dekat dari lokasi kejadian datang membesuknya. Jangan tanya kondisi Melty, sudah jelas hancur tak berbentuk karena dilindas truk.

"Saya ingat, waktu kecelakaan itu bulan puasa dan saya telah berjanji sama Ibu untuk bisa Lebaran bersama keluarga di rumah. Tapi apa daya, saya tak bisa pulang membawa Melty. Akhirnya motor saya titip di tempat teman-teman Skuteris Riau, dan saya tetap Lebaran di Jakarta naik pesawat," curhat Trigel menutup kisah pilunya di jalanan.

Artikel Selanjutnya
Truk Kontainer Picu Tabrakan Beruntun, 5 Orang Tewas