Sukses

Bahas Masalah Anak, 21 Remaja Sodorkan 9 Rekomendasi Kreatif

Liputan6.com, Jakarta Tepat di Hari Peringatan Anak Perempuan Sedunia, sebanyak 21 remaja dari 12 propinsi di Indonesia berkumpul membahas masalah anak dan perempuan di Indonesia. Hasilnya, anak usia 15-19 tahun ini menyodorkan sembilan rekomendasi untuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

Rekomendasi dari anak-anak yang mengikuti kegiatan Sehari jadi Menteri diterima Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA, Lenny Rosalin.

"Terimakasih atas rekomendasi ini. Sembilan rekomendasi ini akan disampaikan ke Ibu Menteri Yohana Yembise. Dan berdasarkan pengalaman kami di tahun lalu, kami, deputi-deputi terkait langsung menindaklanjuti rekomendasi," kata Lenny di Kantor Kementerian PPPA pada Rabu (11/10/2017).

Anak 15-19 tahun yang mengikuti kegiatan Sehari Jadi Menteri memberikan sembilan rekomendasi program terkait masalah anak dan perempuan kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Wanita berkacamata ini juga mengapresiasi rekomendasi yang memang khas anak muda. Salah satu cirinya ada beberapa rekomendasi program dengan singkatan menarik.

Misalnya rekomendasi program NEW alias No Exploitation to Women sebuah gerakan baru untuk tidak mengeksploitasi perempuan dan anak perempuan. Ada juga SERAK alias Sekolah Keterampilan untuk Anak yang Terpinggirkan.

Lalu, dalam rekomendasi tersebut juga disebutkan cara menjalanankan program. Mulai dari menggunakan kekuatan tanda pagar di media sosial terkait setop perkawinan anak. Ada juga memberikan edukasi kesehatan reproduksi yang melibatkan anak-anak berbakat di bidang teater, musik, komik.

"Ada beberapa istilah baru ya di rekomendasi ini. Nah ini bedanya kalau anak muda yang memikirkan, jadi ide kreatif," tutur Lenny.

Saksikan juga video menarik berikut:

 

1 dari 2 halaman

Rekomendasi remaja akan masalah anak dan perempuan

Berikut sembilan rekomendasi anak-anak muda ini terkait masalah anak dan perempuan yang ada di Indonesia:

1. Mendorong presiden  menindaklanjuti peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) Pencegahan Perkawinan Usia Anak dan membuat Peraturan Menteri (Permen) serta merekomendasikan kepada setiap daerah untuk membuat Perda, Pergub, Perwali dan Perdes tentang pendewasaan usia perkawinan.

Didukung pula dengan gerakan 10.000 hashtag (tanda pagar) dan 5.000 surat yang dilakukan masyarakat.

2. Ketegasan hukum saat menangani kasus kekerasan seksual dengan mendorong Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual(RUU PKS) segera disahkan.

3. Melibatkan seluruh lapisan masyarakat menyebarkan edukasi yang tepat tentang menstruasi. Hal ini dilakukan  untuk menghindari bully yang disebabkan oleh kesadaran rendah mengenai menstruasi. Serta edukasi mengenai nutrisi untuk ibu hamil guna menanggulangi kematian kepada ibu dan anak yang terdampak perkawinan usia anak.

4. Memanfaatkan akses digital dan non digital ramah anak (yang telah disaring oleh KPI). Di dalamnya  memperlihatkan bahaya perkawinan usia anak dan pornografi.

5. Membuat program TVMas (Tim Evaluasi masyarakat) sebagai wadah independen membantu pemerintah untuk mengevaluasi:

a) Perda/ Perbup/ Perdes pencegahan perkawinan usia anak

b) Kabupaten/ Kota Layak Anak (KLA)

c) Pelayanan kesehatan

d) Akta kelahiran yang sudah ada yang didukung fakta dan data.

6. Mendukung parlemen muda dan pelatihan kepemimpinan untuk perempuan sejak dini. Sehingga dapat menjadi kepala daerah, anggota parlemen dan menteri.

7. Memberikan kesempatan kepada korban pernikahan usia anak agar dapat berkembang, berpendapat, serta memutuskan. Dengan cara membuat program untuk mendorong korban kembali bersekolah.

8. Pemerataan dan penguatan Pusat Pembinaan Keluarga dan Perlindungan Anak Terintegrasi Berbasis Masyarakat untuk mencegah perkawinan usia anak dengan:

a) program “SERAK” (sekolah keterampilan untuk anak yangterpinggirkan dengan cara membuat pelatihan untuk menambahketerampilan dan kemampuan kewirausahaan)

b) Program NEW (No exploitation to women) gerakan baru untuk tidak mengeksploitasi perempuan dan anak perempuan dengan cara mengombinasikan kegiatan seni dan edukasi tentan pernikahan usia anak.

c) “PEKAN KREATIF” melibatkan komunitas dengan menyelipkan seni budaya

9. Bekerjasama dengan tokoh keagamaan dan adat dalam mensosialisasikan pendidikan kesehatan reproduksi (Kespro) yang komprehensif dan pencegahan perkawinan usia anak di komunitas dan sekolah dengan bekerjasama dengan anak yang memiliki bakat teater, puisi, musik, komik.

Saksikan Live Streaming Jakarta Fashion Week 2018

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Siapa Bilang Pemuda Disabilitas Tak Bisa Kerja?
Artikel Selanjutnya
Sambangi KWI, Mendikbud Bahas Kerja Sama Pendidikan Karakter