Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Sunat pada Anak Perempuan, Sebabkan Trauma Hingga Kematian

Liputan6.com, Jakarta Memperingati Hari Anak Perempuan Sedunia yang jatuh pada hari ini Rabu (11/10), salah satu isu yang banyak diangkat organisasi dunia adalah female genital mutilation (FGM - mutilasi alat kelamin wanita). Seringnya, praktik ini disebut sebagai sunat perempuan. 

Pernahkah Anda mendengar bahwa tak hanya anak lelaki yang mengalami pemotongan pada sebagian alat genitalnya, melainkan juga terjadi pada anak perempuan.  Sunat perempuan ini bisa memberikan dampak negatif pada anak perempuan, mulai dari trauma hingga risiko kematian.

Hari Anak Perempuan Sedunia merupakan momen yang tepat untuk melihat seperti apa kondisi memprihatinkan dari anak perempuan di berbagai negara, contohnya anak perempuan yang mengalami sunat layaknya anak laki-laki.

Mengutip laman Womens Health.gov, Rabu (11/10/2017), diperkirakan terdapat lebih dari 513.000 anak perempuan dan wanita yang mengalami sunat.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), FGM merupakan pemotongan sebagian atau total genital wanita pada organ genital wanita karena alasan nonmedis. FGM terkadang disebut "mutilasi alat kelamin wanita." Orang yang mempraktikkan FG Mbisa menyebutnya "sunat perempuan" walau cara kerjanya tidak sama dengan sunat laki-laki.

WHO membagi sunat perempuan ke dalam empat jenis, yaitu menghilangkan klitoris, menghilangkan klitoris dan labia, atau menjahit labia bersama untuk membuat lubang vagina lebih kecil, disebut sebagai infibulasi.

Dan yang keempat, semua sunat jenis lainnya yang menimbulkan kerusakan lain pada alat kelamin wanita untuk tujuan nonmedis, termasuk menusuk, memotong, menggores, dan melakukan kauterisasi (pembakaran).

 

Saksikan video menarik berikut :

 

1 dari 3 halaman

Tujuan sunat perempuan

Masing-masing komunitas dari setiap budaya memiliki alasan berbeda mengenai praktik sunat perempuan ini. Alasan tersebut seringkali dinilai rumit dan dapat berubah sewaktu-waktu. Penerimaan sosial dan tekanan dari keluarga agar diterima di komunitas tertentu merupakan beberapa alasan adanya praktik ini.

Beberapa alasan lain melakukan sunat perempuan yaitu.

1. Untuk memastikan wanita tetap perawan sampai menikah.

2. Faktor higienis. Beberapa komunitas percaya bahwa organ genital luar wanita dipotong agar bersih.

3. Ritual peralihan. Di beberapa negara, FGM adalah bagian dari ritual yang dialami seorang gadis untuk dianggap sebagai wanita.

4. Kondisi pernikahan. Di beberapa negara, seorang gadis disunat agar cocok untuk menikah.

5. Keyakinan bahwa FGM meningkatkan kenikmatan seksual bagi pria.

6. Tugas keagamaan, meski tidak ada teks suci agama yang mewajibkan FGM.

2 dari 3 halaman

Risiko melakukan sunat perempuan

Perempuan yang mengalami sunat akan mengalami masalah serius dengan kesehatannya. Berikut ini beberapa bahaya yang akan mengintai.

1. Nyeri hebat.

Anak perempuan biasanya tidak mendapatkan obat sakit sebelum atau setelah dipotong.

2. Perdarahan serius

3. Infeksi luka.

Anak perempuan bisa terkena demam, syok, dan bahkan mati jika infeksi tidak diobati.

4. Trauma

Anak-anak perempuan sering dilawan dengan keinginan mereka dan mungkin tidak mengerti mengapa.

5. Gangguan buang air kecil, termasuk timbulnya rasa terbakar dan nyeri.

6. Tetanus dan penyakit menular lainnya, seperti HIV, dari alat pemotong yang tidak steril

7. Kematian.

Pada jangka panjang, sunat perempuan dapat mengakibatkan infeksi, gangguan berhubungan seks, depresi dan kecemasan dan rasa sakit saat menstruasi.

Artikel Selanjutnya
Polisi Selidiki Kematian 49 Anak di Rumah Sakit India
Artikel Selanjutnya
Kesal Anak Alami Kekerasan Seksual, Pria Ini Tembak Mati Pelaku