Sukses

Kenapa Harus Ada Asia Pacific Food Forum?

Liputan6.com, Jakarta  

Sebagai wilayah terpadat di dunia, kawasan Asia Pasifik sedang berjuang memerangi upaya penggundulan hutan, polusi udara, kekurangan gizi dan meningkatnya emisi gas rumah kaca. "Situasi inilah yang melatarbelakangi munculnya Asia Pacific Food Forum (APFF) yang akan berlangsung pada 30-31 Oktober di Hotel Shangrilla, Jakarta,"ujar Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs Diah S Saminarsih di Jakarta, Senin (9/10).

Kementerian Kesehatan Indonesia dan EAT Foundation yang menjadi tuan rumah acara ini ingin mempercepat perubahan transformatif dalam sistem pangan global. "Karena itu tantangan-tantangan kesehatan, sistem pangan dan lingkungan hidup akan dibahas dalam forum ini,"ujar Diah.

Menurut Diah, Indonesia saat ini sudah berada pada jalur yang benar dalam mencapai target SDGs (Sustainable Development Goals). Banyak target SDGs sendiri behubungan dengan kesehatan. Karena itu oleh EAT ditawarkan sebuah terobosan untuk mengintervensi sistem pangan agar target kesehatan dapat tercapai. "Contohnya, kalau yang dimakan kurang baik, orang yang makan juga nggak sehat,"ujar Diah.

Lewat forum ini yang dipelopori oleh Indonesia, diharapkan bakal ada penyampaian hasil riset, tukar gagasan antar stakeholder skala regional maupun global dalam penyediaan pangan yang bergizi dan berkelanjutan.

"Setidaknya ada 20 pakar dari seluruh dunia di bidang kesehatan, makanan, sistem pangan, dan likungan hidup serta pembangunan dan sustainability dikumpulkan dalam forum ini untuk memberi masukan agar bisa diolah selanjutnya dalam riset maupun diterapkan di lapangan,"ujar Diah.

Diah menegaskan bahwa hasil forum ini tidak mengikat sekaligus tidak mengejar satu kesepakatan. Momen ini hanyalah forum diskusi berbentuk informal sehingga negara-negara di kawasan Asia Pasifik dapat belajar satu sama lain tentang intervensi sistem pangan yang bisa diterapkan untuk mengatasi persoalan pangan.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila F Moeloek bahkan menegaskan bahwa peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap isi piring mereka menjadi keharusan. Berubahnya gaya hidup dan meningkatnya tren penyakit tidak menular menjadi bukti ada yang keliru pada kebiasaan makan dan pengetahuan akan apa yang dikonsumsi.

 

Artikel Selanjutnya
Alasan Anggota DPR Tolak Keterlibatan Jack Ma Bantu Indonesia
Artikel Selanjutnya
Menlu Bishop: Australia Berkomitmen Atasi Perbudakan Modern