Sukses

Sulit Rajut Komunikasi dalam Rumah Tangga? Ini Solusinya

Liputan6.com, Jakarta Sewaktu pacaran, komunikasi antara pasangan sepertinya bukan suatu masalah. Tiba-tiba setelah menikah dan membina rumah tangga, komunikasi menjadi mandek. Apa yang terjadi? Kapan bantuan pihak ketiga dibutuhkan?

Situs perencanaan keluarga SKATA membahas ini bersama dengan Wawan Suwandi, Fasilitator Pria dari Yayasan Pulih secara live melalui Facebook SKATA pada Jumat (6/10/2017).

Budaya patriakhi ternyata salah satu hal yang melanggengkan pola komunikasi yang tidak setara antara suami dan istri. Sejak dilahirkan ke dunia ini, seorang bayi perempuan dan bayi laki-laki sudah dibedakan dan diharapkan untuk berbeda.

Laki-laki akan diasosiasikan sebagai sosok yang pemberani, kuat, pemimpin, pencari nafkah. Seorang perempuan diasosiasikan sebagai mahluk yang lemah, perlu dilindungi, menurut, dan nrimo. Budaya ini kemudian terus berlanjut ketika laki-laki dan perempuan menikah dan masing-masing menjalankan peranannya tersebut.

"Meski hal ini membudaya, namun bukan berarti hal ini tidak bisa diubah. Hal yang harus dilakukan adalah pasangan sebelum menikah sudah harus memiliki konsep mengenai pernikahan. Faktor terpenting dalam pernikahan adalah saling berbagi dan saling menghargai. Selain itu, hal penting lainnya adalah menjauhi kekerasan," ucap pria yang akrab disapa Jundi ini.

Selanjutnya rumah tangga harus didasari pada kepercayaan dan masing-masing dari pasangan memilliki komitmen untuk menghargai kepercayaan yang telah diberikan pada pasangannya.

 

 

Saksikan video menarik berikut :

 

1 dari 4 halaman

Berbagi beban tugas rumah tangga

Mulailah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah, terutama dalam pengasuhan.

Hal pertama yang harus disadari adalah ketika suami masuk dalam pernikahan, jangan menempatkan dirinya sebagai nomor satu. Suami harus terlibat dalam urusan domestik. Ada kerelaan dari sisi suaminya untuk mau berelasi setara.

Contohnya, pekerjaan domestik tidak hanya harus dikerjakan oleh istri. Namun bisa dikerjakan secara bersama-sama. Suami yang ingin membantu, tidak akan segan untuk berbagi tugas dengan istrinya.

2 dari 4 halaman

Metode komunikasi yang efektif dalam rumah tangga

Jundi menjelaskan beberapa metode yang efektif untuk membangun komunikasi dalam rumah tangga.

1. Adanya keterbukaan dari kedua belah pihak untuk menerima kritik.

2. Masing-masing pasangan berkomunikasi dengan cara yang sejelas-jelasnya. Sebuah permintaan atau usulan didasari dengan argumen dan alasan yang jelas. Sehingga tukar pikiran yang rasional dapat terjadi.

Contohnya adalah ketika membahas soal perencanaan keluarga. Seringkali berapa jumlah anak ditentukan secara sepihak oleh suami tanpa peranan istri, atau sebaliknya.

3. Pasangan perlu untuk mengkomunikasikan keinginannya dengan baik, untuk itu masing-masing pihak perlu untuk mencari informasi terkait hal-hal perencanaan keluarga yang perlu diperhatikan. Misalnya kesehatan ibu, jarak yang baik antara dua kelahiran, pengasuhan anak, keuangan keluarga, dan lain-lain.

 

3 dari 4 halaman

Curhat sebagai metode menurunkan tekanan darah

Pernikahan sebuah wadah yang menyatukan dua orang. Tidak jarang terjadi perbedaan ini berujung pada pertengkaran. Pernah dengar pesan jangan membawa masalah ke tempat tidur?

Konselor Jundi berpendapat, terkadang jeda dibutuhkan. Waktu me time dibutuhkan untuk menurunkan tensi. Curhat bisa membantu, namun perlu diperhatikan dua hal.

1. Harus cari teman curhat yang dapat menguasai emosi pribadinya sehingga tidak larut dalam masalah yang dihadapi dan malah berkesan mengompori.

2. Teman curhat dapat dipercaya tidak akan menyebarluaskan ini kepada orang lain.

Secara profesional, tidak ada salahnya meminta bantuan konselor jika dibutuhkan.

Saksikan Live Streaming Jakarta Fashion Week 2018

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Ini Dia Mitos dan Fakta Seputar Rumah Tusuk Sate
Artikel Selanjutnya
5 Tips Atur Uang bagi Pasangan Baru Seperti Raisa dan Hamish Daud