Sukses

Ini Bahaya dan Risiko Kehamilan di Usia Remaja

Liputan6.com, Jakarta Kehamilan remaja yang terjadi di bawah usia 16 tahun menimbulkan risiko berbahaya. Komplikasi penyakit setelah melahirkan bisa terjadi. Hal ini bisa memengaruhi kondisi fisik dan psikologis si ibu yang masih remaja.

Salah satu yang berbahaya dari kehamilan remaja, yakni anak yang dilahirkan berisiko stunting--kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Risiko stunting terjadi karena tidak adanya edukasi yang tepat selama menjaga kehamilan. Status pendidikan remaja dianggap kurang mencukupi.

Selain stunting, ada beberapa risiko lainnya yang membahayakan.

"Sebanyak 40 persen atau tiga kali lipat lebih tinggi terjadinya keguguran dan kematian janin. Lalu 2-5 kali lipat ibu remaja mengalami preeklampsia--komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tanda-tanda kerusakan organ," jelas dokter spesialis obstetrik dan ginekologi, Dr dr Julianto Witjaksono, SpOG(KFER) dalam acara "Cegah Perkawinan Anak Guna Wujudkan Generasi Produktif" di Ke:kini Ruang Bersama, Jakarta, ditulis Kamis (28/9/2017).

 

 

 

Simak video menarik berikut:

1 dari 2 halaman

Kerusakan jalan lahir

Kematian remaja karena melahirkan di bawah umur juga diakibatkan pendarahan dan infeksi. Nyawa ibu remaja tak dapat diselamatkan.

Terkait dengan organ reproduksi, 2-6 kali lipat lebih tinggi terjadi kerusakan jalan lahir setelah melahirkan.

Dari sisi psikologis, dr Julianto juga mengungkapkan, 1-2 dari empat kasus kehamilan remaja, para remaja itu mengalami depresi setelah melahirkan.

Artikel Selanjutnya
Saat Pubertas, Anak Perempuan Perlu Nutrisi Khusus
Artikel Selanjutnya
Waspada, Stres di Usia 20-an Bisa Picu Keguguran