Sukses

Baby and Daddy Papi Farre, Full Time Daddy untuk Trio Biang Kerok

Liputan6.com, Jakarta Nama saya Farid Anggara Soeratman, seorang full time daddy yang biasa dipanggil Farre (34). Istri saya, Farah Dian Dini (32) sekarang tengah hamil 7 bulan. Selain kami berdua, di rumah sudah ada Great Indaka Zikri (9), Freya Danika Rahman (4), dan Lembayung Kana Nirmala (1). Dengan kehamilan yang sedang berjalan ini, Insha Allah pada bulan November nanti, putra-putri kami akan genap berjumlah 4 orang. Sebuah amanat yang berat sekaligus indah dari Sang Maha Kuasa.

Full Time Parenting

Setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam berinvestasi. Ada yang berinvestasi dengan tanah, deposito, bisnis, emas, karier, kesehatan, dan waktu. Semua barang investasi itu seandainya hilang dan musnah, akan bisa dengan mudah dicari lagi, kecuali: waktu. Ya, waktu yang telah terbuang, tidak akan pernah kembali. Dan menyiakan waktu, pada akhirnya selalu berbuah penyesalan.

Itulah mengapa dalam menjalani peran sebagai seorang ayah, saya tidak pernah mau tanggung-tanggung: saya harus jadi full time daddy. Pemilik rumah produksi audio-visual dan bassist dari band punk Vespunk hanyalah sekadar jawaban yang harus keluar dari mulut anak-anak saat ditanya tetangga, “Apa pekerjaan papimu?” Hal ini untuk menghindari tuduhan warga bahwa kami ini beternak tuyul.

Harus begitu. Karena tanpa terasa, anak-anak saya terlanjur banyak dan pasti akan cepat tumbuh besar. Saya tidak mau kehilangan sebagian besar waktu yang mestinya dihabiskan untuk mendampingi mereka, hanya karena urusan investasi duniawi. Sungguh tidak sepadan.

Jadi, inilah pengalaman saya dalam membesarkan 3 anak. Hampir setiap hari berjalan seperti itu, kecuali ada meeting dengan klien di pagi dan siang hari, atau band saya, Vespunk, ada jadwal manggung. Itu pun tidak terlalu sering.

Simak juga video menarik berikut ini: 

1 dari 3 halaman

Rutinitas harian yang melatih kesabaran

Sejak pukul 6.00 pagi, saya sudah menerima instruksi dari istri untuk berbelanja barang kebutuhan sehari-hari. Saya pun berbelanja, sementara istri bertugas menjaga Freya dan Kana yang langsung sudah aktif mengacak-acak rumah.

Pukul 9.00, istri mulai memasak sekaligus menyiapkan keperluan sekolah Great yang masuk pukul 10.00. Di saat itu saya akan berperan menjadi baby sitter dari Freya dan Kana. Menemani Freya menggambar, mewarnai, dan membangun rumah dari mainan balok kayu. Kalau Freya sedang sibuk dengan gambar, saya biasanya menyempatkan diri keluar rumah untuk mengajak Kana berjalan-jalan.

Pukul 11.00 adalah jam tenang, karena Freya sedang bersekolah PAUD selama 1 jam ke depan, sementara Kana sedang tertidur lelap. Momen ini bisa dimanfaatkan untuk apa pun. Seperti menyelesaikan masak dan beres-beres rumah, olahraga di gym, atau menambah jam tidur.

Pukul 12.00 seusai menjemput sekolah, istri biasa mengajak Freya jalan-jalan ke kantor yang berjarak hanya 200 meter dari rumah sambil memberinya makan siang, sementara saya menjaga Kana yang masih terlelap di rumah. Freya adalah balita yang tangguh dan berenergi besar. Ia tak pernah tidur siang. Dan tingkah lakunya yang super aktif, seringkali menggoyahkan kesabaran. Itulah mengapa sulit sekali rasanya memercayakan anak-anak kami yang spesial pada sosok asisten rumah tangga. Orang tuanya saja sering jadi tidak sabaran, apalagi orang lain?

 

2 dari 3 halaman

No TV, No Wifi!

Sore menjelang malam adalah waktu memandikan anak-anak sebelum kemudian makan malam. Great, si sulung, biasanya mulai mengerjakan tugas-tugas sekolah. Karena Great termasuk anak yang pelupa, saya wajib standby untuk memandunya mengingat kembali pelajaran-pelajaran di sekolah. Apalagi saat menghadapi ujian, waktu yang saya sediakan niscaya akan lebih panjang.

Kami tidak memiliki wifi dan pesawat televisi di rumah, karena di kantor sudah ada perlengkapan multimedia lengkap dan berjumlah cukup banyak. Ini sekadar membiasakan anak-anak, bahwa untuk merasakan sebuah kenikmatan, mereka setidaknya harus berusaha, berproses. Dan berjalan beberapa ratus meter demi menonton acara TV atau Internetan, sepertinya bukan usaha yang terlalu berat.

Kami lebih sering berbagi cerita untuk mengisi kegiatan dalam rumah. Atau membuat proyek-proyek kreatif yang harus diselesaikan dalam tempo tertentu. Keluhan-keluhan seperti rasa bosan dan mati gaya tentu seringkali muncul. Tapi buat saya, itu adalah salah satu perasaan negatif yang harus bisa mereka bendung. Karena biasanya, ide-ide kreatif akan lahir dari keterbatasan.

Saya tidak pernah tahu masa depan. Apakah anak-anak akan tumbuh menjadi sosok yang bisa membanggakan orang tuanya, ataukah sebaliknya? Tak seorang pun yang akan tahu. Tapi setidaknya, apa yang kami lakukan adalah sebuah effort super maksimal, demi menghindarkan anak-anak dari masa depan yang tidak kami inginkan. Karena doa saja, mungkin tidak akan cukup.

Pukul 21.00 anak-anak sudah mulai ngantuk. Saya pun bisa keluar rumah untuk menuntaskan semua urusan duniawi saya. Membalas email klien, menjamu tamu, mengerjakan proyek-proyek yang tertunda, atau bahkan sekadar merenung untuk mencari ide. Kalau tidak banyak yang dilakukan, saya sudah pulang ke rumah pukul 3.00 dini hari. Tapi kalau saya sedang on fire, saya bisa pulang saat matahari sudah terang. Dan tentu, meskipun diserang rasa kantuk yang meradang, saya harus kembali ke haribaan anak-anak dengan penuh senyuman.

Dan mendengar tawa riang anak-anak sepanjang hari, semua letih lelah itu, sepertinya sepadan.

Artikel Selanjutnya
Ultah Ke-4, Vespunk Ajak Anak Muda Jauhi Narkoba