Sukses

Ibu Ini Tolak Anaknya Diajar Guru Obesitas

Liputan6.com, Jakarta Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan yang terbaik bagi anak kita, termasuk dalam urusan pendidikan. Namun, apa jadinya jika orang tua melarang anaknya diajar oleh guru yang mengalami obesitas?

Seorang ibu yag berasal dari London, Hilary Freeman, memutuskan untuk tak mendaftarkan putrinya di taman kanak-kanak tertentu karena asistennya mengalami obesitas.

"Asisten anak saya merupakan wanita yang cantik, baik, dan hebat dengan anak-anak. Tapi saat saya melihat dia bermain dengan anak perempuan saya yang berusia dua tahun, saya merasa gelisah. Dia bahkan baru berumur 20-an, tapi dia sudah gemuk, sangat riskan. Dia bergerak perlahan dan terengah-engah, wajahnya memerah," kata Freeman dalam tulisan esai yang dibuatnya, seperti yang dikutip dari laman, Fox News, Kamis, (14/9/2017).

Namun, Freeman mengklaim bahwa pilihannya untuk mendaftarkan putrinya di sekolah dengan guru yang lebih fit secara fisik bukanlah "fatisme" atau berdasarkan penampilan tapi tentang keamanan. Sebagai seorang ibu dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri seberapa cepat refleks yang dibutuhkan untuk menyelamatkan anak dari bahaya saat karya wisata dan kebiasaan tidak sehat apa yang akan diajarkan guru tersebut kepada putrinya.

 

1 dari 2 halaman

Obesitas apakah sebuah dosa?


Sejak dia menulis esai itu, orang-orang kerap menuduh Freeman sebagai orang yang suka menghina fisik seseorang. Freeman menderita tiroid yang kurang aktif sehingga membuat berat badan sulit turun dan bisa menyebabkan kenaikan berat badan yang parah. Neneknya juga mengalami obesitas. Freeman tidak ingin gaya hidupnya yang tidak sehat diikuti oleh putrinya sendiri.

"Penelitian telah membuktikan bahwa, dalam banyak hal, obesitas sama tidak sehatnya seperti merokok. Ini menyebabkan kanker, penyakit jantung dan diabetes dan bisa menghambat kesuburan. Studi juga membantah anggapan seseorang bisa menjadi gemuk dan bugar. Semakin berat Anda, semakin besar kemungkinan Anda menderita gagal jantung atau stroke," katanya.

Terlepas dari perbedaan ibu dalam memilih taman kanak-kanak bagi anaknya, Freeman berpegang teguh pada pendiriannya mengenai masalah obesitas yang meningkat, dan mengakhiri esainya dengan merujuk pada ajakan bertindak untuk melawan obesitas.

"Diskriminasi tidak pernah bagus, begitu juga dengan obesitas, jadi mari kita berhenti merayakannya dan malah menawarkan sedikit cinta yang kuat." tutup Freeman dalam esainya.

(Michelle Tania)

Artikel Selanjutnya
Legislator NTT: Pecat Guru yang Bikin Siswa Minum Racun
Artikel Selanjutnya
Gara-Gara Hal Sepele, Guru Tega Tampar 20 Murid di Depan Kelas