Sukses

Sering Berdebat, Baik untuk Langgengkan Pernikahan?

Liputan6.com, Jakarta Coba hitung usia pernikahan Anda, lalu cari tahu seperti apa kondisi kebahagiaan pernikahan Anda. Seperti dilansir dari theatlantic.com, Senin (11/9/2017), ada tulisan hasil penelitian yang membagi partisipan dengan kelompok A yang disebut masters, sementara kelompok B disebut disasters.

Kelompok A adalah kelompok pasangan pernikahan yang berusia enam tahun ke atas namun tetap bahagia. Sedang kelompok disasters adalah kelompok pasangan pernikahan yang mempunyai permasalahan rumah tangga dan tidak bahagia.

Kelompok disasters mungkin terlihat kalem saat sesi wawancara, namun peralatan medis berkata lain. Jantung mereka berdetak kencang, gula darah mereka aktif, dan siklus darah mereka sangat cepat. Indikasi ketegangan ini menguat saat sesi berlangsung di mana kelompok ini terlihat sangat siap menyerang pasangannya masing-masing.

Kebalikannya, kelompok masters menunjukkan kondisi yang tenang dan saling terkoneksi, bahkan saat mereka berada dalam kondisi berdebat. Hal ini bukan berarti kelompok masters mempunyai keadaan psikologis yang lebih baik. Hanya saja kelompok masters mampu menciptakan rasa percaya dan keintiman yang membuat pasangannya merasa nyaman secara emosional dan fisik.

Kelompok masters mempunyai kebiasaan cara berpikir yang baik - mereka mengobservasi keadaan sekitar sebagai kiblat dalam berhubungan dengan pasangannya. Mereka juga membangun budaya menghormati dan penghargaan terhadap pasangannya.

Penghinaan di sisi lain menjadi salah satu faktor paling meghancurkan. Begitu pula bila pasangan terlalu fokus untuk mengkritik pasangan lainnya. Pasangan yang tak memberikan respon baik pada apa yang ingin disampaikan pasangannya, akan membuat pasangan merasa tidak berguna dan tidak berharga. Penghinaan tidak hanya menghilangkan kadar cinta, tapi juga keinginan pasangan untuk memperjuangkan hubungan tersebut.

1 dari 2 halaman

Boleh berdebat, asal...

Kebaikan di sisi lain adalah perekat antar pasangan untuk merasa dicintai dan dipahami. Kebaikan yang diberikan pada pasangan akan memunculkan kebaikan pada diri pasangan tersebut, untuk kemudian menciptakan hubungan harmonis pada pasangannya.

Kelompok master tahu bahwa kebaikan layaknya otot yang harus dilatih terus menerus untuk dapat terbentuk dengan baik. Tentu saja kebaikan sangat sulit dipraktekkan pada saat terjadi perdebatan. Namun ada cara berdebat tanpa berbuat kasar atau mengeluarkan kata-kata menyakitkan, yaitu menjelaskan dengan tenang alasan Anda marah dan terluka.

Kebaikan dapat dilakukan melalui hal kecil seperti memberikan nilai akan niat baik pasangan dan mencoba mengerti benar maksud pasangan daripada membenarkan asumsi atau prasangka diri sendiri. Anda juga membiasakan diri berbagi kabar bahagia, misalnya promosi jabatan dan memberikan tanggapan atas kabar gembira tersebut.

Artikel Selanjutnya
Diajak Nikah? Tanyakan 5 Hal ini Dulu!
Artikel Selanjutnya
Persiapkan Diri Menuju Pernikahan dengan 4 Komitmen Ini