Sukses

Ellen Martini, 5 Tahun Berjuang Kalahkan Kanker Payudara

Liputan6.com, Jakarta Walaupun Ellen Martini, 53 tahun, rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), dia tetap harus menghadapi kenyataan dirinya didiagnosis kanker payudara stadium 2B. Diagnosis tersebut terjadi pada tahun 2002. Kala itu usianya 38 tahun.

"Sebenarnya, saya sudah mulai melakukan SADARI sejak berusia 25 tahun tiap kali mandi. Saat mandi kan tubuh licin. Jadi, mudah merasakan adanya benjolan aneh pada payudara," ungkap Ellen usai acara "Pemenuhan Nutrisi pada Pasien Kanker" di Hotel JS Luwansa, Jakarta, ditulis Rabu (30/8/2017).

Ketika didiagnosis kanker payudara, Ellen sempat mogok makan.

Dia belum bisa menerima kanker payudara menyerang dirinya. Namun, berkat dukungan keluarga, dia mulai menerima keberadaan sel kanker payudara itu.

Didiagnosis kanker payudara yang masih tergolong stadium awal membuat Ellen segera memeriksakan diri ke dokter. Ellen setidaknya cukup lega karena kanker payudara ditemukan lebih awal. Hal ini berkat SADARI yang rutin dia lakukan saat mandi.

Tak butuh waktu lama, Ellen didukung keluarganya menjalani operasi kanker payudara. Pasca-operasi kanker payudara, dia harus secara teratur melakukan kemoterapi. Efek kemoterapi membuat Ellen kesulitan makan.

Tiap kali usai kemoterapi, dia mengaku mual dan muntah sehingga tidak nafsu makan. Rasa malas untuk bergerak dan didera banyak sariawan juga menjadi permasalahan.

 

 

Simak video menarik berikut ini:

1 dari 4 halaman

Lawan efek kemoterapi

Untuk mengatasi sariawan karena efek kemoterapi, Ellen disarankan berkumur air kacang hijau. Pembuatannya, kacang hijau ditumbuk lalu diseduh pakai air panas. Kemudian ditambahkan garam.

Setelah itu, baru dibuat kumur-kumur. Air kacang hijau ini membantu menghilangkan sariawan.

Kesulitan makan sempat membuatnya terpuruk. Asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh tidak mencukupi.

Keluarga berupaya memberikan dukungan Ellen untuk tetap makan.

Ellen didiagnosis menderita kanker payudara pada tahun 2002. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

"Akhirnya, saya berusaha makan juga. Makan makanan apa saja. Tidak ada pantangan juga untuk harus makan apa. Saya membayangkan, kalau saya membatasi makan sendiri, (hanya mau makan makanan tertentu) bagaimana dengan anak-anak? Waktu saya didiagnosis kena kanker payudara, anak-anak masih kecil," ungkap Ellen.

Efek kemoterapi, lanjut Ellen, hanya terasa selama 1-2 hari.

2 dari 4 halaman

Pola makan sehat

Demi mendukung asupan nutrisi yang cukup, makanan yang paling banyak dimakan selama menjalani perawatan kanker payudara adalah ikan laut (tuna, ikan kembung).

"Saya banyak makan ikan laut. Karena lemak pada ikan laut bisa membuat sel kanker tidak berkembang," ucap Ellen.

Selain ikan, asupan nutrisi lain juga tetap dipenuhi. Ellen juga banyak makan buah dan sayuran. Makan pun tiga kali sehari (pagi, siang, dan malam). Pola makan sehat ini ternyata memberikan hikmah terhadap anak-anaknya.

"Hikmahnya, anak-anak saya jadi ikutan suka makan buah dan sayur. Waktu kecil, mereka justru sangat sehat dan jarang sakit," lanjutnya.

3 dari 4 halaman

Bebas dari kanker

Sebagai penyintas (survivor) kanker payudara, Ellen dinyatakan bebas dari kanker pada tahun 2007. Perjuangan perawatan kanker payudara tidaklah mudah.

"Selama kemoterapi, saya juga menerima terapi hormon. Terapi hormon ini, dokter memberikan obat minum untuk menekan hormon estrogen. Tiap hari saya minum obat itu selama lima tahun," ungkap Ellen.

Terapi hormon berfungsi menekan pertumbuhan tumor pada sel yang sensitif terhadap hormon. Setelah melakukan berbagai pengobatan, perawatan, dan pemeriksaan kesehatan, Ellen dinyatakan bebas dari kanker payudara.

Perawatan kanker payudara dilakukan Ellen selama 5 tahun. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

"Menurut statistik, kalau perawatan selama lima tahun itu dilakukan dan pasien terbukti survive (bertahan hidup) dengan baik, itu aman. Tapi bukan berarti benar-benar bebas dari kanker. Sel kanker itu tetap ada, hanya saja sel kankernya itu tidur (tidak aktif)," tambahnya.

Hingga saat ini, Ellen tetap melakukan pemeriksaan kesehatan. Dia juga aktif bergabung di Yayasan Kanker Indonesia (YKI).

Artikel Selanjutnya
Virus Zika Berpotensi Bunuh Sel Kanker Otak Ganas
Artikel Selanjutnya
Menyayat Hati, Ayah Sekarat Bikin Video Perpisahan untuk Bayinya