Sukses

Hipnoterapi: Kangen Mama, Anak Mencuri

Liputan6.com, Jakarta Bocah laki-laki berusia 10 tahun ini dibawa bertemu saya di klinik hipnoterapi oleh tantenya yang sengaja datang dari Australia. Sebegitu pentingnya? Ya, betul. Anak ini tinggal dengan neneknya, semenjak kedua orangtua tidak ada lagi bersamanya. Ayahnya kabur entah ke mana sejak anak itu masih berusia sekitar 5 tahun. Ibunya lantas sakit hingga meninggal dua tahun kemudian. Sehari-hari dia tinggal berdua dengan neneknya.

Sang nenek merasa kewalahan mengurus cucunya ini. Rido, sebutlah begitu namanya, oleh nenek dan guru-gurunya disebut sebagai anak nakal dan bermasalah. Dia bukan hanya dicap malas belajar, tapi juga sering membuat teman-temannya menangis akibat ulahnya. Di kelas Rido juga banyak melamun, tidak memperhatikan pelajaran.

Akibat sikap dan perilakunya yang dinilai bermasalah itulah, sang nenek beberapa kali dipanggil ke sekolah.

“Terus terang ibu saya tidak peduli dengan semua persoalan Rido. Dia merasa sudah capek menghadapi masalah hidup, tapi nyatanya hingga usia tua masih harus mengurus cucu. Saya sendiri tinggalnya jauh. Kasihan Rido sebetulnya,” ungkap si tante yang sempat berpikir untuk menitipkan keponakannya itu ke panti asuhan.

Hingga suatu hari nenek Rido tidak bisa lagi bersikap masa bodoh. Dia benar-benar sudah tidak mampu menahan diri, ketika mendapati cucu semata wayangnya itu mencuri uangnya.

“Beberapa kali ibu saya kehilangan uang. Dia tidak pernah menyangka kalau Rido yang mengambil, sampai akhirnya menangkap basah Rido sedang mengambil uang dari dompet. Rido dipukuli habis-habisan oleh neneknya,” ujar si tante. Karena itulah dia buru-buru datang ke Jakarta, untuk mengurus masalah nenek dan cucu ini. 

 

Saksikan juga video berikut ini: 

1 dari 3 halaman

Anak Bermasalah

Ketika Rido hanya berdua dengan saya, bocah berwajah murung itu mengakui telah beberapa kali mencuri uang neneknya. Buat apa? “Buat beli mainan sama bacaan,” ungkapnya. Barang-barang yang setiap hari terjaja di dekat pintu gerbang sekolahnya itu menjadi temannya ketika sampai di rumah.

Mengapa tidak meminta dibelikan oleh nenek? “Takut,” ungkap Rido. Mengapa takut? “Nenek galak, suka marah-marah,” katanya. Bocah ini tidak memiliki kedekatan emosional dengan nenek yang sehari-hari bersamanya. Boleh dibilang Rido dibesarkan oleh pengganti orangtua yang sekadar memberinya kebutuhan dasar sebagai manusia, yaitu: makanan, pakaian dan tempat tinggal, plus disekolahkan. Adapun kebutuhan rasa aman, perhatian dan kasih sayang yang teramat penting bagi proses tumbuh kembangnya sebagai pribadi, tidak dia peroleh.

Dapat dibayangkan betapa anak ini mengalami kekosongan dan kekeringan pada tangki cintanya. Jangankan pelukan, belaian, pujian, atau bahkan senyuman sekalipun; ngobrol atau bercakap-cakap pun tidak didapatnya. Sehari-hari nenek hanya memerintah untuk makan, mandi, dan belajar. Bila tidak berkenan bicaranya kasar atau marah-marah. Tidak ada percakapan yang menyentuh kebutuhan emosionalnya.

Di rumah dia tidak mendapatkan penerimaan, di sekolah pun sama saja. Bahkan guru sering memarahinya. Mainan dan bacaan adalah hal-hal yang mengisi hatinya, membuat senang, lupa pada masalah hidupnya. Sesuatu yang menyenangkan akan cenderung diulang. Karena itu apa pun dia lakukan untuk mendapatkannya, termasuk mengambil uang neneknya.

Jadi, apakah Rido bermasalah? Tidak! Tidak ada anak bermasalah; yang ada adalah orangtua (ayah-ibu), orangtua pengganti dan guru yang bermasalah. Setidaknya, masalah mereka adalah tidak memahami bagaimana cara menghadapi anak yang kehilangan kedua orangtua kandungnya. Bahwa anak itu kesepian, mengalami kesedihan, merasa tidak aman, tidak percaya diri, bingung, takut dan lain-lain emosi sama sekali tidak dipahami.

“Mau sama Mama…. Mama…. Mau sama Mama,” ungkap Rido dalam deraian air mata dan isak tangis yang memilukan dalam proses terapi. Itulah yang dia butuhkan dan inginkan. @

2 dari 3 halaman

Catatan

Apa yang dapat kita pelajari dari kasus Rido ini?

Aneka macam ulah dan perilaku yang disebut nakal, bandel, brengsek atau bermasalah, sebetulnya merupakan gejala adanya persoalan pada anak yang perlu diperhatikan oleh orangtua, orangtua pengganti dan guru.

Sebaiknya anak tidak diberi label “nakal” atau “bandel” atau “brengsek” dan sejenisnya. Yang diperlukan adalah membantu anak menemukan dan mengatasi persoalan yang mereka hadapi. Memberi label sama dengan mencetak atau menggiring anak menjadi seperti label yang diberikan.

Anak-anak tidak hanya butuh sandang-pangan-papan melainkan juga perhatian, kasih sayang, dan terutama adalah rasa aman. Bila anak merasa aman, mereka akan tenang, gembira, dan menjalani proses tumbuh kembang dengan baik. 

Artikel Selanjutnya
Krisdayanti Jadi Mata-Mata di Instagram
Artikel Selanjutnya
Bebi Romeo Mengaku Sering Kasar kepada Anak