Sukses

Monster Laut Ini Penyebab Pendarahan Kaki Remaja Australia

Liputan6.com, Melbourne Senin lalu, publik dibuat heboh dengan gambar kaki seorang remaja yang penuh darah. Kaki remaja bernama Sam Kanizay ini berdarah setelah dia merendam kakinya di air laut.

Sam berdiri di dalam air di Pantai Bondy di Melbourne setelah bermain bola. Kakinya perih dan dia berharap air laut yang dingin bisa membuat kakinya terasa lebih baik.

Tak lama, Sam mengaku dia merasakan sensasi merinding yang bikin mati rasa, tapi dia pikir hal itu disebabkan oleh air yang dingin.

"Aku tidak terpikir akan digigit sesuatu," ujarnya pada surat kabar Australia, The Age, dikutip dari National Geographic, Rabu (9/8/2017).

Setelah berendam itu, kaki Sam lalu berdarah. Darahnya terus mengalir sehingga kedua orangtua remaja ini lantas membawanya ke rumah sakit.

Dokter membalut kaki Sam, mengecek apakah ada parasit, dan memberinya antibiotik. Sam berendam di laut pada hari Sabtu, dan pada Minggu pagi, kakinya masih terus mengeluarkan darah.

Lantas makhluk laut apa yang menyebabkan kaki remaja 16 tahun ini terus berdarah?

Awalnya, luka di kaki Sam diperkirakan disebabkan oleh kutu laut. Nama ini digunakan secara luas untuk mendeskripsikan parasit krutasea kecil yang memakan kulit dan darah atau larva dari ubur-ubur.

Mereka paling sering ditemukan menempel pada ikan. Dalam jumlah besar, kutu laut bisa menyebabkan kerusakan besar pada kulit ikan karena menyebabkan luka terbuka.

Kutu laut ada di pantai-pantai di berbagai penjuru dunia, dari Australia sampai Florida. Mereka sering menyelip masuk ke baju renang dan bisa menyebabkan rasa perih yang gatal. 

1 dari 2 halaman

Tapi Apa yang Sebenarnya Menggigit Sam?

Mencari tahu tentang penyebab luka misterius yang dialami anaknya, ayah Sam, Jarrod Kanizay, kembali ke tempat Sam digigit. Menggunakan pakaian selam, Jarrod menggunakan jaring dan sepotong steak untuk memancing makhluk misterius tersebut.

Dalam video yang direkam oleh Jarrod, tampak adegan bikin merinding saat ratusan amphipods, juga disebut lalat pasir atau lalat laut, mengerubungi steak tadi.

Kepada National Geographic, Jon Norenburg, seorang peneliti zoologist dan dewan di Department of Invertebrate Zoology di Smithsonian's National Museum of Natural History, menjelaskan bahwa tidak bisa membedakan antara kedua hewan tadi adalah kesalahan umum.

"Salah mengira amphipods sebagai 'kutu laut' adalah masalah yang sering terjadi," ujarnya. Dia menjelaskan bahwa ada ratusan spesies ditemukan di seluruh penjuru dunia. Kebanyakan amphipods adalah herbivora, sementara yang lain ominivora.

Norenburg juga mengatakan, beberapa amphipods nonparasit sangat tertarik pada darah.

Peneliti ilmu kelautan Genefor Walker-Smith yang meneliti makhluk yang ditangkap oleh Jarrod Kanizay mengkonfirmasi, serangga-serangga laut ini adalah sea fleas (lalat laut) dan bukan sea lice (kutu laut). Dia yakin, lalat lautlah biang kerok di balik kejadian menghebohkan ini. *

Artikel Selanjutnya
Cheerleader Dipaksa Split, Ini Bahayanya
Artikel Selanjutnya
Selain Hujan di Tebet, Ini 6 Fenomena Alam Misterius Lainnya