Sukses

Kisah Nuke Prabandari, Bangun dari Koma karena HELLP Syndrome

Liputan6.com, Jakarta Bekerja sudah menjadi passion wanita berdarah biru ini, R.Ngt. Nuke Prabandari. Ia berhasil mengantongi pengalaman kerja di beberapa perusahaan besar di Indonesia, hingga kini menjabat sebagai Manager Operations Communications PT HM Sampoerna Tbk.

Pekerjaan yang diambil Nuke, begitu dia dipanggil, bukan bidang yang banyak diminati para wanita. Mengawali karier di perbankan, Nuke kemudian mengembangkan karier dengan bekerja di perusahaan semen sampai minyak dan gas ternama di Tanah Air.

Tak ada sepatu hak tinggi, tidak ada riasan wajah, atau setelan rok yang dikenakannya dalam bekerja seperti kebanyakan wanita kantoran, tutur wanita berkacamata ini. "Saya ikut ke daerah pelosok Indonesia waktu itu untuk pembebasan lahan ya, pakai sepatu boots, rambut diuntel-untel dan saya satu-satunya perempuan di tim itu," ujarnya saat berbincang langsung dengan Liputan6.com, di One Pacific Place, Jumat (21/7/2017).

Pernah sekali Nuke harus merasakan gigitan laba-laba beracun sampai membuat luka bengkak persis di tulang belikatnya. "Pas saya lagi jalan kok rasanya ada yang jatuh dan sakit sekali, tahunya pas lihat ke bawah laba-labanya udah jatuh dan langsung bengkak di dekat leher saya sini," katanya. 

Ketertarikan terhadap bidang komunikasi sempat ditentang oleh kedua orangtua saat dia ingin memutuskan lanjut pendidikan strata 1. Maklum, sang ibu yang berprofesi di bidang hukum, sementara ayah adalah seorang militer, kurang setuju dengan pilihannya karena ilmu komunikasi bukanlah bidang yang banyak diminati seperti sekarang ini.

Sejak 1997, awal kariernya, Nuke sudah menjabat menjadi asisten manajer di perusahaan bank sampai diangkat menjadi seorang manajer. Bahkan dalam satu tahun sepuluh bulan, Nuke bisa melakukan penerbangan domestik dan internasional sebanyak 115 kali.

"Sampai-sampai awak kabin pesawat itu hafal sama muka saya dan dia bilang, 'Lho Bu, seragamnya sudah ganti lagi?'" ujar Nuke menceritakan kembali. 

 

1 dari 5 halaman

Kehilangan dua anak

Kodrat menjadi seorang wanita memang tak bisa dihindarkan, katanya. Nuke tidak boleh egois dengan hanya memikirkan kariernya. Dia tersadar harus menjalankan fungsinya sebagai wanita seutuhnya, yaitu menjadi seorang istri dan ibu. Apalagi ketika Tuhan telah mempertemukannya dengan seseorang yang bisa menjadi pendamping dalam suka dan duka.

Setelah akhirnya memutuskan menikah dengan seorang pria Australia, pada 2012, Nuke tak langsung memutuskan untuk hamil. Kebetulan karena suami juga memiliki usaha di Negeri Kanguru, dia harus menjalani hubungan jarak jauh atau LDR, selama beberapa waktu.

Nuke mengaku, suami adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan kepadanya, sama-sama memiliki sifat pekerja keras. Jadi, soal pekerjaan keduanya sama-sama memberi dukungan satu sama lain. Namun, usaha dan hasil kerja yang sudah diperoleh rasanya belum lengkap tanpa kehadiran seorang anak.

"Kalau jalan berdua ke mal suka liat keluarga kecil, suami istri berpegangan tangan dan lengkap sama anaknya, sampai pada akhirnya suami saya bilang, 'Kamu enggak iri melihat keluarga itu?'" Nuke menceritakan.

Pernikahan Nuke terbilang terlambat. Namun, tak ada kata terlambat untuk berusaha mendapatkan momongan. Meski harus dua kali kehilangan janin saat mengandung, Nuke dan suami tetap optimistis dan berikhtiar.

"Anak saya dua di kandungan meninggal, di usia kandungan sudah besar. Hampir depresi saya, stres kehilangan anak, saya sedih, saya nangis," ujarnya. 

 

2 dari 5 halaman

Kaki Mendadak Lumpuh

Pada awal 2015, Nuke harus melakukan perjalanan panjang ke Rusia. Sebelum pergi, ia memutuskan untuk lebih dulu terbang ke New Jersey, Amerika, untuk melakukan program hamil dengan metode tusuk jarum. Sebelumnya, dia pernah melakukan program tersebut di Jakarta, namun hasilnya nihil.

"Saya pulang ke Indonesia, tapi saya enggak mau mikir hamil (atau) enggak hamil. Yang penting (saya) udah program nih dan dibawa juga obat-obatannya dari sana, semua herbal," ujarnya.

Sesampai di Rusia, Nuke tidak merasakan kejanggalan pada tubuhnya. Hanya saja seorang rekannya berkata, "You look so different, are you pregnant?" Nuke menceritakan.

Setelah tiga hari dinas di sana, Nuke merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Kaki Nuke lumpuh tidak bisa berjalan. Padahal, ia sama sekali tidak terjatuh atau terkilir. Tidak langsung dilarikan ke rumah sakit, salah seorang rekannya menyarankan untuk Nuke melakukan tes kehamilan.

"Pas diperiksa, dicek saya takut enggak mau lihat karena trauma keguguran lagi, dan alatnya juga berbeda dengan yang di sini kan. Itu antara mau nangis, takut, khawatir jadi satu," katanya.

Ternyata kabar baik menghampiri. Nuke positif hamil. "Tapi, belum stop di situ. Saya terkena HELLP syndrome," kata Nuke. 

 

3 dari 5 halaman

Alami HELLP Syndrome

Di usia kehamilan 30 minggu, Nuke diterjang rasa sakit yang begitu dahsyat. Di tengah rapat, ulu hatinya mendadak panas dan muncul rasa sakit kepala yang begitu hebat. Dia tak pernah merasakan itu sebelumnya. Padahal, tanggal melahirkan diprediksi masih dua bulan lagi.

"Rencananya mau lahiran di Australia, lahirannya 31 Januari 2015, tapi ternyata anaknya mau keluar duluan," ujar Nuke sambil tersenyum.

Tepat pada 25 November 2015, sang putri, Florencia Amara, lahir dengan operasi caesar lantaran Nuke mengalami HELLP syndrome. HELLP Syndrome merupakan singkatan dari Hemolysis, yaitu hancurnya sel darah merah; Elevated Liver-enzymes, yaitu peningkatan enzim hati; dan Low Platelet-count, yaitu trombosit rendah. 

Mirip dengan preeklamsia, komplikasi kehamilan ini bisa mengancam jiwa ibu dan janin. Kondisi ini terbilang sangat jarang, bahkan dokter yang menangani Nuke berkata hanya ada 1 dari 1.000 ibu hamil yang mengalaminya.

"Saya enggak pernah merasa sakit yang luar biasa seperti itu. Saya tidak tahu rasa kontraksi seperti apa, tim yang ada di ruangan saat itu mengira saya kontraksi. Tapi saya muntah dan warnanya sampai oranye agak merah," kata Nuke sambil mengingat.

Dengan segera Nuke dilarikan ke rumah sakit. Saat masuk ICU, tensi darahnya mencapai 170/130, sementara batas normal hanya 110/80. Bahkan satu setengah jam kemudian tensinya naik sampai 230/150.

"Yang saya rasakan waktu itu, saya bisa merasakan cinta yang unconditional love, ini yang Tuhan berikan kepada saya. Saya tidak takut dengan kematian padahal badan saya sudah sakit semua. Tapi saya cuma bilang sama dokter, saya pegang erat tangan beliau, 'Dok, tolong selametin anak saya," kata Nuke.

Rumah sakit yang menangani Nuke, sebelumnya sudah pernah menangani dua kasus HELLP syndrome, sayangnya baik ibu dan janin tidak terselamatkan. Namun, tidak dengan Nuke. Tuhan memberikan mukjizat yang begitu hebat untuknya dan buah hati tercinta. Janinnya selamat dan Nuke tersadar dari mati suri setelah tujuh hari. 

 

4 dari 5 halaman

Bangun dari mati suri

"Ada cahaya yang terang dan orang-orang menjemput saya. Saya melihat ada cahaya terang yang benar guru ngaji saya katakan. Cahayanya terang, tapi tidak menyilaukan, orang-orang di situ mau menggapai tangan".

Persis itu yang Nuke rasakan saat mati suri. Beruntung sangat dirinya, Tuhan masih memberikan kesempatan dan mujikzat kepada Nuke. Ia terbangun dari mati suri saat sang suami sedang mengelus kepalanya.

Kondisi Amara, saat itu masih di dalam NICU. Buah hati yang dinanti-nantikan itu lahir seberat 1,3 kilogram dengan kondisi jantung yang belum sempurna. "Jantungnya bolong empat dan harus masuk NICU selama dua bulan," ujarnya.

Walaupun belum pulih 100 persen, Nuke tidak mau kehilangan sedikit waktu untuk Amara. Selama dua bulan Amara dirawat di NICU, ia tetap menjaga bounding attachment dengan cara memandikan, mengganti popok, sampai melakukan kangaroo method. 

"Kangaroo method biar bonding napasnya dia (Amara) ikut napas kita karena dia kan belum bisa napas, tapi saya happy dan saya enggak mau kehilangan momen sedikit pun," ucapnya.

Kini Amara sudah menginjak usia satu setengah tahun. Amara nampak sama seperti anak lain yang lahir normal. Meski Amara hanya mendapatkan ASI selama sebulan, tapi sekrang dia tumbuh sehat, cantik dan ceria. Bahkan beratnya mencapai 11 kilogram.

"Amara sekarang harusnya masih usia prematur, tapi sekarang sudah kelas toddler di Kemang dan dia sudah bisa wall climbing, itu saya amazed sendiri dia bisa begitu. Ya.. hidup saya penuh dengan mukjizat lah rasanya, mukjizat pekerjaan dan juga anak saya," Nuke menuntaskan.

Artikel Selanjutnya
Idap Penyakit Misterius, Tangan Pemuda Ini Membesar bak Monster
Artikel Selanjutnya
Tak Cuma Ibu, Ayah Juga Bisa Depresi