Sukses

Temper Tantrum, Ketika Emosi Anak Meledak-ledak Tak Terkontrol

Liputan6.com, Jakarta Anda pasti sering mendengar istilah temper tantrum atau lebih sering disebut tantrum. Sebenarnya apa ya tantrum itu?

Tantrum merupakan reaksi emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol yang ditunjukkan melalui menangis sambil berteriak atau menjerit, berguling di lantai, memukul, menendang, dan sebagainya. Terkadang, anak mengalami muntah, buang air kecil, atau menggertakkan gigi ketika dia sedang mengalami tantrum.

Sebenarnya, tantrum ini biasa terjadi pada anak usia dini (0 - 4 tahun) di mana anak masih membutuhkan bantuan orang lain untuk mengelola emosinya. Seiring bertambahnya usia (sekitar usia 5 tahun ke atas), anak semakin bisa mengelola emosinya dan lebih mampu mengekspresikan pendapat atau keinginannya secara verbal sehingga kemunculan tantrum semakin berkurang.

Lalu bagaimana cara menghadapi anak yang sedang tantrum?

Yang perlu diperhatikan pertama kali adalah apakah anak membahayakan dirinya dan orang lain atau tidak saat mengalami tantrum. Bila ia sedang menangis di karpet kamar atau di kasur, berikan ruang dan perhatikan dari jarak dekat. Tapi, kalau ia berada di ruangan yang penuh barang atau di tempat umum, orangtua dapat memangku anak atau memindahkan ke tempat yang lebih aman.

Berikan kesempatan pada anak untuk meluapkan emosinya, perhatikan dari dekat dan orangtua dapat mengakui/memahami dan membantunya mengenali emosi yang dirasakan anak. Misalnya, saat anak sedang menangis, orangtua dapat duduk di dekatnya sambil mengatakan, “Mama/Papa tahu kamu sedang marah sekali ya,” atau, “Kamu marah/kesal banget ya karena enggak boleh main di luar?”.

Setelah tantrum anak mereda, orangtua dapat memeluk anak dan kemudian memberikan penjelasan yang logis atau nasihat. Misalnya, “Kamu marah banget ya saat Papa/Mama larang kamu main ke luar rumah. Tapi ini sudah sangat sore dan waktunya kamu untuk mandi dan makan.”

Dengan cara ini, orangtua membantu anak mengenali emosinya dan mengkaitkan emosi yang ia rasakan dengan latar penyebabnya. Hal ini menjadi langkah awal membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosinya.

Yuk, kita bantu anak-anak belajar mengelola emosinya!

Rayi Tanjung Sari, M.Psi, Psikolog
Psikolog di Klinik Kancil dan PION Clinician 

 

Saksikan video menarik di bawah ini: 

 

Artikel Selanjutnya
Demi Selamatkan 400 Nyawa, Polisi Lari 1 Km Sambil Bawa Bom Aktif
Artikel Selanjutnya
Protes Keras! Jangan Biarkan Balita Mengemudi Mobil