Sukses

Dua Tahun Lagi, Bio Farma Jual Obat Kanker Payudara Murah

Liputan6.com, Jakarta Produsen vaksin milik BUMN, PT Bio Farma (Persero), akan menjual obat biosimilar yang memungkinkan pengobatan kanker payudara menjadi lebih terjangkau.

Dengan obat yang akan dipasarkan oleh Bio Farma pada 2019, keluarga dari pasien kanker payudara cukup mengalokasikan dana buat pengobatan sebesar 30 persen-nya.

Ada pun alasan PT Bio Farma baru meluncurkan obat biosimilar ini dua tahun mendatang lantaran paten yang dimiliki produsen saat ini belum berakhir. 

Menurut Project Integration Manager of Product Development Division PT Bio Farma (Persero), Erman Tritama, dikarenakan biosimilar berbeda dari vaksin, obat untuk pasien kanker payudara ini hanya bisa diproduksi oleh perusahaan yang memegang paten.

"Hak paten perusahaan tersebut akan habis pada 2019. Perusahaan di negara lain juga bersiap-siap meluncurkan produknya. Kita harus cepat, dan satu-satunya menyaingi dengan harga murah," katanya di Bandung, Senin (20/3/2017)

Selama ini pengidap kanker payudara harus merogoh kocek Rp25 juta untuk satu dosis biosimilar. Setidaknya, pengidap kanker payudara harus menjalani lima kali terapi. Biayanya bisa sampai Rp125 juta.

Sementara PT Bio Farma (Persero) berencana membanderol obat biosimilar ini dengan harga sekitar Rp7,5 juta per dosis.

"Target produksinya sama, 20 juta dosis per tahun, dengan kebijakan harga 30% dari harga yang dibanderol produsen saat ini," ujar Erman.

Erman menyebut Indonesia harus bersiap dan sesegera mungkin meluncurkan produk biosimilar kanker payudara tersebut. Agar perusahaan lain tidak menjualnya lebih dulu dengan harga yang lebih mahal.

Keunggulan obat biosimilar ketimbang obat kimia adalah minim efek samping dan mudah dicerna oleh tubuh si pasien kanker payudara, karena basisnya yang terbuat dari molekul-molekul makhluk hidup.

1 dari 2 halaman

Akan ada tiga vaksin baru

Selain biosimilar kanker payudara, lanjut Erman, di tahun yang sama juga PT Bio Farma (Persero) akan meluncurkan tiga vaksin, yaitu vaksin tifoid konjugat, ratovirus, dan pneumo.

Ketiga vaksin tersebut pun akan dibandrol dengan harga yang lebih murah dari harga pasaran guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Sekretaris Perusahaan PT Biofarma (Persero), Rahman Rustan, mengatakan, pihaknya selalu siap berbagi keahlian untuk mengembangkan teknologi vaksin. Menurut dia, hal itu penting guna menghadapi pasar vaksin dunia yang berkembang pesat.

Rahman menambahkan, semua pengembangan produk Bio Farma akan bersinergi dalam riset dengan perguruan tinggi dan universitas di Indonesia.

"Sebab, kita harus mempercepat kemandirian produk. Riset bekerja sama dengan beberapa universitas, yang memiliki jurusan farmasi, biologi, kedokteran, dan kedokteran hewan," katanya.

Artikel Selanjutnya
Indonesia Belum Maksimal Pakai 30.000 Tanaman Herbal sebagai Obat
Artikel Selanjutnya
300 Obat Baru dan Tradisional China Siap Dipasarkan