Sukses

Permintaan Raja Salman, Nasi Kebuli dan Makanan Tinggi Serat

Liputan6.com, Jakarta Kepala Sekretariat Presiden, Darmansjah Djumala, mengatakan, sejumlah menu telah disiapkan pihak Istana Bogor untuk menjamu tamu agung Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Salah satu menu wajib yang harus ada adalah nasi kebuli. Makanan khas orang Arab.

Tidak ada permintaan khusus, apalagi yang membingungkan dari Raja Salman. Ia hanya meminta agar disajikan juga makanan tinggi serat seperti buah dan sayur.

Untuk hal itu, Darmansjah memastikan akan ada buah khusus yang tersaji di atas meja makan raja Arab dan rombongannya.

Selain nasi kebuli, buah, dan sayur, pihak Istana Bogor pun akan menjamu Raja Salman dengan makanan laut dan camilan khas Indonesia.

"Makanan yang akan disajikan memang perpaduan Timur Tengah dan Indonesia," kata Darmansjah Djumala pada Selasa (27/2/2017)

Apabila dikaitkan dengan kesehatan, sudah tepatkah yang dilakukan Raja Salman dengan adanya permintaan khusus berupa buah dan sayuran, selain nasi kebuli?

Bahan utama yang digunakan dalam mengolah nasi kebuli adalah beras dan daging kambing. Bukan nasi kebuli namanya jika tidak ada beragam rempah di dalamnya. Jumlahnya pun lebih dari lima macam. Sebut saja kayu manis, biji cengkih, biji pala, bunga pekak, kapulaga, daun jeruk, kunyit, dan jahe.

Bila dilihat dari bahan-bahan yang digunakan, tampaknya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, jangan lupakan keberadaan santan yang bagi sejumlah orang adalah "musuh".

Merujuk dari pelbagai sumber, ada pun nilai gizi per porsi untuk nasi kebuli, makanan khas orang Arab adalah; kalori (1.520kkal), karbohidrat (129,3 gr), protein (59,2 gr), dan lemak (89,3 gr)

Jika di Arab ada nasi kebuli, orang-orang di Indonesia lebih familiar dengan nasi goreng. Manakah dari kedua makanan ini yang sehat?

"Sama-sama nggak sehat. Yang satu santan, dan yang satu lagi, yaitu nasi kebuli, adalah santan," kata Ahli Gizi, Dr Nurul Manikam.

Sama halnya dengan nasi goreng yang dapat dikatakan sehat apabila turut dicampurkan telur, yang merupakan sumber protein, dan lalapan berupa tomat atau mentimun yang merupakan serat.

Demikian juga dengan nasi kebuli yang mencampurkan daging kambing di dalamnya. Menurut Nurul Manikam, kandungan protein di dalam daging kambing jauh lebih besar dari telur. Oleh karena itu, jangan lupakan daging kambing saat menyantap seporsi nasi kebuli.

"Selain itu, daging kambing banyak kandungan zat besinya. Asalkan, lemak kambingnya tidak makan," kata Nurul Manikam kepada Health Liputan6.com pada Rabu (1/3/2017)

Mungkin untuk orang normal, lemak kambing tidak akan jadi masalah selama tidak melebihi batasan dan tidak dimakan terus-terusan (siang dan malam). Namun, bagi orang dengan kolesterol tinggi, harus hati-hati.

Dr Nurul Manikam, melanjutkan, karena nilai gizi dari karbohidrat yang terdapat pada nasi kebuli sebesar 129 gram, sementara normalnya adalah 100 gram, sudah seharusnya ketika makan malam menunya diganti sayur dan buah saja.

Rasanya sudah tepat apabila Raja Salman meminta untuk disediakan buah dan sayur.