Sukses

Makan Mayit, Sajian Makanan Berbentuk Tubuh Bayi

Liputan6.com, Jakarta Pengguna media sosial Instagram dikejutkan dengan kemunculan tanda pagar (hastag) makan mayit pada Minggu (26/2/2017) malam.

Ketika tanda pagar makan mayit diklik, yang muncul adalah sejumlah foto makanan yang disajikan dalam bentuk atau wadah mengerikan, dari bentuk bayi utuh, otak, dan tubuh bayi yang kepalanya terpisah dari badannya.

Lebih-lebih keterangan foto yang membuat sejumlah orang geleng-geleng kepala agak tidak percaya.

"Jadi suster pelayan semalam di panti asuhan natasha ordo nunsense yang menggelar acara #makanmayit. Menyajikan roti tete yang terbuat dari bakteri ketek bayi dengan cheese spread dari asi murni, minuman darah segar anggur perjamuan terakhir, sup kuping bayi, dan penutup mulut yang manis otak bayi berlumuran darah segar,"

begitu keterangan foto yang ditulis pemilik akun @naninmamonto.

 

Makan mayit sendiri merupakan salah satu proyek seorang seniman bernama Natasha Gabriella. Perempuan nyentrik ini mencoba mengenalkan budaya kanibalisme dengan menyuguhkan makanan dengan tema bayi.

 

A post shared by Alexander Siregar (@alexsiregar) on

 

A post shared by Alexander Siregar (@alexsiregar) on

 

A post shared by Alexander Siregar (@alexsiregar) on

Akun Instagram pribadi Natasha Gabriella, @roodkapje, digembok. Tidak tertera identitas lengkap si empunya akun sehingga cukup sulit untuk menghubunginya guna meminta konfirmasi langsung mengenai gebrakannya ini.

Hanya ada tautan ke portal VICE yang merupakan tanya jawab dengan dirinya.

Dari tautan itu diketahui bahwa karya terbaru dari Natasha ini bernama Little Shop of Horrors. Ia tengah meramaikan Perhelatan Footurama, Como Park, Kemang Timur, dengan konsep yang agaknya sulit diterima masyarakat Indonesia kebanyakan. Menampilkan jajaran boneka bayi yang dimutilasi sampai prosesi makan mayit.

Sebelum membawa konsep ini ke Jakarta, Natasha sudah terlebih dulu memperkenalkannya di Jepang saat dirinya diundang mengikuti residensi seniman di Distrik Koganecho, Yokohama, medio 2015.

Dari tanya jawab yang dilakukan VICE dengan Natasha, diketahui pula bahwa Little Shop of Horror terinspirasi dari film horor Amerika Serikat tahun 1960 dengan judul yang sama.

"Saya memang suka filmnya. Biarpun cerita filmya beda banget. Hanya saja, saya merasa cocok dengan konsepnya, saya ambil nama itu," ujar Natasha dikutip dari VICE.

Sementara ide kanibalisme yang juga membuat gerah banyak orang datang dari sosok Sumanto. Ide itu muncul setelah ia berbincang dengan seorang jurnalis yang pernah mewawancarai Sumanto.

Yang membuat Natasha semakin tertarik membuat ide itu, karena belum lama ini ia pernah membuat sebuah karya dengan boneka bayi. Sekarang ia mencoba lagi karena cerita fiksi terbaru yang dibuatnya ini bercerita tentang toko daging bayi yang mensupport panti asuhan yang diasuh oleh suster.

"Saya berusaha mempertanyakan apakah sifat kanibal itu dimiliki oleh semua orang. Karena pas kita masih bayi menyusui, itu juga terhitung minum darah. Kalau zaman sekarang, bayi baru lahir, ari-arinya disimpan di cord blood bank, kalau misalnya sakit tinggal dimakan untuk proses penyembuhan," katanya lagi.

Menurutnya, makan mayit dan segala kegilaan yang dibikinnya ini bertujuan untuk mengetes orang-orang yang daftar pada acara makan malam yang dibuatnya. Natasha ingin tahu, para tamunya itu akan berdiskusi tentang apa saja.