Sukses

Bantu Penderita Gagap Atasi Gangguan Bicara dengan Trik Ini

Liputan6.com, Jakarta Setiap orang tentunya pernah mengalami gangguan bicara. Kata yang dikeluarkan dari mulut seperti “hmm…” atau “uh..” untuk menandakan bahwa kita sedang berpikir atau kesulitan menjawab suatu pertanyaan adalah contoh gangguan bicara paling umum yang bisa terjadi di mana saja dan kapan saja tergantung dengan kondisi yang kita lalui.

Meski menyebalkan, gangguan bicara itu masih tergolong normal dan bukanlah suatu penyakit yang membutuhkan terapi untuk penyembuhan. Gangguan bicara yang patut dirawat dengan terapi pemulihan rutin adalah gagap. Gangguan bicara ini pasalnya tergolong akut dan ditandai dengan tersendatnya pengucapan kata-kata tertentu atau serangkaian kalimat.

Kondisi ini bisa dipicu oleh hilangnya ide untuk mengeluarkan kata-kata atau kalimat tertentu, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu atau ketidakmampuan mengeluarkan kata-kata sama sekali. Pasalnya penderita gagap akan terdengar melakukan pengulangan terhadap beberapa suku kata yang sebelumnya sudah dilontarkan.

Melansir Health News, Jumat (10/2/2017), American Speech-Language Hearing Association (ASHA) mengatakan bahwa sekitar 5 persen orang akan mengalami gangguan bicara ini pada satu titik dalam hidupnya.

Gagap biasanya mempengaruhi masalah kepercayaan diri dan membuat seseorang jadi lebih mudah gugup. Apabila seorang penderita gagap berhadapan dengan situasi atau seseorang yang membuatnya gugup, maka reaksi pada tubuh yang sering terjadi adalah ketegangan yang terlihat saat berbicara yang dibarengi oleh gerakan-gerakan wajah, gerakan kaki, tangan, dan sebagainya.

“Ketika seorang penderita penyakit gangguan bicara gagap berada dalam stuasi di mana ia kesulitan mengeluarkan bunyi dari huruf dalam kata atau kalimat tertentu, ia akan merasa malu dan melakukan hal lain seperti menyentuh kacamatanya atau mengusap matanya untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang sedang ia ajak bicara,” kata Diane Paul, direktur penanganan masalah keterbatasan-bahasa untuk ASHA.

Ia lanjut menjelaskan, “Pengalihan fokus itu pasalnya ia lakukan untuk menutup kekurangannya dan juga untuk memulihkan hatinya dari perasaan malu yang kerap membuat sedih dan tidak percaya diri."

1 dari 2 halaman

Bantu penderita gagap atasi gangguan bicaranya

Gagap kronis lebih mungkin mengintai mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan bicara itu. Anak laki-laki diketahui lebih mungkin mengidapnya dibandingkan anak perempuan. Upaya pencegahan dini sangat dianjurkan bagi orangtua yang merasa anaknya mengalami kesulitan berbicara fasih dan menunjukan tanda-tanda gagap.

Jika sudah didiagnosa mengidapnya sejak usia kecil, maka sangat disarankan untuk sang anak mendapatkan perawatan sekaligus penanganan keterbatasan bahasa dari pihak medis yang profesional.

Seorang ahli patologi bahasa di Lancaster, Pennsylvania bernama Roberta Kornfield menyarankan orangtua yang anaknya terbukti gagap saat usia balita untuk lebih pelan-pelan mengeja kata dalam setiap kalimat yang dilontarkan pada anak.

“Orangtua berbicaranya harus pelan-pelan, mulai dari pengejaan dan juga pemilihan kata diutamakan singkat agar mudah dipahami dan dipelajari secara verbal nantinya oleh sang anak,” tuturnya.

Kornfield menerapkan strategi program Lindcombe yang terfokus untuk mengakali situasi gagap yang kerap membuat penderita gagap kurang percaya diri.

Strateginya, ketika seorang penderita sampai di titik di mana ia tidak lagi bisa meneruskan kata atau kalimat yang berusaha ia sampaikan, ia disarankan untuk memperpanjang pengeluaran huruf atau kata yang terakhir dilontarkan dari mulut dengan volumenya dinaikkan agar suara gagapnya tersamarkan.

Jika seorang penderita penyakit gagap sudah diajarkan hal-hal tersebut sejak usianya masih muda, ia cenderung akan lebih tangguh menghadapi situasi menegangkan lainnya yang membutuhkan kemampuannya berbicara.