Sukses

2,5 Tahun Hidup dalam Hening, Implan Koklea Bantu Aziza Mendengar

Liputan6.com, Jakarta Tak terbayangkan di benak Illian Deta Artasari, putrinya tidak bisa mendengar. Gangguan pendengaran yang dialami Aziza Sakhia termasuk kategori yang sangat tinggi. Alat bantu pendengaran pun tidak mampu mendukung pendengarannya. Satu-satunya solusi adalah Aziza menjalani operasi implan koklea.

Implan koklea menggantikan fungsi rumah siput di dalam telinga sehingga pasien bisa mendengar. Aziza Sakhia, yang waktu itu berusia 9 bulan harus ditinggalkannya demi melanjutkan gelar master di University of Melbourne, Australia. Illian baru kembali ke Indonesia saat Aziza berusia 2,5 tahun.

Selama kurun waktu 2,5 tahun, Illian dilanda kerinduan yang amat besar kepada Aziza. Saking merindukan putri ketiganya, rencana studi yang dijadwalkan selesai pada Desember 2016 dipercepat, ia diwisuda pada Juli 2016.

Sesampainya di Indonesia, rupanya Aziza belum dapat berbicara padahal usianya sudah 2 tahun. Akhirnya, Illian berdiskusi dengan suaminya, apa yang sebenarnya terjadi pada Aziza.

Pada awalnya, Illian dan suami berpikiran positif, keterlambatan bicara pada Aziza termasuk hal wajar.

"Kami berpositive thinking, telat bicara ya tidak apa-apa. Soalnya melihat juga kakaknya yang nomor dua begitu. Dia telat bicara tapi sekarang malah cerewet. Karena telat bicara, kami putuskan membawa Aziza ke klinik tumbuh kembang anak untuk terapi wicara. Ternyata itu membutuhkan surat pengantar dokter tumbuh kembang anak," kata Illian saat berbincang khusus dengan Health-Liputan6.com di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Kencana, Jakarta, Selasa (24/1/2017).

Diundang pada acara workshop media mengenai implan koklea pada Selasa lalu, Illian terlihat senang sambil menggendong Aziza. Kedua telinga Aziza dipasang implan koklea. Bahkan dengan penuh hangat, Illian menuturkan kisah haru yang dialami putrinya.

1 dari 4 halaman

Terkena cytomegalovirus (CMV)

Terkena cytomegalovirus (CMV)

Pemeriksaan dokter yang mendiagnosis Aziza tidak bisa mendengar bak bencana besar bagi Illian dan keluarga.

"Waktu pertama kali tahu anak saya tidak bisa mendengar. Sebagai orangtua, perasaan saya hancur sehancur-hancurnya. Bagi saya, ini adalah berita yang paling menyedihkan sepanjang hidup yang saya alami. Saya berpikir, bagaimana masa depannya; bagaimana dia tumbuh besar dan bekerja nanti; bagaimana dia berkomunikasi dengan orang;  apakah ada seseorang yang  menerima dan sayang padanya. Memikirkan semua itu membuat saya takut," paparnya penuh haru.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, penyebab Aziza tidak bisa mendengar dikarenakan diduga terkena virus cytomegalovirus (CMV), yang diklasifikasikan kelompok virus Herpes.

Demi mencegah munculnya virus, wanita sebaiknya memeriksakan diri melalui pemeriksaan TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex) sebelum kehamilan.

Namun, Illian tidak melakukan pemeriksaan TORCH. Ia menganggap kehamilannya yang mengandung Aziza normal dan tidak ada kendala kesehatan lainnya.

Aziza perlahan-lahan sudah bisa bicara dan bergaya. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

Tidak melakukan pemeriksaan TORCH ternyata memengaruhi janin. CMV yang diidap Aziza muncul karena ibu tak mencuci tangan setelah bersalaman dengan orang lain selama hamil.

"Jadi, harus sering-sering cuci tangan. Kalau kita hamil dan bersentuhan dengan orang lain yang punya virus aktif ya bakal terkena. Pengaruhnya langsung ke janin yang dikandung. Virusnya menyebar dari orang lain yang mereka habis mengucek mata atau mengusap air mata. Lalu salaman ke kita yang hamil, menyebarlah lewat sentuhan," tutur Illiana sambil menyuapi kue ke Aziza.

Ia juga menyarankan, ibu hamil harus selalu membawa antisieptik tangan. Jadi, tiap kali usai bersalaman dengan orang lain maupun usai memegang gagang pintu bisa langsung cuci tangan pakai antiseptik.

Hal ini dikarenakan virus ada di mana-mana dana kita tidak tahu siapa saja orang yang punya virus aktif.

2 dari 4 halaman

Keputusan memasang implan koklea

Keputusan memasang implan koklea

Keputusan Iliana dan suami yang bersedia putrinya dipasang implan koklea merupakan keputusan yang berat. Sebelumnya, dokter memberikan pilihan, apakah Aziza akan dipasang alat bantu dengar (ABD) atau implan koklea.

Dilihat dari gangguan pendengaran yang berat, dokter justru menyarankan Aziza menggunakan implan koklea. Itu berarti Aziza harus dioperasi untuk memasukkan unit dalam implan koklea.

Satu set implan koklea terdiri atas unit dalam dan unit luar. Unit luar berupa alat yang dipasang di telinga bagian luar.

Tak hanya cemas dengan Aziza yang menjalani operasi. Biaya implan koklea menjadi pikiran yang berat.

Gangguan pendengaran berat membuat Aziza dipasang implan koklea pada kedua telinganya. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

Satu set implan koklea berharga Rp 320 juta, sementara Aziza harus dipasang implan koklea pada kedua telinganya. Artinya, Illian memerlukan dana lebih dari Rp 500 juta untuk biaya operasi.

Berkat dukungan dari keluarga, kerabat, teman-teman termasuk teman-teman yang memiliki anak senasib dengan Aziza membantu pembiayaan. Demi kelancaran operasi, Illian gencar konsultasi dengan dokter dan terapis selama sebulan, sebelum operasi.

Pada 9 Desember 2016, Aziza dioperasi.

3 dari 4 halaman

Sudah bisa bilang Mama

Sudah bisa bilang "Mama"

Setelah menjalani operasi implan koklea, perlahan-lahan Aziza bisa mendengar. Illian menuturkan, Aziza kini tinggal menjalani proses rutin melakukan terapi. Di rumah, Illian juga melakukan terapi dengan mengajak Aziza mengobrol.

Keheningan selama 2,5 tahun sejak ditinggal ibunya ke Australia sirna, pasca operasi Aziza perlahan-lahan bisa berbicara dan bergaya. Aziza akan mulai bergaya saat kamera ponsel mengarah kepadanya.

Namun, ada satu hal yang sangat mengharukan bagi Illian.

"Sekarang Aziza sudah bisa bilang 'Mama', saya bahagia sekali mendengarnya. Dia bisa merespons apa yang saya katakan," ungkap Illian, yang berhenti bekerja sebagai wartawan di sebuah media. Ia fokus merawat Aziza.

Pasca operasi, Aziza masih harus rutin jalani terapi. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

Di sisi lain, Illian merasa bersyukur, apa yang dialami putri ketiganya bisa saja terjadi di desa-desa terpencil. Ibu-ibu yang di desa mungkin tidak tahu soal TORCH, CMV atau gangguan pendengaran lain.

"Setidaknya, saya masih beruntung soalnta jarang sekali kita mendengar penyakit ini di desa. Anak yang punya gangguan pendengaran atau tuli bisa saja dikucilkan, keluarganya juga dikucilkan," tutupnya.

Artikel Selanjutnya
Bocah Ini Rayakan Hari Jadinya Bersama Jantung Baru
Artikel Selanjutnya
Menyedihkan, Sindrom Langka Buat Gadis Ini Lahir Tanpa Muka