Sukses

Tanggapan PB PAPDI Soal Tindakan Zumi Zola

Liputan6.com, Jakarta Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI), Ari Fahrial Syam, menanggapi tindakan Gubernur Jambi, Zumi Zola, yang meluapkan amarah terhadap petugas kesehatan di RSUD Raden Mattaher.

Menurut Ari, Zumi Zola memang menjadi orang yang bertanggung jawab atas berbagai hal, termasuk rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan rujukan. Dan sah-sah saja jika orang nomor 1 di Jambi itu melakukan sidak guna mengonfirmasi laporan dari masyarakat atas pelayanan RS tersebut.

"Kita ketahui bahwa saat ini Direktur Utama RSUD Provinsi Jambi ini masih plt karena Dirut yang dipilih melalui proses lelang mengundurkan diri. Untuk menetapkan direktur utama RSUD provinsi yang tetap saja sang gubernur masih terkendala," kata Ari.

Dalam sebuah video yang menjadi viral di media sosial, tampak Zumi Zola masuk ke dalam sebuah ruangan dan mendapati sejumlah petugas jaga yang sedang tertidur. Bahkan, mantan pemain sinetron itu sampai menandang tempat sampah saat keluar dari ruangan.

Ari mengatakan, tindakan menendang tong sampah, salah-salah bisa berbahaya. Sebab, tong sampah di ruang perawatan rumah sakit secara umum terbagi dua, untuk sampah infeksius biasa berwarna kuning dan tempat sampah untuk non infeksius.

"Kalau saja kebetulan yang ditendang Zumi Zola adalah tempat sampah infeksius, tindakan gubernur juga akan membahayakan dirinya, tetapi juga pasien, dan petugas kesehatan lain," kata Ari dikutip dari keterangan pers yang diterima Health-Liputan6.com pada Senin (23-1-2017)

Lebih lanjut, yang Ari takutkan dari tindakan Zumi Zola kepada kepada petugas kesehatan malah dicontoh oleh masyarakat, saat mereka komplain terhadap petugas kesehatan.

"Padahal sudah ada aturan dan berlaku secara internasional bahwa dokter dan petugas tidak boleh bekerja di dalam tekanan," katanya.

Jika semua pasien atau keluarga pasien marah-marah seperti Zumi Zola, jelas akan memengaruhi kinerja petugas kesehatan.

Ari menerangkan, biasanya ada yang stand by untuk mengganti infus dan menemui pasien yang mengalami keluhan karena sakitnya. Begitu juga dengan dokter jaga ruangan, yang bertanggungjawab untuk banyak ruangan, setelah keliling bisa saja dokter beristirahat tetapi tetap dengan kondisi siap untuk datang jika dipanggil suster.

Ari tidak mempermasalahkan jika ada pejabat, seperti Zumi Zola, yang melakukan sidak. Terpenting, ada follow up setelah sidak, termasuk perbaikan sistem.

Di era JKN ini pasien rawat inap cenderung meningkat pada beberapa rumah sakit rujukan. Akhirnya jika memang para petugas lalai dalam melaksanakan tugas, harusnya ada sistem yang dibuat agar mereka diberikan sanksi sesuai dengan pelanggaran disiplin yang terjadi. Yang penting dari semua ini keselamatan pasien (patient safety) menjadi tujuan dari suatu pelayanan kesehatan.

 

Artikel Selanjutnya
Empati Dokter Afra Bangkitkan Kualitas Hidup Pasien Paliatif
Artikel Selanjutnya
Pasien BPJS yang Diminta Rp 50 Juta Dirujuk ke Palembang