Sukses

3 Alasan Khusus PT Kalbe Farma Kembangkan Obat Biologi

Liputan6.com, Cikarang, Bekasi PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui pabrik biosimiliar PT Kalbio Global Medika tengah mengembangkan produk biologi berupa obat-obatan berbasis bioteknologi. Beberapa upaya juga dilakukan berupa transfer teknologi dan mengirim para ilmuwan untuk mempelajari pembuatan obat biologi, yang dikenal obat biosimiliar ke Tiongkok dan Korea Selatan.

Kerjasama tersebut dilatarbelakangi teknologi pembuatan obat biologi di dua negara sudah maju. Produk bioteknologi ini berasal dari sel hiudp yang sudah direkayasa secara genetika.

Upaya tranfer teknologi produksi berpeluang besar untuk mencukupi kebutuhan banyak sel untuk produksi jangka panjang selama 30 tahun sampai 50 tahun ke depan.

Namun, apa alasan utama PT Kalbe Farma Tbk mengembangkan obat biologi, atau yang di kenal dengan obat biosimiliar?

Dalam sesi wawancara dengan Health-Liputan6.com, Direktur Pengembangan Bisnis PT Kalbe Farma Tbk Sie Djohan memaparkan alasan PT Kalbe FarmaTbk mengembangkan produk biologi ini.

Pertama, tren pengobatan ke depan akan  memasuki penggunaan produk biologi. Hal ini dilihat berdasarkan data 20 jenis produk obat-obatan terbaru yang ada di dunia.

Produk obat yang paling sukses dipasaran bahkan lebih dari separuh produk obat baru berupa produk bioteknologi.

1 dari 2 halaman

Nilai tambah Indonesia

Kedua, pengembangan obat biosimiliar menjadi nilai tambah Indonesia untuk membuat bahan baku sendiri dan tidak tergantung pada bahan baku impor.

"Berbeda dengan produk obat-obatan kimia. Untuk bahan baku obat kimia saja masih tetap impor. Oleh karena itu, kami sedang fokus mengembangkan produk biologi yang lebih besar dan sejalan sesuai pengembangan obat kesehatan di Indonesia," jelas Djohan saat ditemui di pabrik biosimiliar yang berlokasi di Cikarang, Bekasi pada Rabu, 18 Januari kemarin.

Ketiga, PT Kalbe Farma Tbk terus berupaya menyediakan akses pengobatan lebih mudah kepada masyarakat yang membutuhkan obat biosimilar.

Obat ini ditujukan kepada pasien yang menjalani cuci darah dan pengobatan kronis, seperti kanker.

"Kami optimis, pengembangan produk bioteknologi akan meningkatkan kemampuan memberikan pelayanan kepada pasien yang cuci darah. Orang yang cuci darah sekarang baru 30 persen tercukupi pemenuhan obatnya, sisanya 70 persen belum tercukupi. Setelah kami mendapatkan perizinan yang dibutuhkan untuk pengembangan obat biosimiliar, kamu akan produksi awal sebanyak 10 juta unit," tambah Djohan.

Artikel Selanjutnya
Indonesia Perlu Pusat Riset Kesehatan Global
Artikel Selanjutnya
Dari Cimanggis, Obat Produksi Bayer Diekspor ke 30 Negara