Sukses

Samuel Rizal: Basket Tak Sepopuler Bola di Tanah Air karena..

Liputan6.com, Jakarta Sosok Samuel Rizal sudah lama dikenal di industri perfilman serta dunia olahraga. Pria kelahiran tahun 1980 ini pertama kali membuat para wanita jatuh hati lewat perannya dalam film bernuansa cinta, Eiffel I’m in Love, dan horor, Tusuk Jelangkung.

Ia pun membuat para pria berdecak kagum dengan potensi main basket yang dinilai cukup luar biasa. Basket untuknya tak hanya sekadar permainan, olahraga, atau tren, tapi lebih dari itu.

“Bukan hanya sekadar basketball gear yang kita pakai, tapi bagaimana kita memainkannya dengan baik dan benar, serta untuk self-improvement,” ungkapnya kepada Health-Liputan6.com, ditulis Kamis (29/12/2016).

Pria yang akrab dengan panggilan Sammy ini bercerita dirinya pertama kali tertarik dengan olahraga basket saat mencoba melibatkan diri dalam aktivitas ekstrakurikuler basket di sekolahnya.

“Setelah ngambil ekskul basket, kebetulan langsung sreg,” ujarnya.

Sejak itu pun akhirnya Sammy berupaya untuk mempertajam potensinya di bidang tersebut. Meski sudah terbilang jago dalam olahraga basket, Sammy menyadari bahwa kepopuleran jenis olahraga terfavoritnya itu hingga kini belum bisa menyaingi sepak bola.

Menurut dia, ada sejumlah faktor kuat yang membuat olahraga basket tidak semenarik sepak bola.

"Rasanya ada pengaruh pada fasilitas lapangan basket di Tanah Air. Ibarat sepak bola, ada tanah lapangan, tidak perlu ada rumput, tinggal siapin sepasang sendal, jumlah pemain mencukupi, tinggal main,” ujarnya.

Selain keterbatasan fasilitas, Sammy juga berpendapat, keharusan menggunakan atribut tertentu yang memakan biaya cukup mahal, contohnya sepatu basket, membuat banyak orang jadi berpikir dua kali.

"Apakah olahraga bola basket bisa diakalin seperti perumpamaan sepasang sandal? Rasanya tidak, kan? Tapi saya yakin kalau fasilitasnya gratis atau murah, pasti jumlah penggemar olahraga bola basket bisa bertambah,” ujarnya.

Mengetahui adanya keterbatasan-keterbatasan tersebut, Sammy menilai sangat penting untuk fasilitas lapangan basket yang memadai diperbanyak jumlahnya.

Selain itu, pengadaan turnamen basket harus selalu dilakukan sekaligus mengeksposenya terus-menerus melalui media.

“Perbanyak fasilitas yang memadai, pembibitan sejak dini, perbanyak liga dan turnamen sesuai dengan KU (Kelompok Umur)—untuk umum, SD, SMP, SMU, PT, antar bank, antar media dan sebagainya,” ujarnya.

Artikel Selanjutnya
Penghuni Rumah Sempat Minum Air Hujan Misterius di Tebet
Artikel Selanjutnya
Ibu-Ibu Silangit Tak Perlu Lagi Bermalam untuk Air Bersih