Sukses

Leptospirosis, Penyakit Akibat Tikus Masih Terjadi di Jakarta

Liputan6.com, Jakarta Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto terkejut saat ditanya perihal Gerakan Basmi Tikus (GBT) yang digagas Pemprov DKI. Namun Koesmedi mendukung Gerakan Basmi Tikus yang dicetuskan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sebab tikus cukup meresahkan saat musim hujan tiba.

Menurut Koesmedi, sudah saatnya tikus-tikus itu dibasmi karena dapat menimbulkan beberapa jenis penyakit.

"Penyakit gara-gara tikus yang berkembang adalah PES dan leptospirosis. Dua penyakit itu yang harus diwaspadai," kata Koesmedi Priharto saat dihubungi Health Liputan6.com pada Rabu (19/10/2016).

Saat ini, ujar Koesmedi, kasus yang diakibatkan PES sudah tak terdengar lagi. Berbeda dengan leptospirosis yang kasusnya masih ada karena permukiman padat penduduk masih banyak dan musim hujan yang tak dapat ditolak.

"Biasanya sehabis hujan, lalu banjir, kasus leptospirosis akan muncul," kata Koesmedi.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau seluruh warganya untuk melakukan gerakan risolisasi. Segera bilas air hujan yang menggenang masuk ke dalam rumah, cuci lantai dengan cairan pembersih (risol), dan dibersihkan sehingga kencing tikus tak menempel.

Wakil Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, berpendapat sama. Pola hidup masyarakat yang masih buruk, masih suka membuang sampah sembarang, turut menyumbang perkembangbiakan tikus got menjadi subur.

"Kalau masyarakat lebih mengerti kebersihan dan kesehatan, saya kira tikus got enggak dapat makan dari sampah yang dibuang sembarangan," kata Ali.

Terkait Gerakan Basmi Tikus ini, Wagub Djarot ingin mempercepat penangkapan tikus yang menyebabkan banyak penyakit. Oleh karena itu, yang bisa menangkap tikus-tikus itu, akan diberi upah Rp 20 ribu untuk satu tikus yang ditangkap.