Sukses

Kisah Pilu Pria Penderita Sakit Lambung Berujung Idap Kanker Usus

Liputan6.com, Jakarta Tidak ada yang menyangka bahwa ternyata pria berusia 55 tahun bernama Rachman Said menderita kanker usus besar, setelah sebelumnya dipastikan oleh dokter ia hanya mengalami masalah pada lambungnya saja.

Istri dari seorang penderita kanker usus bernama Rachman Said ceritakan suka duka yang dialami sang suami dan sekeluarga.

Sejak bulan November awal tahun 2013 lalu, Rachman tiada henti mengeluhkan rasa sakit yang ia rasakan di bagian perutnya.

“Itu sakitnya tiba-tiba, hari Minggu itu abis dari bengkel masukin mobil. Pas pulang katanya ‘saya tidur dulu ya, ngantuk.’ Udah gitu, itu nggak bisa bangun dari kasur dan itu langsung enggak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa tidur,” kata istrinya Ria Nahdalina (51) kepada Health Liputan6.com saat ditemui di rumahnya di kawasan Bekasi, ditulis Rabu (5/10/2016).

Karena Rachman tak kunjung membaik kondisinya, Ria pun akhirnya memutuskan untuk membawa suaminya ke rumah sakit agar bisa diperiksa lebih lanjut.

Namun diagnosis pertama dokter di salah satu rumah sakit besar di wilayahnya itu menunjukan bahwa Rachman hanya mengalami luka pada bagian lambungnya saja.

“Katanya luka lambung dan dikasih obat aja boleh pulang, tapi di rumah semakin sakit,” ujarnya.

Melihat suaminya tak kunjung sembuh, Ria akhirnya kembali memutuskan untuk membawa Rachman ke rumah sakit namun berbeda dari sebelumnya.

Diagnosis dokter kedua pun juga sama yaitu, berhubungan dengan lambung, atau maag akut. Rachman akhirnya dirawat di rumah sakit tersebut dan diharuskan menghabiskan dua botol obat yang dialirkan ke dalam darahnya melalui pipa lunak infus dalam waktu sehari.

 “kata dokternya, itu infusan obat maag yang paling manjur,” tutur Ria.

Mengetahui yang terburuk

Sayangnya perawatan khusus rumah sakit tersebut tidak juga membuat Rachman menjadi lebih baik kondisinya.

Menyadari kondisi sang suami yang semakin hari semakin mencemaskan, Ria pun beralih ke dokter klinik di dekat rumahnya. Dokter di klinik tersebut menyarankan untuk Rachman melakukan tes USG. Setelah dites, ia mendeteksi adanya pembengkakan pada organ dalam perut.

Ini cukup membingungkan karena sebelumnya Rachman juga sudah dites USG di rumah sakit besar namun tidak ada perkataan dokter yang mengacu pada pembengkakan atau kondisi serius lainnya.

Ia pun langsung dirujuk ke rumah sakit besar untuk melakukan tes pemeriksaan secara keseluruhan. Disitulah akhirnya dokter mengatakan bahwa kemungkinan bengkak di perutnya adalah tumor, namun belum diketahui apakah tumor tersebut jinak atau ganas.

“Waduh perasaannya, aduh gimana ya--langsung mikir ke anak-anak. Tapi akhirnya saya harus kuat agar suami juga kuat,” ungkapnya.

Tanggapan dokter awalnya seolah meremehkan dan meyakini penyakit tersebut tidak berdampak buruk lantaran hanya meresepkan obat minum saja untuk Rachman. Namun semua langsung berubah menjadi ketar-ketir saat Rachman mulai tidak sadarkan diri malam harinya.

Dokter pun langsung bergegas untuk melancarkan tindakan medis yaitu operasi besar untuk menyelamatkan Rachman.

“Soalnya kalau malam Minggu itu tidak langsung dilakukan operasi, dokternya takut Rachman tidak sadarkan diri terlalu lama,” terangnya.

Ternyata betul di dalam perut Rachman ada tumor ganas alias kanker yang menyerang usus besarnya. Ia dipastikan sudah masuk ke dalam golongan Stadium 3A.

“Di daging di ususnya itu, kankernya itu bulet-bulet gitu dan warnanya putih abu-abu,” sang istri menjelaskan.

1 dari 3 halaman

Ketika kanker menjalar

Setelah operasinya selesai, dokter memintanya untuk melakukan kemoterapi. Namun akibat kondisinya yang sangat lemah setelah pulang dari rumah sakit, Ria dan anak-anaknya tidak menyetujui jika suaminya menjalani pengobatan tersebut.

“Dokter selalu maksa untuk kemo tapi kita belum mau, karena kondisi Rachman yang seperti itu. Berat badan hanya 46 kg, sudah enggak bisa ngapa-ngapain, kita takutnya dengan kemo itu semakin ngedrop,” Ria lanjut menjelaskan.

Selain kondisi badan yang lemah, menurut Ria, penolakan terhadap opsi kemoterapi juga dipengaruhi oleh faktor biaya yang menurutnya lumayan mahal.

Apalagi disamping itu, kebutuhan-kebutuhan lain juga masih membayangi mereka berdua, dengan keempat anaknya.

Beberapa hari kemudian pasca tindakan operasi besar, Rachman dan Ria mengunjungi tempat pengobatan alternatif. Mereka mengandalkan pengobatan alternatif ini untuk kedua kalinya beberapa waktu kemudian.

Meski berniat irit dan menghindari rasa sakit kemoterapi, Rachman tetap harus melakukan pemeriksaan rutin enam bulan sekali di rumah sakit untuk mengecek kondisi tubuhnya dan mencari tahu keberadaan kanker tersebut dalam tubuhnya, apakah masih ada atau tidak atau apakah sudah menjalar ke bagian lain.

Pemeriksaan rutin tersebut harus dilakukan dalam jangka waktu lima tahun yaitu sampai bulan November tahun 2018 nanti. Setelah itu baru dirinya bisa mengetahui apakah sudah bebas kanker apa belum.

”Kita kan tetap periksa kadar kankernya ya 1, 3, hingga 6 bulan. Setelah dua kali itu (ke pengobatan alternatif), tiba-tiba kadar kankernya itu turun, dokternya juga bingung,” Ria menceritakan.

Meski pun begitu, mereka tidak tahu pasti apakah kankernya betul-betul hilang karena pengobatan alternatif atau karena sudah menjalar ke lokasi lain. Pada bulan Desember tahun 2015 lalu Rachman diketahui mengalami kesakitan begitu parah pada bagian kepalanya.

Ini dikarenakan kankernya ternyata sempat menjalar dan menyerang bagian otaknya. Terlebih lagi, Rachman juga dihadapi kondisi tak menyenangkan pada bagian tubuh lain.

"Pahanya terkadang terasa seperti terbakar ada bintik-bintik hitam dan itu sakit banget katanya. Itu efek dari kankernya, dan kepala juga sudah mulai botak walaupun tidak pernah kemo dari tahun 2013, hanya pengobatan alternatif saja,” pungkasnya.

Menurut dokter yang menangani Rachman, hal tersebut memang merupakan efek dari kanker usus, yang tidak hanya menyerang usus besar namun juga bisa menyerang otak ataupun tulang pahanya, sehingga menyebabkan rasa sakit dan menyebabkan munculnya noda hitam di bagian tubuh tersebut.

2 dari 3 halaman

Perubahan besar hingga kembali stabil

Setelah tahu bahwa dirinya menderita kanker usus besar, Ria menilai bahwa ada perubahan emosi pada suaminya sejak saat itu. Ia melihat bahwa suaminya sekarang memiliki emosi yang lebih tinggi dan tidak teratur.

“Saat sakit itu emosinya, uh, enggak bagus, marah-marah terus. Merasa mungkin enggak terima ya, enggak terima kalau dia sakit sebagai kepala rumah tangga,” sang istri menuturkan.

Untung saja, saat dirawat dulu di rumah sakit, Ria dan anak-anaknya didampingi oleh seorang psikolog. Psikolog tersebut memiliki peran kuat untuk membantu istri Rachman beserta anak-anaknya menghadapi kepala rumah tangganya yang sedang sakit, terlepas dari sulit atau mudahnya upaya itu.

“Iya, memang butuh kesabaran. saya cuma bilang, ‘ingat, bahwa dengan emosi itu malah akan memperburuk keadaan jadi semakin parah,’ katanya. Dan untungnya, hal ini bisa lumayan mengurangi emosinya sedikit demi sedikit," Ria melontarkan pesan yang ia sampaikan pada suaminya.

Semuanya, mungkin diakibatkan oleh makanan dan minuman yang kerap dikonsumsi padahal tidak baik bagi kesehatan tubuh.

Sang istri menceritakan bahwa Rachman suka mengonsumsi mie goreng dan makanan yang mengandung santan, seperti salah satunya makanan Padang. Bahkan minum kopi pun, bisa beberapa kali dalam sehari.

“Senengnya makanan padang, kayaknya kalau di kantor sering banget makannya makanan padang. Kalau mie, seringlah dalam seminggu dan di kantor pun ngopinya kuat,” ungkapnya.

Menurutnya, suaminya bahkan bisa meminum kopi sebanyak tiga hingga empat kali dalam sehari sebelum ia terkena kanker usus besar. Terkadang Rachman juga bisa lupa makan dan membayar rasa laparnya saat makan malam dengan mengonsumsi asupan makanan dalam kadar berlebihan.

“Iya, kadang kalau di kantor enggak makan, jadi pas sampe rumah sebelum maghrib gitu kelaparan banget. Jam makannya juga yang enggak teratur," tambahnya.

Suaminya juga pernah mengalami gejala seperti sakit maag, satu tahun sebelumnya dirinya ketahuan memiliki kanker usus besar.

Mulai beradaptasi

Untungnya, sekarang pola makan Rachman sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu. Sang istri menilai Rachman sudah lebih teratur dalam hal tersebut dan bahkan sudah berhenti minum kopi.

Rachman juga diketahui sudah mulai mengurangi konsumsi makanan mengandung santan dan mie secara drastis.

“Sangat berkurang santannya. Sate aja om enggak mau, karena kan bahaya (makanan) bakar-bakaran untuk yang kanker,” kata Ria.

Ria pun saat ini juga rajin menyajikan minuman-minuman yang terbuat dari bahan alami untuk bantu cegah kanker sang suami dari potensi merajalela.

“Daun sirsak tante rebus lima, sehari sekali,” katanya.

Ria dan anak-anaknya hingga kini tidak pernah berhenti menyemangati Rachman  agar lebih termotivasi menjalani hidup.

” Ya kita hanya bilang, meninggal itu bukan punya yang sakit saja, tapi yang sehat pun juga bisa. Jadi enggak usah dipikirin kita punya penyakit, enjoy aja,” tutupnya.