Sukses

Ini Alasan Obat Antidepresan Tak Selalu Manjur Atasi Depresi

Liputan6.com, Jakarta Depresi merupakan gangguan pada kesehatan manusia yang tidak hanya mempengaruhi psikis seseorang saja namun juga kondisi fisiknya secara keseluruhan. Mereka yang mengalami depresi akut biasanya mengandalkan jenis obat-obatan antidepresan golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) seperti Prozac dan Zoloft.

Kedua merek antidepresan tersebut sudah cukup lama menjadi solusi jutaan orang di seluruh dunia untuk mereka atasi masalah sekaligus gejala terkait depresi. Pasalnya, kedua jenis antidepresan golongan SSRIs itu dirancang secara spesifik untuk pacu hormon serotonin dalam tubuh agar lebih aktif perannya dalam segala kegiatan dan aktivitas otak.

Hormon serotonin dalam tubuh bekerja sebagai pengatur aktivitas sel-sel tertentu dalam tubuh. Zat penting dalam tubuh ini kerap kali dideskripsikan sebagai instrumen tepat dalam tubuh untuk bantu perbaiki suasana hati dan juga penghindar dari rasa kesedihan.

Kadar serotonin yang rendah atau berkurangnya tingkat keaktifan zat tersebut dalam tubuh sering diasosiasikan dengan depresi lantaran dianggap sebagai salah satu dampaknya. Jadi, tidak heran apabila penderita depresi sering diberikan obat antidepresan golongan SSRIs terlepas dari apa pun alasan yang mendasari kondisi tersebut.

Umumnya mereka yang terserang depresi dianggap kurang aktif hormon serotonin-nya sehingga peran SSRIs sangat diperlukan untuk memicu keaktifan hormon tersebut kembali.

Meski terbukti sudah bantu jutaan orang di dunia atasi masalah depresi mereka masing-masing, sayangnya antidepresan juga memiliki efek samping yang mana bukan perlahan-lahan memulihkan penyakit depresi, namun justru memperburuk kondisi penderitanya.

Melansir Medical News Today, Rabu (7/9/2016), sejumlah kasus membuktikan bahwa beberapa orang justru dihadapi masalah seperti peningkatan rasa ketakutan atau kecemasan melampaui batas normal pada fase awal pengonsumsian obat anti-depresi SSRIs tersebut.

Terlebih lagi, rasa ketakutan kerap diiringi pikiran negatif seperti keinginan untuk bunuh diri. Pasalnya, hampir semua penderita yang tersiksa oleh efek sampingnya memilih untuk berhenti konsumsi SSRIs. Ada yang bersifat sementara, ada juga yang memutuskan untuk berhenti selamanya.

Peneliti di University of North Carolina Medical School, Chapel Hill, North Carolina, Amerika Serikat menjelaskan fakta bahwa suasana hati yang baik atau buruk tergantung pada lokasi dalam otak di mana serotonin sedang beraksi.

Serotonin yang bekerja atau bergerak melalui sirkuit tertentu akan membantu tingkatkan mood baik seseorang. Namun, apabila hormon tersebut bergerak melalui sirkuit otak lain, efeknya akan sebaliknya. Jadi, meski pun orang depresi sudah diberikan SSRIs yang mana berperan sebagai penggerak serotonin, seseorang tidak akan bisa miliki suasana hati baik sepenuhnya lantaran hormon tersebut melaju di jalur atau sirkuit yang salah dalam otak manusia.