Sukses

Perjuangan Pria Ini Lawan Penyakit Multiple Myeloma

Liputan6.com, Jakarta Siapa yang menyangka bahwa kanker ternyata bisa dialami oleh bapak dua anak ini yang juga merupakan pemilik perusahaan branding consultant, Ato Hertianto Djajasasmita (47). Pria yang biasa disapa Ato didiagnosis mengidap kanker sumsum tulang belakang saat ia dan keluarganya sedang berlibur ke Singapura.

Awalnya, ia merasakan sakit di bagian pinggang dan punggung , hal yang sering dialami oleh pria kebanyakan. Pada November 2010, Ato merasa semakin sakit punggungnya hingga ia pun memutuskan untuk pijat.

“Kirain kayak salah urat biasa, jadi tiap minggu pijat, dan urut. Memang setelahnya badan enakan. Tapi paginya sakit kambuh lagi,” ujarnya saat berbincang dengan Health-Liputan6.com di gedung Love Pink, Jakarta beberapa waktu yang lalu, ditulis Sabtu (3/8/2016).

Usaha Ato tak berhenti sampai situ saja. Ia pun mencoba cara lain yaitu dengan menempelkan koyo di bagian yang sakit. Tak puas, ia pun pergi ke dokter untuk melakukan rontgen, bone scan, dan CT Scan tetapi penyebabnya masih belum diketahui.

1 dari 4 halaman

Jalani Fisioterapi

 

Awal 2011, Ato merasakan sakit yang tak tertahankan. Ia pun pergi ke fisioterapi dengan harapan sakitnya bisa berkurang.

“Saya ke fisioterapi selama tiga bulan. Semula seminggu sekali, terus meningkat jadi tiga kali dalam seminggu. Bukannya sembuh saya malah harus pakai tongkat pada pertengahan Januari karena sudah enggak kuat jalan," lanjutnya.

Meski kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, namun Ato tetap pergi berlibur ke Singapura bersama keluarga. Selama perjalanan dirinya hanya bisa duduk sambil tiduran. "Soalnya kalau tidur di kasur, mau pindah posisi itu sakit," ujarnya.

Di Singapura dirinya bertemu dengan temannya yang kala itu ingin cek up. Ato pun diajak memeriksakan kondisinya tersebut. Setelah di rontgen, ternyata menurut dokter tulang belakangnya sudah seperti spons. Ia pun dirujuk untuk ke onkologi untuk ambil darah.

2 dari 4 halaman

Terserang kanker multiple myeloma

 

Darahnya menunjukkan 99 persen terkena multiple myeloma, yaitu jenis kanker yang menyerang sel plasma pada tulang sumsum penderita.

“Pas saya dikasih tahu, rasanya kayak dunia berhenti berputar dan runtuh. Saya langsung ingat wajah anak, istri saya, dan karyawan-karyawan kantor saya. Saya diberitahu bahwa saya sudah stadium 3b,” ungkapnya.

Ato pun ingat, pada 1996 ibunya sempat menderita kanker kelenjar getah bening. Diyakini Ato semua ini akibat gaya hidup yang kurang sehat.

“Karena saya tinggal satu rumah sama ibu, kemungkinan besar gaya hidup saya dan ibu sama. Tapi kalau gen, kemungkinannya kecil sekali. Gaya hidup termasuk stres, karena stres juga bisa memunculkan banyak penyakit. Waktu umur 25 sampai 40, saya peminum gila. Pokoknya sembarangan deh. Usia 25 sampai 30 saya juga minum soda. Malah waktu di Jerman, saya sempat masuk rehabilitasi soda,” paparnya.

Bersama istri, Ato pun berunding untuk menentukan tempat berobat yang akan didatangi. Padahal Singapura menjadi pilihan terakhir, namun dokter kanker di Indonesia justru merujuknya untuk berobat di sana.

"Saya maunya berobat di Indonesia tapi dokter di sini justru menyarankan untuk berobat ke Singapura dengan bugdet yang bisa diatur," kenangnya.

Selama dua bulan Ato pun harus bolak-balik Jakarta-Singapura untuk suntik dan kemoterapi. Sampai akhirnya ia pun meminta dokter untuk mengajari dirinya nyuntik sendiri.

“Bolak-balik Jakarta-Singapura berasa juga budgetnya, jadi saya belajar dari dokter untuk menyuntik sendiri. Nyuntiknya di bagian perut dengan jarak 3 jari dari pusar, kanan dan kiri,” katanya. 

Ato merasakan efek samping usai kemoterapi yaitu tubuh lemas, capek, mulas, panas dingin, serta sendi sakit. "Kalau malam ke bangun untuk ke kamar mandi, di bantal itu rambut semua."

3 dari 4 halaman

Minum rebusan daun sirsak

 

Selain menjalani kemoterapi, ia juga rajin minum rebusan daun sirsak. Ato mengakui hikmah dibalik penyakit yang dideritanya, yaitu lebih dalam mempelajari agama. 

”Saya seorang muslim, tapi jujur saja bukan muslim yang baik. Karena sebelumnya solat saya enggak rajin. Dengan sakit ini, saya jadi rutin solat, dalam doa saya nangis. Saya juga menjalani semuanya sampai solat tahajud. Pokoknya belajar agama sehingga saya bisa ikhlas menjalani sakit ini," tambahnya.

Layaknya manusia lain, Ato pun sempat merasakan tak memiliki semangat. Namun dukungan keluarga, teman-teman, membuat dirinya kembali bangkit.

“Yang buat kuat dan semangat hidup adalah support dari keluarga dan teman-teman. Kalau di game itu kayak XP-nya nambah. Support itu jadi obat penambah kuat dan motivasi,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Ato, berperang dengan kanker tidak boleh kalah. "Cancer is all about battle. Ini masalah perang jadi kita harus melawan penyakit itu. Kalau menang perang itu biasa tapi perjuangan dalam peperangannya itu yang luar biasa," tandasnya penuh semangat.