Sukses

Bukan Parkinson, Ini Alasan Lain Tangan Anda Sering Tremor

Liputan6.com, Jakarta Pernahkah tangan anda tiba-tiba gemetar atau tremor tanpa sebab? Tangan tremor kerap diasosiasikan dengan penyakit Parkinson. Namun sebetulnya, gejala seperti tangan gemetar bisa juga mengindikasikan terjangkitnya penyakit lain seperti, Tremor Essential.

Melansir CBC California, Jumat (2/9/2016), Tremor Essential adalah penyakit tremor atau tangan gemetar yang umumnya timbul pada masa dewasa. Tremor ini muncul secara perlahan-lahan dan menjadi semakin nyata seiring dengan bertambahnya usia seseorang.

Penyakit yang pada dasarnya bersifat ringan ini tidak memiliki penyebab pasti. Meski tidak secara langsung memberikan dampak serius yang dapat mengancam keberlangsungan hidup sang penderita, Tremor Essential dinilai memiliki potensi tinggi menjadi sebuah gangguan dalam kehidupan seseorang.

Ini dikarenakan Tremor Essential mempengaruhi tulisan tangan, keterampilan dan juga kemampuan penderita untuk menggunakan perkakas atau melakukan hal mudah lainnya.

Tangan yang tremor akan membuat tulisan seseorang kurang rapi, kemudian membuat mereka yang menderitanya kesulitan untuk mengenakan pakaian, menuangkan air ke gelas, dan aktivitas lain yang seharusnya tidak sulit dilakukan.

Pasalnya, penyakit tremor mendatangkan tekanan psikologis yang cukup besar bagi para penderitanya, terutama yang sudah lanjut usia.

Penderita akan merasa ‘dipermalukan’ oleh penyakitnya ini ketika gagal untuk melakukan sesuatu yang simple di depan orang lain. Terlebih,Tremor Essential kerap muncul saat seseorang sedang emosi, sedih, gelisah atau senang.

Ini membuat mereka kurang percaya diri bahkan ketika perasaannya sedang dalam kondisi baik atau senang. Bukan hanya kehilangan rasa percaya diri dalam segala situasi, penderita Tremor Essential juga akan selalu dihantui perasaan takut, gelisah dan putus asa lantaran segala aktivitas apa pun yang dilakukannya membutuhkan waktu yang lebih lama dari durasi orang normal.

Selain itu, tangan gemetar bisa mempengaruhi pergaulan sang penderita juga, membuatnya lebih tertutup dan enggan untuk bersosialisasi lagi.

Kondisi ini bisa menjadi lebih parah ketika diperberat dengan hal-hal seperti stres, kecemasan intens, kelelahan, asupan kafein berlebih, obat perangsang dan obat-obatan untuk penyakit asma.
1 dari 2 halaman

Teknologi ampuh untuk sembuh

Tremor Essential tidak bisa didiamkan begitu saja. Meski dinilai tidak mengancam kesehatan dalam skala besar, keluhan tentang dampaknya pada psikis penderita semakin nyaring terdengar.

Salah satu negara dengan jumlah penderita Tremor Essential terbanyak adalah Kanada. Menanggapi dengan serius keluhan para penderita, Departemen Kesehatan negara tersebut berkeputusan untuk menyetujui sebuah prosedur medis yang dirancang untuk membantu proses pemulihan pada penderita Tremor Essential.

Prosedur medis tersebut berupa teknologi yang dinamakan ‘MRI-Guided Focused Ultrasound’. Teknik yang digunakan bersifat non-invasive yang berarti pasien tidak perlu takut akan proses seperti pembukaan bagian kepala menggunakan peralatan operasi yang tajam.

“Ini merupakan suatu terobosan baru yang luar biasa, mampu mengubah nasib seseorang!” ungkap seorang ahli bedah saraf di Sunnybrook, Dr. Nir Lipsman.

"Ini benar-benar mengubah cara kita berpikir soal penanganan kasus tremor. Tidak memerlukan pisau ataupun benda tajam lainnya dalam penindakan,” lanjutnya.

Ini dikarenakan teknik tersebut mengandalkan kemampuan mesin MRI dan ultrasound tanpa harus membedah bagian kepala pasien. Gelombang ultrasound dipandu oleh MRI dalam upaya pencarian salah satu bagian dalam otak yang disebut thalamus.

Saat terdeteksi, gelombang ultrasound dengan frekuensi tingginya berperan sebagai penghancur sel-sel saraf yang menjadi alasan terjadinya Tremor Essential pada penderita.

“Teknologi ini merupakan instrumen untuk membantu proses pemulihan jutaan orang dengan masalah dan penyakit otak,” Direktur bidang ilmu fisika di Pusat Penelitian dan Riset Sunnybrook, Dr. Kullervo Hynynen menambahkan.

Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Medicine of New England.