Sukses

Penderita HIV dengan Depresi Berisiko Kena Serangan Jantung

Liputan6.com, Jakarta- Menurut sebuah penelitian terbitan JAMA Cardiology, lebih dari 26.000 penderita  Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang juga  mengalami depresi sangat rentan untuk terkena serangan jantung.  

Munculnya terapi antiretroviral sangat efektif untuk meningkatkan kelangsungan hidup lebih lama pada penderita HIV, namun sekarang mereka mengalami peningkatan risiko penyakit kardiovaskular (CVD).

Hal ini pun menyebabkan adanya kebutuhan mendesak untuk mengidentifikasi faktor risiko dan pencegahan penyakit kardiovaskular pada HIV. Walaupun rasa depresi sangat lazim terjadi pada orang dewasa yang terinfeksi HIV.

Peneliti dari Vanderbilt University School of Medicine, Nashville, Matthew S. Freiberg, M.D., M. Sc, melakukan penelitian yang mencakup 26.144 veteran yang terinfeksi HIV tanpa CVD, dari tahun 1998 sampai 2003. Mereka berpartisipasi dalam U.S. Department of Veterans Affairs Veterans Aging Cohort Study, dari bulan April 2003 sampai Desember 2009. Pada awal studi, 4.853 veteran (sekitar 19 persen), teridentifikasi dengan gangguan depresi mayor.

Rata-rata usia yang mengalami gangguan tersebut adalah 47 tahun dan yang tidak mengalaminya adalah 48 tahun. Selama 5,8 tahun penelitian, 490 infark miokard akut (IMA, serangan jantung) terjadi. Setelah penyesuaian demografi pada faktor risiko penyakit kardiovaskular dan HIV, para peneliti menemukan bahwa orang dewasa dengan HIV yang juga mengalami gangguan depresi, memiliki risiko 30 persen lebih besar mengalami serangan jantung, dibandingkan dengan orang dewasa HIV tanpa gangguan tersebut.

Namun risiko serangan jantung tersebut berkurang hingga 25 persen setelah penyesuaian lebih lanjut pada faktor lain, seperti infeksi hepatitis C, penyakit ginjal, alkohol, penyalahgunaan kokain, dan tingkat hemoglobin.

“Temuan kami meningkatkan kemungkinan bahwa, mirip dengan populasi umum, MDD dapat secara independen terkait dengan insiden aterosklerosis CVD pada populasi yang terinfeksi HIV. Namun mengingat studi mengenai hal ini masih langka maka dibutuhkan studi epidemiologi dan mekanistik lebih lanjut di masa depan yang mencakup wanita dan non-VA populasi dengan HIV,” tulis para peneliti.