Sukses

Isolasi Diri Bukan Solusi untuk Tangani Depresi

Liputan6.com, Jakarta- Pernah merasa depresi? Depresi merupakan hal yang jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan stres. Stres bersifat sementara dan lebih bisa ditangani dengan mudah, sementara depresi cenderung berkepanjangan dan terkadang bisa membawa dampak buruk terhadap keberlangsungan hidup seseorang secara keseluruhan.

Banyak orang yang terserang depresi memutuskan untuk mengisolasi diri lantaran berpikir bahwa dirinya tidak mau atau pun tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. Namun, menjauhkan diri dari orang atau melakukan hubungan antarsesama manusia akan membuat seseorang yang sudah depresi menjadi lebih parah dari sebelumnya.

Ini karena ia tidak membuka peluang untuk dirinya meluapkan kesedihan, amarah atau kekecewaan kepada siapa pun. Alhasil, semua tekanan ia tahan sendiri di dalam lubuk hatinya dan justru membuatnya sakit, bahkan terkadang membahayakan fisiknya.

Melansir The Guardian, Kamis (25/8/2016), sebuah penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan di University of Washington, Amerika Serikat, mengungkap fakta bahwa seseorang yang terserang depresi sebetulnya harus banyak menghabiskan waktu beraktivitas dengan manusia lainnya.

Apa pun itu bisa saja di kelas menari, melukis, atau sekadar berjalan-jalan ke mal, seseorang yang terserang depresi kemungkinan untuk sembuh dan berpikir positif lebih besar saat dirinya berkomunikasi dengan manusia lainnya. Menyendiri akan membuatnya jauh lebih depresi.

“Kebanyakan orang yang depresi merasa mood mereka naik-turun sehingga takut untuk berkomunikasi atau menghabiskan waktu dengan orang lain. Sebetulnya dengan beraktivitas bersama orang lain dirinya akan secara perlahan-lahan melupakan masalahnya sekaligus membuatnya merasa lebih terhubung dengan orang lain,” kata salah seorang ilmuwan, David Richards.

Menurutnya, hubungan di antara manusia--baik yang kenal atau pun tidak--sangat penting dalam proses pemulihan seseorang yang tengah diserang depresi.