Sukses

Prof Eka: Butuh Bertahun-tahun Pasien Percaya Kemampuan Saya

Liputan6.com, Tangerang - Kabarnya, banyak pasien-pasien dari daerah perbatasan dengan negara tetangga memilih untuk berobat ke Malaysia atau Singapura. Selain lebih dekat, harga lebih murah, serta profesionalitas tenaga kesehatan di sana dianggap lebih baik.

Namun hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi. Berdasarkan pengalaman dokter spesialis bedah saraf Rumah Sakit (RS) Siloam Karawaci Tangerang, Profesor DR. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, banyak juga pasien yang tinggal di daerah perbatasan mempercayakan kesehatan padanya.

Profesor DR. dr. Eka Julianta Wahjoepramono

Mulai dari pasien dari Batam hingga Kalimantan yang dekat dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia. Baginya, kepercayaan pasien-pasien tersebut kepadanya membuatnya bangga dan dihargai.

"Pasien saya orang Batam, naik feri ke Singapura setengah jam juga sampai. Lalu yang di Medan lebih mudah ke Penang daripada Jakarta. Tapi mereka memilih ke sini. Nah itu membuat saya bangga, membuat saya dihargai," kata pria yang akrab disapa Prof Eka di sela acara 3D Cinema Lectures di Lippo Village Tangerang, Sabtu (13/8/2016).

Namun untuk bisa membuat pasien mempercayakan kesehatan pada dirinya tak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ia butuh 20 tahun untuk mencapai kesuksesan mendapatkan kepercayaan tersebut.

"Operasi pertama saya pada 1996, dan butuh waktu hingga 20 tahun untuk membuktikan pada masyarakat. Bukan setahun langsung bisa," katanya.

Pria yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan ini pun setuju dengan pembuktian, masyarakat baru bisa yakin kemampuannya tidak kalah dari dokter-dokter luar negeri.

Kini, pasiennya tak hanya dari dalam negeri. Warga negara asing seperti dari Amerika Serikat juga ada yang menjadi pasiennya.

 Profesor DR. dr. Eka Julianta Wahjoepramono SpBS