Sukses

Pesta Terakhir Wanita dengan ALS

Liputan6.com, Jakarta Pada awal Juli, Betsy Davis mengirim email undangan pada teman-teman dekat dan kerabatnya untuk datang ke acara pesta terakhir yang ia sebut sebagai “kelahiran kembali.” 

Ia menulis di emailnya, “Keadaan ini tidak seperti pesta yang biasanya Anda hadiri sebelumnya, karena membutuhkan stamina emosional, keterpusatan, dan keterbukaan.”

Betsy Davis Throws Party Before Ending Her Life

Davis, seorang seniman 41 tahun dari California, telah menghabiskan tiga tahun terakhir kehilangan kontrol tubuhnya karena penyakit ALS atau penyakit Lou Gehrig. Ia telah merencanakan pesta tersebut, sebagai ucapan selamat tinggal sebelum menjadi salah satu warga California pertama yang mengonsumsi obat mematikan di bawah hukum baru, dibantu dokter yang menangani pasien dengan sakit parah. Hukum tersebut telah disahkan di California dengan memberikan pilihan pada pasien yang sakit parah, untuk mempercepat kematian.

“Peserta acara ‘kelahiran kembali’, Anda semua sangat berani untuk mengantarkan saya dalam proses selanjutnya. Tidak ada aturan dalam pesta ini. Pakailah apa yang Anda mau, katakan apa yang Anda pikirkan, menari, melompat, bernyanyi, berdoa. Tapi hanya satu aturan, Anda tidak boleh menangis di depan saya,” tulisnya dalam email undangannya, dilansir dari People, Sabtu (13/8/2016).

Davis mengundang lebih dari 30 teman dan keluarga untuk bergabung dengannya di sebuah rumah yang indah di Ojai pada 23 sampai 24 Juli.

Sepanjang malam tersebut, Davis yang duduk di kursi roda listriknya, berinteraksi dengan masing-masing pendamping dan melihat fashion show, di mana ia sendiri yang memilih pakaian untuk setiap tamu dan modelnya.

Rasa cinta dan tawa mengisi rumah tersebut. Para tamu juga menikmati makanan yang disajikannya. Namun saat waktunya tiba, para teman dan keluarganya mencium dan mengucapkan selamat tinggal, serta berkumpul untuk melakukan foto bersama.

Saat senja mulai turun, Davis didorong menggunakan kursi rodanya ke kanopi di atas bukit, di mana ia melihat matahari terbenam terakhirnya. Ia mengenakan kimono Jepang yang dibelinya saat melakukan perjalanan ke Jepang, setelah ia didiagnosis penyakit ini di tahun 2013.

Kemudian, ia mengambil obat yang merupakan kombinasi morfin, pentobarbital dan kloral hidrat yang diresepkan oleh dokter, meminumnya pukul 6.45 petang. Betsy meninggal empat jam kemudian, didampingi oleh saudara perempuan, pengasuh, dokternya, dan terapis pijatnya.

“Apa yang Betsy lakukan, memberikan ia kematian yang paling indah seperti yang banyak orang inginkan” ujar sinematografer dari New York yang juga temannya, Niels Alpert.

Semua tamu yang diundang tersebut telah berjanji untuk berkumpul lagi tahun depan di hari ulang tahun Betsy di bulan Juni, untuk menyebarkan abunya.

Video Populer

Foto Populer