Sukses

4 Alasan Manusia Kerap Berperilaku Buruk

Liputan6.com, Jakarta Dibandingkan dengan makhluk lainnya, kita--sebagai manusia memiliki sejumlah perilaku yang kadang merusak diri sendiri dan orang-orang di sekitar. 

Ilmu pengetahuan sebenarnya telah memberikan banyak wawasan mengenai perilaku buruk tersebut. Dilansir dari livescience, Rabu (27/7/2016), berikut adalah alasan yang ditemukan oleh para peneliti:

1. Berbohong

Tidak ada yang tahu pasti mengapa kita suka berbohong, namun studi menemukan, hal ini terkait dengan harga diri.

"Kami menemukan, ketika seseorang merasa harga dirinya terancam, maka mereka akan mulai berbohong pada tingkat yang lebih tinggi,” kata psikolog di University of Massachusetts, Robert Fieldman.

Fieldman telah melakukan studi dan menemukan, 60 persen orang berbohong setidaknya sekali selama 10 menit percakapan. Namun sebuah studi tahun 2014 menemukan, kebohongan putih (white lie) untuk alasan yang tepat, akan memperkuat hubungan.

2. Mendambakan kekerasan

Sebuah studi tahun 2008 menyimpulkan, manusia tampaknya menginginkan kekerasan seperti halnya saat melakukan seks, makan, atau narkoba. Para peneliti percaya bahwa kekerasan pada manusia adalah kecenderungan yang membantu dalam kelangsungan hidup.

"Perilaku agresif telah berkembang untuk meningkatkan kelangsungan hidup individu atau reproduksi, dan ini tergantung pada keadaan lingkungan, sosial, reproduksi, dan sejarah spesifik spesies. Manusia memiliki peringkat tinggi sebagai spesies paling kejam dari spesies lainnya," kata ahli biologi David Carrier, di University of Utah.

3. Mencuri

Pencuri dapat termotivasi oleh kebutuhan, namun kleptomania mencuri akibat adanya sensasi menggairahkan ketika melakukannya. Satu penelitian dari 4300 orang menemukan, bahwa 11 persen mengakui telah mengutil setidaknya sekali.

4. Berpegang teguh pada kebiasaan buruk

Penelitian menemukan, walaupun kebiasaan buruk berbahaya bagi kesehatan, namun seringkali orang merasa sulit untuk berhenti melakukannya.

Hal ini bisa disebabkan karena pengaruh didikan orangtua, lingkungan sekitar, penerimaan sosial, ketidakmampuan bersosialisasi, individualistis dalam memahami dunia, dan kecenderungan genetik.

Selain itu, orang cenderung untuk membenarkan kebiasaan buruknya, seperti, “ini belum menyakiti saya”, atau, “nenek saya merokok sepanjang hidupnya dan bisa hidup sampai umur 90 tahun.”