Sukses

Intan Airlina, Dokter Cantik yang Hobi Menulis dan Mendesain Baju

Liputan6.com, Jakarta Wanita yang memiliki hobi menulis dan mendesain baju sendiri ini memilih menjadi seorang dokter lantaran sering menemani sang ayah praktik di akhir pekan. 

Umumnya akhir pekan yang dijadikan hari liburan bersama keluarga, tidak cukup dirasakan oleh dokter Intan Airlina Febiliawanti lantaran selalu menemani sang ayah ke rumah sakit untuk memeriksa para pasien.

Namun sepertinya hal tersebut yang akhirnya mengantarkan dokter keturunan Tionghoa-Kalimantan ini menuju puncak kariernya.

Wanita yang memiliki tubuh ramping ini memilih untuk menjadi seorang dokter karena melihat sang ayah yang tetap bekerja walau di akhir pekan. Ia pun melihat kerja keras sang ayah setiap kali menangani para pasien.

"Mungkin karena papa aku kali ya.. Aku lihat kerja keras papa, sampai Sabtu-Minggu tuh kadang-kadang masih kerja. Dulu aku sama adik-adikku ngerasa papa enggak ada waktu buat kita. Cuman akhirnya kita pikir-pikir kayaknya bantu-bantu orang kayak papa tuh ada kepuasan tersendiri. Dan dulu waktu kecil aku ngerasa jadi dokter tuh keren ya..." ucapnya sambil tertawa. 

1 dari 5 halaman

Spesialis Penyakit Dalam

Sebelum akhirnya memilih untuk menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam, terlintas dalam pikiran wanita kelahiran 27 Febuari 1984 ini untuk menjadi dokter kandungan. Tetapi risiko seorang dokter kandungan yang harus standby hingga 24 jam dan siap menangani operasi tidak cukup disanggupkan oleh Intan.

"Kalo ambil kandungan kayaknya capek deh. Kupikir kerjanya sampai 24 jam ya meskipun penyakit dalam juga 24 jam, sih.. Cuman kayaknya kalo disuruh datang operasi segala macam, aku takut kecapaian dan aku takut ada human error ya. Jadi ya aku pilih penyakit dalam yang enggak sampe segitunya," jelasnya.

Menurutnya menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam memiliki keunggulan yang tidak bisa ditemukan di spesialis lainnya. Dari pandangan Intan, pekerjaan dokter penyakit dalam bagaikan seorang detektif yang bisa menemukan, menebak, meneliti, hingga menyelesaikan sebuah penyakit sendiri.

Bukan hanya Intan yang akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang dokter, bahkan adik bungsunya pun baru saja menyelesaikan studi kedokteran di negara Tirai Bambu (China) yang juga mengambil spesialis dalam khususnya pada pencernaan.

Profesi dokter yang dianggap mulia dan keren bukan berarti terhindar dari kesulitan. Setiap ada suka tentunya ada duka di dalamnya--seperti yang dialami Intan saat mengambil spesialis di Universitas Indonesia.

"Waktu terberat selama menjadi dokter pas dulu lagi koas atau spesialisasi tuh jaga malam--aku sampai pernah ketiduran di depan rumah karena dulu aku nyetir sendiri. Nah, sampe depan rumah tuh aku tidur hampir 20 menit ketiduran di depan rumah," kata dokter yang berpraktik di RS Mitra Keluarga Kalideres ini.

 

2 dari 5 halaman

Tak bisa putus traveling

Tak bisa putus traveling

Traveling menurut Intan bukan hanya sebagai pengisi energi dan kesenangan semata, melainkan menambah pengetahuan tentang tradisi dan budaya dari berbagai negara.

Setiap berkunjung ke negara pilihannya, Intan selalu mencari makanan khas hingga keterampilan tradisional dari negara tersebut. Seperti Jepang, negara yang baru saja dikunjungi olehnya memberikan kesan yang membuatnya ingin kembali mengunjungi negara Sakura itu.

"Aku suka marketnya, kayak di Jepang kemaren tuh pasar ikannya bersih banget. Aku sampai makan sushi di situ, langsung dipotongin d isitu. Terus snack-snack itu ya murah-murah di sana satu kotak Mochi di sana tuh cuma 30 ribu bahkan lebih mahal pia punya Indonesia," ujarnya.

Selain Jepang negara yang sudah berhasil ia jajaki hingga kini ialah Amerika, Thailand, juga Korea. Wanita yang lahir di kota pahlawan ini pun mengaku lebih sering traveling bersama sanak saudara karena merasa lebih nyaman dan menyenangkan.

Walaupun senang berlama-lama di negara orang tetapi dokter berparas cantik ini tak tertarik untuk hijrah ke luar negeri karena sudah merasa nyaman menjadi warga negara Indonesia. Terlebih belajar bahasa asing seperti bahasa Jepang tak mudah baginya.

3 dari 5 halaman

Hobi menulis hingga desain baju

Hobi menulis hingga desain baju

Saat lulus dokter umum dan menunggu waktu melanjutkan spesialisasi penyakit dalam, banyak waktu luang yang Intan miliki. Dia pun memilih untuk menyalurkan hobi menulisnya untuk mengisi waktu kosong tersebut.

"Dulu pas lagi nganggur aku sukanya nulis. Nulis artikel kesehatan lah, nulis buat review sebuah produk hingga tulisan sosial," ungkapnya.

Berawal dari hobi membacanya di perpustakaan sekolah membuat dirinya tertarik untuk membuat buku sendiri. Singkat cerita ia mulai menulis beberapa karya fiksi saat di bangku SMP. Dan, tak tanggung-tanggung hasil karyanya pun dijual kepada teman-teman sekelasnya seharga 200 rupiah.

Tak berhenti disitu, saat menjalani studi kedokteran di Universitas Tarumanagara, Intan pun sempat menjadi editor majalah kesehatan di kampusnya. Sebelum mengambil spesialisasi di tahun 2009 Intan sempat iseng-iseng melamar sebagai penulis artikel kesehatan di laman Kompas.

"Aku iseng aja ngelamar, karena kupikir mau kerja yang bisa dari rumah deh yang bisa aku kerjain kapan aja. Inget banget tuh pas pertama kali tulisan aku diedit dan berita aku dimuat rasanya senang banget," katanya.

Passion di bidang menulis hingga kini masih terus berjalan. Bahkan ia baru saja berkolaborasi dengan salah satu kerabatnya asal Singapura untuk membuat sebuah buku bertema self health.

"Jadi aku di situ sebagai co-writer. Jadi isinya ya kayak time management. Ya, pada akhirnya sih diterbitinnya di luar enggak ada disini," jelas dokter yang senang dengan mode Korea dan Jepang ini.

Kesukaannya terhadap negara Jepang bahkan membuat dirinya mencintai fashion Jepang juga Korea, bukan hanya itu kemampuan mengambarnya pun terkadang menghasilkan sebuah karya baju ala dokter Intan.

"Kayak baju yang aku pake ini nih tadinya ga ada brokat-brokatnya. Nah, ini aku tambahin sendiri. Nah, ibuku juga kan pinter jahit jadi kadang aku suka kasih desain aku sendiri. Kebanyakan sih gaun-gaun gitu, nanti aku dijahitin sama mami," ujarnya.

4 dari 5 halaman

Sampaikan breaking bad news, hal terberat

Sampaikan breaking bad news, hal terberat

Selama berkecimpung di dunia kedokteran, Intan mengaku hal terberat yang dialaminya adalah menyampaikan kabar buruk perihal kondisi pasien kepada keluarga.

"Terutama kalau kita udah berusaha maksimal tapi tetap saja pasien enggak bisa terselamatkan. Biasanya pasien-pasien yang begitu datang ke sayanya pas udah kondisi parah," ujarnya.

Kadang kala usaha keras tak selamanya membuahkan kabar baik--dan kondisi ini memaksa Intan untuk sekuat mungkin untuk menyampaikan breaking bad news kepada keluarga pasien.

Bahkan beberapa keluarga pasien yang tidak kuat menerima kenyataan kondisi pasien, sering kali jatuh pingsan di tempat. 

"Kalau mau mengatakan sama keluarganya bahwa kita sudah maksimal. Aduh itu gimana ya rasanya tuh berat banget. Ya kadang kala kita harus sampaikan secara halus kan..." tuturnya.

Satu kali Intan pernah merasa jatuh bahkan hingga meneteskan air mata karena tak dapat menyelamatkan seorang pasien muda yang sakit akibat infeksi parah.

"Aku sampe nangis, karena aku ngerasa udah maksimal tapi ya gimana dong--enggak bisa. Beberapa dari mereka tak bisa diselamatkan karena pendarahan besar," ujarnya.

Intan selalu memberikan kemungkinan baik dan buruk kepada keluarga pasien. Menurutnya menyampaikan breaking bad news harus perlahan dan tenang.

"Saya selalu kasih tau, kalau pun masuk ICU kemungkinan kehidupan itu belum tentu 100 persen akan balik. Mungkin hanya 50 persen atau mungkin tidak akan membuka mata lagi. Karena masuk ICU bukan penolong segalanya," tutupnya.