Sukses

Mengapa Anak Melakukan Tindak Kekerasan?

Liputan6.com, Jakarta Beberapa waktu terakhir, banyak orang terhenyak oleh berbagai tindak kriminal berupa perkosaan yang disertai dengan penganiayaan bahkan pembunuhan. Yang lebih mengejutkan, beberapa pelaku tidak kekerasan itu masih berusia belasan tahun dan secara hukum masih dalam kategori anak. Tindakan yang dilakukan termasuk dalam tindakan yang sangat keji karena dilakukan dengan penyiksaan bahkan dilakukan secara berkelompok.

Keterkejutan banyak orang tidak lepas dari persepsi mengenai sosok anak. Banyak orang dewasa saat ini yang mengenang dunia anak sebagai dunia yang penuh dengan keceriaan dan selalu positif dalam memandang dunia. Oleh karenanya, bagi orang dewasa saat ini, anak umumnya akan digambarkan sebagai sosok yang masih lugu dan jauh dari kemungkinan melakukan kejahatan. Nyatanya apa yang dibayangkan selama ini banyak berbeda dari realitanya.

Meningkatnya tindakan kriminal yang dilakukan oleh individu yang berusia anak-anak membuyarkan bayangan indah mengenai dunia anak. Mengapa terjadi jurang perbedaan mengenai apa yang dibayangkan mengenai dunia anak dengan apa yang ditemukan dalam kehidupan anak sehari-hari?

Anak adalah individu yang sedang berkembang. Dibandingkan dengan individu lainnya, perkembangan anak tergolong lebih pesat. Rasa ingin tahu yang didukung dengan kemampuan eksplorasi yang tinggi merupakan perlengkapan ampuh yang dimiliki anak saat menjelajah dunia sekitarnya. Dalam proses inilah, anak kemudian akan mempelajari berbagai hal dari dunia di sekitar tempat tinggalnya. Karena masih terbatasnya kemampuan melakukan analisis, cara belajar anak banyak yang dilakukan dengan cara meniru.

Perilaku meniru akan lebih kuat terjadi saat suatu perilaku dilakukan oleh orang-orang penting di sekitarnya. Pada anak kecil, orang penting dalam hidup mereka adalah orangtua dan orang-orang lain yang mengasuhnya; sedangkan pada anak remaja, orang-orang penting dalam hidup mereka adalah teman sebaya. Selain itu, pada zaman sekarang, ketika teknologi menguasai hidup banyak orang di muka bumi ini, sosok penting yang banyak menjadi rujukan dalam perilaku meniru tersebar di berbagai tayangan dan game di televisi, gadget, dan media lainnya. 

Dengan keterbatasan kemampuan menganalisis, dapat dipahami jika anak kemudian kurang mampu memilah dan menyeleksi hal-hal yang patut ditiru atau tidak. Tayangan yang tidak sehat, perilaku teman sebaya yang tidak layak, bahkan juga, tragisnya, perilaku orangtua yang tidak pantas, dengan gampangnya ditiru dan terinternalisasi dalam kehidupan anak. Jika mau jujur, tidak sulit sebenarnya untuk menemukan akar perilaku kekerasan yang begitu keji dilakukan anak-anak zaman sekarang khususnya mereka yang sedang merambah di usia remaja.

1 dari 2 halaman

Mengapa tega

Mengapa tega

Orang sering bingung mengapa anak-anak tersebut begitu teganya melakukan kekerasan seakan perilaku itu merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Agaknya tidak berlebihan jika kemudian dikatakan bahwa anak-anak tersebut telah menginternalisasi apa yang mereka saksikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tayangan kekerasan bahkan yang beraroma seksual banyak mereka temukan dalam berbagai media elektronik dan digital setiap hari di zaman ini. Hal yang sama pun seringkali dilakukan juga oleh orang-orang dewasa di sekitarnya bahkan ada yang telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari di rumah-rumah di mana mereka tinggal.

Selain itu, di area pendidikan yang semestinya merupakan area untuk membentuk anak menjadi manusia sempurna, terjadi ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan ini sangat jelas terjadi mulai pada pendidikan usia dini. Pendidikan usia dini yang semestinya menekankan pembentukan kemampuan anak untuk tumbuh menjadi pribadi dalam semua aspek (sosial, psikologis, dan kognitif) seringkali dipersempit hanya pada pembentukan kemampuan kognitif anak. Banyaknya target dalam area kognitif yang harus dicapai anak ternyata telah menghabiskan waktu dan tenaga anak sehingga anak tidak lagi mampu dan bahkan diberi kesempatan untuk mengolah area perkembangan lainnya.

Akibatnya banyak anak yang terbentuk menjadi anak yang miskin dalam kemampuan sosial dan dalam perkembangan psikologisnya. Maka tidak mengherankan saat anak-anak itu tumbuh menjadi anak yang mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan keinginan diri serta menjadi sosok yang gagal berempati terhadap penderitaan orang lain bahkan tragisnya justru memperoleh kesenangan lewat penderitaan orang lain.

Jika demikian masyarakat semestinya tidak terlalu gagap melihat banyaknya perilaku kekerasan di antaranya kekerasan seksual yang dilakukan anak-anak remaja pada saat ini. Saat anak-anak dibombardir berbagai tayangan dan contoh perilaku negatif namun minim diberi pendampingan mengenai bagaimana mereka harus memilah apa yang pantas dan apa yang tidak pantas untuk mereka lakukan, sangat dipahami jika kemudian muncul berbagai perilaku kekerasan oleh anak. Jika masyarakat merasa marah dan jijik dengan anak-anak tersebut, mereka juga perlu melihat apa yang sudah mereka lakukan untuk memberikan waktu dan menemani anak-anak itu ketika mereka tumbuh hari demi hari.

Apakah orangtua rela melepaskan smartphone mereka di saat anak-anak membutuhkan waktu untuk ditemani? Apakah orangtua juga dapat menjaga perilaku sehari-hari misalnya dengan tidak justru menjadi perilaku kekerasan di rumah tangga? Mungkin dunia anak sudah tidak seindah yang dibayangkan salah satunya karena orang dewasa sendiri telah merampas dunia indah yang diperuntukkan bagi anak dan menggantinya dengan dunia yang mengedepankan persaingan, kekerasan, dan pelecehan? Semoga kita semua mau berintrospeksi.

Y. Heri Widodo, M.Psi., Psikolog

Dosen Universitas Sanata Dharma dan Pemilik Taman Penitipan Anak Kerang Mutiara Yogyakarta