Sukses

[Seri Kehamilan] Waspadai Risiko Diabetes Gestasional Saat Hamil

Liputan6.com, Jakarta Kebanyakan perempuan hamil memproduksi lebih banyak insulin untuk mengompensasi dan menjaga tingkat gula darah berada dalam keadaan normal. Namun, tidak sedikit dari perempuan hamil yang tidak mampu menghasilkan cukup insulin sehingga rentan mengidap diabetes gestasional.

Diabetes gestasional berkembang selama kehamilan pada perempuan yang fungsi pankreasnya tidak cukup mengatasi resistensi insulin. Hal ini kemudian bisa menyebabkan gula darah ibu hamil menjadi lebih tinggi dari normal.

"Diabetes gestasional terjadi pada perempuan hamil. Tapi setelah melahirkan umumnya kembali normal dan ada juga yang menetap," kata Dr. Rino Bonti, SpOG dari Rumah Sakit Hermina Jatinegara menjelaskan saat dihubungi Health Liputan6.com pada Rabu (18/5/2016).

Kondisi semacam ini umumnya belum tentu memiliki gejala. Bonti merekomendasikan agar perempuan hamil melakukan pemeriksaan laboratorium supaya cepat mengetahui apakah rentan mengalami diabetes gestasional atau tidak.

"Di minggu ke-24 sampai ke-28 harus melakukan dua kali pemeriksaan gula darah. Gula darah puasa dan gula darah setelah dua jam minum glukosa 75 gram," kata dia menambahkan.

Minuman glukosa yang mengandung 75 gram glukosa biasanya dalam bentuk minuman jeruk atau cola yang diformulasikan khusus.

Waktu yang tepat untuk melakukan tes

Pengujian untuk diabetes gestasional biasanya dilakukan di minggu ke-24 dan minggu ke-28 kehamilan. Namun, pengujian dapat dilakukan di awal kehamilan jika perempuan hamil memiliki faktor risiko diabetes gestasional, seperti dikutip dari situs kedokteran UpToDate:

  • Obesitas
  • Glukosa berlebih (gula) dalam urine
  • Riwayat keluarga yang kuat dari diabetes

Cakupan komplikasi diabetes gestasional

  1. Memiliki bayi dengan berat lebih dari 4,1 kg, yang dapat meningkatkan risiko cedera pada ibu atau bayi saat melahirkan dan meningkatkan kemungkinan jalani operasi caesar.
  2. Bayi meninggal sebelum lahir. Komplikasi yang untungnya jarang terjadi perempuan dengan diabetes gestasional karena kontrol yang baik dari gula garah dan memantau kehamilan
  3. Neonatal hipoglikemia (gula darah rendah pada masa neonatus)
  4. Preeklampsia

Pengobatan diabetes gestasional

Perempuan hamil yang positif mengidap diabetes gestasional harus mengubah pola makan sehari-hari dan belajar memeriksa tingkat gula darah setiap hari. Bahkan, perlu juga belajar bagaimana memberikan suntikan insulin ke diri sendiri.

Ada pun tujuan dari pengobatan diabetes gestasional untuk mengurangi risiko komplikasi, satu yang paling penting bayi lahir terlalu besar.

Calon ibu harus tahu, bila ukuran bayi terlalu besar sulit untuk keluar melalui panggul. Jika persalinan pervaginam (persalinan normal) tetap dilakukan, meningkatkan risiko patah tulang atau cedera saraf.

1. Perhatikan rencana makan. Makan tidak boleh sembarangan dan harus dipastikan benar dan juga sehat. Disarankan melakukan konsultasi dengan ahli gizi atau perawat.

Berikut pola makan yang dapat ditiru:

  • Makan tiga kali berukuran kecil dan tiga hingga empat makanan ringan yang sehat
  • Makan setiap dua sampai tiga jam
  • Tidur sebentar sangat perlu
  • Hindari menyantap makanan penutup terlalu manis, juga minuman tinggi gula dan soda.
  • Pemanis dapat diganti dengan aspartam, sucralose, stevioside, atau kalium asesulfam
  • Protein tanpa lemak
  • Hindari jus buah. Lebih baik menyantap buah dalam batasan yang wajar
  • Susu skim dan yogurt rendah lemak.

2. Meski latihan bukan bagian penting dari pengobatan diabetes gestasional, tapi olahraga ringan membantu mengontrol kadar gula darah. Tanyakan jenis olahraga apa saja yang dianjurkan untuk perempuan hamil dengan diabetes gestasional.

3. Sekitar 15 persen perempuan hamil dengan diabetes gestasional butuh insulin. Insulin adalah obat yang membantu mengurangi kadar gula darah dan dapat mengurangi risiko komplikasi diabetes gestasional.

Karena pengobatan melalui oral tidak begitu efektif, lebih baik memberikan insulin melalui suntikan.

 

Artikel Selanjutnya
Amankah Bercinta Selama Trisemester Pertama Kehamilan?
Artikel Selanjutnya
Ibu Hamil Sebaiknya Hindari Antibiotik, Kenapa?