Sukses

Efek Pecundang Dalam Psikologi dan Keruntuhan ISIS

Liputan6.com, New York - Setelah diberitakan sebagai kelompok yang digdaya selama sekitar setahun belakangan, sekarang ini ISIS terlihat seperti seorang petinju yang terhuyung-huyung dipukuli dari kiri dan kanan.

Jika ISIS terus mundur, mereka bisa mengalami “efek pecundang”, yaitu ketika suatu kegagalan kemudian menyebabkan pusaran menuju dasar jurang. Mengalami kekalahan memang bisa sangat menggoyahkan.

Misalnya, dalam dunia satwa, ketika hewan-hewan percobaan psikologi berulangkali gagal untuk menyelesaikan suatu tugas, maka mereka mengalami hal yang dikenal sebagai “ketidakberdayaan yang dipelajari” sehingga hewan-hewan itu gagal mengambil kesempatan bahkan ketika kesempatan itu datang. 

Dikutip dari The Atlantic pada Jumat (29/4/2016), kesalahan berulang juga dapat meruntuhkan kepercayaan diri seseorang dan membuat mereka merasa tidak berdaya. Bukan hanya itu, para penonton di luar kemudian dapat memandang orang atau kelompok gagal seakan-akan beracun.

Ketika kita melihat seseorang secara negatif dalam suatu hal, kita kerap melihatnya juga negatif dalam hal-hal lain yang tidak ada hubungannya. Ini dikenal sebagai “efek halo terbalik”.

Secara khusus, ISIS rentan mengalami efek pecundang karena mengaku-ngaku mengemban tugas ilahi. Kelompok nasionalis seperti YPG Kurdi di Suriah mewakili manusia sesungguhnya. Jika YPG dipaksa mundur, dan tanah airnya terancam, seruan perlawanan oleh mereka mungkin malah lebih dianggap.

Ketika hewan-hewan percobaan psikologi berulangkali gagal untuk menyelesaikan suatu tugas, maka mereka mengalami hal yang dikenal sebagai “ketidakberdayaan yang dipelajari

Namun demikian, daya tarik ISIS bergantung kepada otoritas klaim religiusnya. Kekalahan malah dapat mengundang pertanyaan tentang identitas ISIS secara keseluruhan,yang kemudian memicu krisis kepercayaan diri. Misalnya, mengapa orang-orang pilihan Tuhan bisa dikalahkan oleh kaum kafir?

Kekalahan beruntun dapat menyebabkan ISIS runtuh jauh lebih dini daripada yang diduga orang. Sekte-sekte kiamat bangkit dengan pesat dan mendadak lenyap. Branch Davidian, Order of the Solar Temple, dan Aum Shinrikyo, semuanya bersinar terang dan kemudian redup.

ISIS jauh lebih besar daripada semua ini, sehingga kehancurannya bisa juga lebih pesat. Jika populasi Sunni di Suriah dan Irak terus memandang ISIS sebagai gerombolan penjahat pecundang, maka sekutu-sekutu ISIS akan meningalkannya dan bergabung dengan Jabhat al-Nusra, atau lompat pagar dan membelot ke pihak pemerintah. Habislah keberuntungan ISIS.

Serangan-serangan di Paris, Jakarta, Istanbul, dan Brussels ditengarai merupakan upaya ISIS untuk meredam efek pecundang. Ketika kalifa sedang meluas, tidak ada perlunya menyerang Eropa dan mengundang pembalasan yang malah dapat mengancam cengkeraman mereka di wilayah-wilayah yang digenggamnya sekarang.

Memukul musuh yang jauh di Barat dapat mengalihkan perhatian dari kegagalan menghadapi musuh-musuh di kampung halaman. Karenanya, ISIS berpaling kepada jejaring pejuang yang telah terlatih baik—diduga ada sekitar 400 orang di Eropa.

Sekarang ini ISIS berjuang bukan sekedar untuk menang, tapi juga untuk memberi arti baru kepada ‘kemenangan’ itu sendiri.

Artikel Selanjutnya
HEADLINE: Teror Charlottesville dan Neo-Nazi di Belakang Trump
Artikel Selanjutnya
Saat Anak Muda Pro-ISIS Menjelma Jadi Peretas di Dunia Maya