Sukses

Busa Cairan Kodok Ini Bisa Mengobati Luka Parah

Liputan6.com, Strathclyde - Ketika seekor kodok Tungara (Engystomops pustulosus) yang mungil mengeluarkan telur-telurnya, sang induk sekaligus membungkusnya dengan campuran protein yang dikocoknya menjadi busa dengan menggunakan kaki belakang.

Busa itu menyelimuti telur-telur dari pemangsa, kuman, dan gangguan lingkungan. Sekarang diketahui bahwa versi sintetis zat tersebut suatu hari nanti memiliki kegunaan lain, yaitu melumurkan obat pada luka serius pada kulit.

Tim dari University of Strathclyde di bawah pimpinan Dr. Paul Hoskisson telah mengungkapkan bahwa versi alamiah busa tersebut bukan hanya sangat stabil dan tahan lama, tapi bisa juga menyerap dan melepaskan zat obat-obatan.

Dalam serangkaian uji laboratorium, zat itu bisa melepaskan tinta secara terus menerus 72 hingga 168 jam lamanya. Lebih berguna lagi, zat itu bisa melepaskan antibiotik vancomycin selama 48 jam, sehingga bisa mencegah pertumbuhan bakteri patogen Staphylococcus aureus.

Penting untuk diketahui bahwa busa tak beracun (non-toxic) itu tidak membahayakan sel-sel kulit manusia, bahkan setelah paparan selama 24 jam. Demikianlah temuan yang dikutip dari Microbiology Society pada Selasa (5/4/2016).

Karena kurang praktisnya mendapatkan busa ini dari kodok, para peneliti sedang mencoba mencari cara membuatnya di laboratorium. Sejauh ini, mereka telah berhasil merekayasa agar bakteri E. coli menghasilkan dua protein utamanya.

Pada akhirnya, versi sintetis lengkapnya diharapkan dapat dipakai secara topikal (setempat) pada beberapa jenis luka—misalnya luka bakar parah—dengan melepaskan aliran antibiotik secara terus menerus.

“Busa-busa biasanya berusia singkat sehingga tidak dipertimbangkan untuk pelumuran obat dalam jangka panjang, walaupun busa itu baik bagi perawatan secara topikal,” kata peneliti Sarah Brozio.

Lanjutnya, “Busa ini berasal dari kodok mungil tapi memberikan cara pendekatan baru kepada kita sehingga bisa mencegah infeksi pada luka. Dengan semakin bertambahnya kekebalan terhadap antibiotik, penting untuk mengupayakan segala cara.”